Subulussalam
Dari Bertahan Hidup ke Mandiri, Kisah Mualaf di Perbatasan Aceh
Di Desa Buloh Duri, Kecamatan Simpang Kiri, Subulussalam, Teringat Zega dulunya hanya bisa menjalankan usaha seadanya.
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Nur Nihayati
Ringkasan Berita:
- Sejumlah muallaf di wilayah Kota Subulussalam dan Aceh Singkil mulai bangkit, menata ulang kehidupan mereka melalui usaha kecil yang kini tumbuh dan memberi harapan baru.
- Perubahan ini hadir melalui program Pendampingan Pemberdayaan Ekonomi Muallaf yang dijalankan oleh Baitul Mal Aceh bersama Forum Dakwah Perbatasan (FDP).
- Di Desa Buloh Duri, Kecamatan Simpang Kiri, Subulussalam, Teringat Zega dulunya hanya bisa menjalankan usaha seadanya.
SERAMBINEWS.COM - Di sebuah kios sederhana di wilayah perbatasan Aceh, aroma gorengan hangat menguar, mengundang pembeli yang datang silih berganti.
Tangan yang dulu ragu kini sigap melayani, wajah yang dulu cemas kini mulai tenang.
Di balik kesibukan itu, tersimpan kisah perjuangan seorang muallaf yang pernah berada di titik paling sederhana: bertahan hidup dari penghasilan seadanya.
Kini, perlahan hidupnya berubah. Perubahan itu tidak hanya dirasakan oleh satu orang.
Sejumlah muallaf di wilayah Kota Subulussalam dan Aceh Singkil mulai bangkit, menata ulang kehidupan mereka melalui usaha kecil yang kini tumbuh dan memberi harapan baru.
Perubahan ini hadir melalui program Pendampingan Pemberdayaan Ekonomi Muallaf yang dijalankan oleh Baitul Mal Aceh bersama Forum Dakwah Perbatasan (FDP).
Program ini menyasar muallaf binaan yang telah memiliki usaha, namun terhambat oleh keterbatasan modal sehingga penghasilannya belum mampu mencukupi kebutuhan harian.
Di Desa Buloh Duri, Kecamatan Simpang Kiri, Subulussalam, Teringat Zega dulunya hanya bisa menjalankan usaha seadanya.
Kios kecil berisi gorengan dan jajanan itu menjadi satu-satunya sumber penghidupan, dengan penghasilan Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari.
Jumlah yang cukup untuk bertahan, tetapi tidak memberi ruang untuk berkembang.
“Dulu cukup untuk makan saja, tapi tidak bisa berkembang. Sekarang alhamdulillah, dagangan sudah banyak, pembeli juga makin ramai.”
Bantuan modal yang ia terima menjadi titik balik. Ia mulai menambah variasi dagangan, memperbanyak produksi, dan menarik lebih banyak pelanggan.
Kini, pendapatannya melonjak menjadi Rp500.000 hingga Rp700.000 per hari.
| Waspada! Jalan Licin dan Pohon Tumbang, Kota Subulussalam Diguyur Hujan |
|
|---|
| 400 Anak Petani Aceh Ditargetkan Terima Beasiswa SDM Sawit, Apkasindo Buka Bimbel |
|
|---|
| BPN Aceh Diminta Respon Konflik Agraria di Kota Subulussalam |
|
|---|
| Ini Harga TBS Sawit Sampai 10 Maret 2026, Apkasindo Aceh Minta Indeks K Dikoreksi |
|
|---|
| Sedia Payung, Tiga Kecamatan di Kota Subulussalam Hujan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/mualaf-1704.jpg)