Jumat, 8 Mei 2026

Istri Bupati Aceh Timur Raih Doktor, Tawarkan Model Meuseuraya-Integratif untuk Pengembangan PAUD

Ia berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Promosi Doktor di Lantai 3 Gedung Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Jumat (10/4/2026).

Tayang:
Editor: Yocerizal
for serambinews
RAIH GELAR DOKTOR - Lismawani (tengah) berfoto bersama tim penguji usai Sidang Promosi Doktor di Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Jumat (10/4/2026). Ia didampingi suaminya, Bupati Aceh Timur, setelah berhasil mempertahankan disertasi tentang penguatan PAUD bermutu melalui Model Meuseuraya-Integratif. 

Ringkasan Berita:
  • Ny. Lismawani, istri Bupati Aceh Timur, meraih gelar doktor setelah mempertahankan disertasi tentang kebijakan daerah mendukung PAUD bermutu di UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
  • Penelitian tersebut menghasilkan Model Meuseuraya-Integratif yang menggabungkan kolaborasi pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat berbasis kearifan lokal.
  • Ia merekomendasikan integrasi pelaporan guru serta regulasi penggunaan dana desa untuk pembiayaan PAUD guna pemerataan layanan.

 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Ny. Lismawani, istri Bupati Aceh Timur, resmi menyandang gelar doktor.

Ia berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Promosi Doktor di Lantai 3 Gedung Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Jumat (10/4/2026). 

Dalam sidang tersebut, Lismawani memaparkan penelitian berjudul "Implementasi Kebijakan Pemerintah Daerah dalam Mendukung Penyelenggaraan PAUD Bermutu (Penguatan Peran Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat)". 

Ia memperkenalkan Model Meuseuraya-Integratif sebagai temuan utama penelitiannya. 

Model ini merupakan pola kerja sama khas Aceh Timur yang mengkolaborasikan birokrasi pemerintah dengan nilai kearifan lokal gotong royong (meuseuraya), serta berpijak pada prinsip agama untuk menjaga keturunan (Hifz Al-Nasl). 

“Faktor pendukung utama penyelenggaraan PAUD bermutu di Aceh Timur adalah komitmen pejabat daerah dan peran aktif Bunda PAUD sebagai pemersatu,"

"Namun, kita tidak menutup mata bahwa hambatan seperti ego sektoral antar dinas, serta kendala infrastruktur internet di daerah pelosok masih menjadi tantangan nyata,” ujar Lismawani. 

Baca juga: Safrizal ZA Tegaskan Proses Pembersihan Lumpur Sisa Banjir Aceh Berjalan Intensif

Baca juga: Kontrak Rp10,8 Triliun Digelontorkan, 20.600 Truk Disiapkan untuk Koperasi Merah Putih

Sebagai solusi, Lismawani menyarankan agar pemerintah daerah menyatukan sistem pelaporan guru menjadi satu pintu yang terintegrasi. 

Ia juga mendorong adanya regulasi tegas yang mewajibkan penggunaan dana desa untuk pembiayaan PAUD guna menjamin keadilan pelayanan bagi seluruh anak di Aceh Timur. 

Suasana Haru Warnai Sidang

Suasana sidang sempat diwarnai haru saat promovenda menyampaikan pidato penutup. Di hadapan para guru besar, ia mengungkapkan sisi kemanusiaannya sebagai seorang ibu dan istri.

“Berdiri di podium ini, di depan para Guru Besar yang luar biasa, sejujurnya saya merasa sangat kecil. Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa,"

"Di saat rekan sejawat menempuh jalur S3 dengan sokongan jabatan struktural, saya melangkah dengan segala keterbatasan peran di rumah,” ungkapnya dengan nada bergetar. 

Ia menambahkan bahwa motivasinya meraih gelar akademik tertinggi bukan demi prestise, melainkan dedikasi untuk kemajuan pendidikan anak usia dini di daerahnya. 

Baca juga: Jembatan Kutablang Bireuen Akan Sering Ditutup, Kerap Rusak Dilindas Truk Berat

Baca juga: Nyak Dhien Gajah: Pokir Bukan Hak Dewan, Tapi Aspirasi Rakyat

Tim Penguji dan Undangan

Sidang promosi doktor tersebut dipimpin tim penguji lintas disiplin.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved