Breaking News
Sabtu, 18 April 2026

Subulussalam

Dari Bertahan Hidup ke Mandiri, Kisah Mualaf di Perbatasan Aceh

Di Desa Buloh Duri, Kecamatan Simpang Kiri, Subulussalam, Teringat Zega dulunya hanya bisa menjalankan usaha seadanya.

Penulis: Dede Rosadi | Editor: Nur Nihayati
Serambinews.com/serambinews
FOTO BERSAMA - Foto bersama mualaf penerima bantuan melalui program Pendampingan Pemberdayaan Ekonomi Muallaf yang dijalankan oleh Baitul Mal Aceh bersama Forum Dakwah Perbatasan (FDP). 

Bantuan modal yang ia terima membuka peluang baru. Ia mulai membeli bahan lebih banyak, menerima lebih banyak pesanan, dan mengembangkan usahanya.

Kini, pendapatannya meningkat menjadi Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari.

“Sekarang sudah bisa beli bahan lebih banyak, pesanan juga mulai bertambah.”

Perlahan, dari rumah sederhana, ia membangun harapan baru lewat setiap jahitan.

Program ini menjangkau empat muallaf binaan di wilayah perbatasan Aceh, Kota Subulussalam dan Aceh Singkil

Mereka sebelumnya telah memiliki usaha, namun tidak berkembang karena keterbatasan modal.

Dengan pendampingan dan bantuan ekonomi, mereka kini memiliki kapasitas lebih besar untuk menjalankan usaha. 

Modal bertambah, usaha berkembang, dan pendapatan meningkat secara nyata.

Namun lebih dari itu, perubahan terbesar terlihat pada cara mereka memandang hidup.

Dari yang sebelumnya hanya bertahan, kini mereka mulai percaya bahwa usaha kecil pun bisa menjadi jalan untuk mandiri.

Dari kios kecil, lapak sederhana, hingga mesin jahit di rumah, para muallaf ini membuktikan bahwa perubahan tidak selalu datang dari langkah besar, tetapi dari kesempatan yang tepat, pada waktu yang tepat.

Di wilayah perbatasan yang jauh dari hiruk-pikuk kota, harapan itu kini tidak lagi sekadar angan.
Ia tumbuh, nyata, dan terus menguat, pelan, tapi pasti. (*)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved