Senin, 13 April 2026

Opini

Terima Kasih Iran

Gaza yang tak ubahnya seperti penjara terbesar di dunia tidak lagi sekadar wilayah konflik, tetapi telah menjelma menjadi simbol penderitaan kolektif

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/HO
Dr. H. Teuku Zulkhairi, MA, dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh 

Oleh: Dr. H. Teuku Zulkhairi, MA, dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

UCAPAN “Terimakasih Iran” sebagaimana di judul tulisan ini lahir bukanlah dari fanatisme sama sekali, apalagi berkaitan dengan aliran kepercayaan. Tetapi dari kejujuran, dari luka yang terlalu lama dipendam.

Bagaimana tidak terluka, bahkan seluruh dunia menyaksikan bagaimana Israel, dengan dukungan totalitas dari Amerika Serikat, membumihanguskan Gaza tanpa henti.

Rumah sakit dihancurkan, sekolah diratakan, masjid dibombardir, dan anak-anak dikuburkan di bawah reruntuhan dengan bom canggih. Bantuan kemanusiaan dihambat, akses ditutup, dan kelaparan dijadikan senjata. 

Gaza yang tak ubahnya seperti penjara terbesar di dunia tidak lagi sekadar wilayah konflik, tetapi telah menjelma menjadi simbol penderitaan kolektif umat, berbagai jenis penderitaan begitu kompleks terjadi di dalamnya. Dan semua itu terjadi di depan mata dunia.

Penjajahan Israel terhadap Palestina telah berlangsung puluhan tahun dengan dukungan besar dari Barat dan para tiran/penguasa Arab yang bekerja sebagai budak bagi Israel. Israel juga menyerang berbagai negara lainnya di kawasan, Suriah, Lebanon, Yaman dan mendukung semua tiran Arab untuk menyiksa dan memerangi warganya sendiri. 

Seolah-olah ada satu hukum yang berlaku: Israel boleh menyerang siapa saja dan bisa melakukan apa saja, tetapi tidak boleh disentuh. Maka hari ini, anggapan itu runtuh.

Ketika Iran membalas dengan menyerang kota-kota Israel dan pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan Teluk, dunia melihat sesuatu yang lama hilang: bahwa kezaliman bisa dibalas dengan lebih perih, dan bahwa pelaku kejahatan bisa dihukum.

Bagi warga Gaza dan umat Islam umumnya, serta bagi siapa pun yang memiliki nurani, ini bukan sekadar serangan balasan Iran, ini adalah pengobat hati yang luka.

Sebab, yang lebih menyakitkan bukan hanya kezaliman itu sendiri, tetapi sikap dunia Islam yang tidak bisa berbuat apapun menghentikan Genosida Israel di Gaza.

Bahkan celakanya, sejumlah negara Arab justru mendukung Israel membumihanguskan Gaza. Padahal, Al-Qur’an telah lama menggugah kesadaran umat dengan seruan yang sangat tegas: mengapa kalian tidak bangkit membela orang-orang yang tertindas, laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang memohon pertolongan kepada Allah agar dibebaskan dari kezaliman? Seruan ini bukan sekadar ajakan fisik, tetapi panggilan iman agar kaum beriman tidak menjadi penonton atas penderitaan saudaranya sendiri.

Namun realitas hari ini menunjukkan ironi yang dalam. Banyak negeri Muslim justru memilih diam, bahkan sebagian terjebak dalam konfigurasi politik global yang secara tidak langsung menopang kekuatan penindas, Israel dan Amerika Serikat.

Pangkalan militer asing berdiri kokoh di wilayah Teluk yang notabenenya negeri-negeri Islam, tetapi bukan untuk melindungi umat, melainkan untuk menjaga kepentingan Israel. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan yang jujur menjadi tak terhindarkan: di manakah posisi moral dunia Islam hari ini?

Baca juga: AS Mulai Blokade Iran Hari Ini, Gencatan Senjata Gagal Total?

Dalam lanskap geopolitik yang semakin kompleks, perang Iran vs Israel dan Amerika bukan lagi sekadar konflik regional, tetapi telah berkembang menjadi pertarungan yang memengaruhi tatanan global.

Di tengah pusaran itu, sikap negara-negara Muslim memperlihatkan spektrum yang luas: ada yang memilih diam, ada yang bersikap hati-hati, dan ada pula yang mendukung Israel dengan memfasilitasi pangkalan militernya bagi Amerika Serikat untuk menyerang Iran

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved