Sabtu, 18 April 2026

Berita Aceh Timur

Pundak Baja Junaidi dan Sisa Wangi Nilam Pante Kera

Dari kejayaannya yang melimpah, kini yang tersisa hanyalah tiga jeriken minyak nilam satu-satunya harta yang sempat ia selamatkan dari amukan air

Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/MAULIDI ALFATA
Zulkifli petani Desa Pante Kera, Kabupaten Aceh Timur, memperlihatkan sisa seikat nilam yang berhasil selamat dari banjir, usaha penyulingan minyak nilam Zulkifli dan lahannya rusak parah setelah banjir bandang akhir tahun 2025. 
Ringkasan Berita:Banjir bandang 2025 mengubah hidup Junaidi, dari petani dan penyuling nilam yang mapan menjadi buruh angkut semen demi bertahan hidup di hunian sementara.
 
Lahan, rumah, dan usaha penyulingannya hancur, menyisakan sedikit minyak nilam sebagai simbol masa kejayaan dan harapan untuk bangkit kembali.
 
Ia berharap pemerintah membantu pemulihan lahan agar petani tidak berjuang sendiri memulihkan ekonomi pascabencana.

 

Suara mesin becak motor itu meraung, memecah kesunyian jalanan Kampung Pante Kera yang berdebu. Di atasnya, Junaidi (51) tampak bersitegang dengan stang kemudi. 

Otot lengan pria berbadan besar ini mengeras, berusaha menjaga keseimbangan beban semen yang diangkutnya saat menaklukkan tanjakan terjal menuju lokasi Hunian Sementara (Huntara).

“Hati-hati, Pak Cik!” teriak seorang warga yang melintas. 

Junaidi hanya sempat mengangguk tipis. Fokusnya tunggal sampai ke puncak tanpa membuat mesin becaknya mati di tengah jalan.

Setelah semen diturunkan satu demi satu, Junaidi memacu becaknya pulang. Di depan sebuah rumah darurat yang ia bangun sendiri dari sisa-sisa kayu pascabanjir bandang, ia akhirnya melepas penat. 

PETANI NILAM - Junaidi petani nilam, yang menjadi korban bencana banjir, memperlihatkan tiga jeriken minyak nilam yang berhasil ia selamatkan dalam banjir, sementara katel dan lahan nilamnya rusak diterjang banjir di Aceh Timur, Sabtu (11/4/2026).
PETANI NILAM - Junaidi petani nilam, yang menjadi korban bencana banjir, memperlihatkan tiga jeriken minyak nilam yang berhasil ia selamatkan dalam banjir, sementara katel dan lahan nilamnya rusak diterjang banjir di Aceh Timur, Sabtu (11/4/2026). (Serambinews.com/Maulidi Alfata)

Topi kerja yang kusam beralih fungsi menjadi kipas manual, ia mencoba mengusir gerah saat matahari tepat berada di ubun-ubun.

“Cukup untuk kebutuhan pokok dua hari ini. Alhamdulillah,” ucapnya lirih saat ditanya soal hasil kerjanya hari itu. Tiga track angkutan semen sudah ia selesaikan sejak fajar menyingsing.

Pante Kera mengenal Junaidi bukan sebagai buruh angkut. Dulu, ia adalah simbol kemandirian ekonomi desa.

Bayangkan saja, ia mengelola sepuluh rante sekitar 4.000 meter lahan nilam yang subur. Belum lagi ribuan meter kebun pinang dan durian yang secara rutin mengisi pundi-pundinya.

Junaidi bukan sekadar petani, ia adalah pengusaha penyulingan. Dengan modal Rp20 juta, ia membangun katel (mesin penyulingan). 

Baca juga: Pemulihan Ekonomi dan Tantangan Pekerjaan Korban Banjir Aceh Timur Pascabencana

Saat musim panen tiba, aroma wangi minyak nilam yang khas akan menyerbak dari rumahnya. 

Ia membeli hasil panen petani lain, menyulingnya, dan menjual minyak tersebut dengan harga mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta per kilogram saat pasar sedang bergairah. 

Namun saat pasar sedang turun harga minyak nilam juga sempat anjlok di harga Rp. 800.000 per kilogram.

“Nilam itu emas hijau kami,” kenang Junaidi. Matanya menerawang, mengingat proses panjang menjemur, mencincang, hingga menunggu tetes demi tetes minyak keluar dari katel selama seharian penuh.

Namun, air bah tidak memilih korban. Banjir bandang yang menghantam Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, pada akhir November2025 lalu menyapu bersih segalanya. 

Rumahnya hancur, mesin katelnya mati, dan lahan nilamnya kini terkubur lumpur serta material kayu. 

Dari kejayaannya yang melimpah, kini yang tersisa hanyalah tiga jeriken minyak nilam satu-satunya harta yang sempat ia selamatkan dari amukan air.

Bertahan hidup setelah banjir

Usai banjir menerjang, Junaidi bertranformasi dari seorang petani nilam yang ekonomi stabil, kini ia harus mengandalkan otot untuk bertahan hidup. 

Tidak ada lagi jadwal panen lima bulanan yang ada hanyalah jadwal harian yang tidak pasti.

Hari Itu, keberuntungan sedang berpihak kepadanya. Junaidi mendpatkan pekerjaan sebagai buruh angkut semen, tubuhnya yang tak lagi muda, mencoba akrab dengan beban berat. 

Satu hingga tiga track angkutan ia selesaikan dengan becak motornya, berkat kegigihannya itu ia memperoleh 20 ribu rupiah per track.

Jelang sore hari, Junaidi telah mengantongi Rp 60.000. Nominal ini bagi sebagian orang mungkin hanya cukup untuk sekali makan siang.

Namun bagi Junaidi dan istrinya, itu merupakan nafas tambahan untuk bertahan hidup.

“Upah hari ini sebagian saya simpan untuk keperluan besok, karena belum tentu besok atau lusa ada pekerjaan yang saya dapatkan,” tutur pria kelahiran 1975 itu, dengan raut wajah penuh keraguan.

Hidup di wilayah bencana, memaksa Junaidi harus gesit mencari lowongan pekerjaan, penghasilan Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu yang didapatkan harus ia simpan agar dapur bisa terus berasap.

Baca juga: Nilam Aceh Ternyata Jadi Bahan Baku Parfum Chanel, Petani Masih Hadapi Tantangan Harga  

Lelaki paruh baya itu, kembali betutur. “Alhamdulillah pemerintah memberikan bantuan beras dan minyak, ini menjadi keringanan buat kami. Namun tentunya ini belum cukup untuk lauk pauk makan sehari hari,” katanya.

Ia melanjutkan, lauk pauk lainnya seperti ikan ia mencari sendiri di sungai dengan memancing atau menjalanya.

Sementara sayur mayur ia bisa mencari di hutan wilayah perbukitan seperti daun paku atau kangkung liar dekat rawa.

“Kalau ikan, kami tidak terlalu susah ada sungai di sini jadi bisa mancing. Uang yang saya dapatkan ini untuk beli bumbu atau keperluan dapur lain,” paparnya.

Senin hingga Minggu, Junaidi tak punya hari libur. Di mana ada peluang, di situ ia berdiri. Menjadi kuli bangunan di proyek Huntara, buruh angkut, hingga pekerja serabutan apa saja. 

Ia menanggalkan gengsi sebagai pemilik lahan demi memastikan dapur di rumah daruratnya tetap mengepul.

Tiga jeriken kecil minyak nilam yang tersisa di sudut rumahnya bukan sekadar barang dagangan yang menunggu harga naik, melainkan monumen kecil bahwa ia pernah berjaya. 

PETANI NILAM - Wartawan Serambi Indonesia, Maulidi Alfata berbincang dengan Junaidi, petani nilam, yang menjadi korban bencana banjir, memperlihatkan tiga jeriken minyak nilam yang berhasil ia selamatkan dalam banjir, sementara katel dan lahan nilamnya rusak diterjang banjir di Aceh Timur, Sabtu (11/4/2026).
PETANI NILAM - Wartawan Serambi Indonesia, Maulidi Alfata berbincang dengan Junaidi, petani nilam, yang menjadi korban bencana banjir, memperlihatkan tiga jeriken minyak nilam yang berhasil ia selamatkan dalam banjir, sementara katel dan lahan nilamnya rusak diterjang banjir di Aceh Timur, Sabtu (11/4/2026). (Serambinews.com/HO)

Mesin katel di belakang rumahnya yang kini menjadi rongsokan menjadi saksi bahwa ia pernah memberikan sumbangsih besar untuk perekonomian Junaidi.

Kini ia sedang berusaha untuk kembali, meski harus merangkak dari dasar dan tak tahu kapan akan seperti dulu lagi sebelum bencana banjir dan longsor.

Bagi pria kelahiran 1975 ini, nilam adalah napas yang menyimpan janji kesejahteraan melampaui padatnya perkebunan sawit. 

Namun, ia menyadari bahwa di balik wangi aromatiknya, tersimpan kerentanan harga yang mengintai nasib petani melawan cengkeraman tengkulak.

“Nilam ini sangat menjanjikan sebenarnya, makanya saya memang fokus di sektor ini, tetapi kadang-kadang yang menjadi permasalahan hingga saat ini, rentan adanya permainan harga oleh tengkulak. Kami di sini tidak punya supplier besar, jadi mau tidak mau harus jual ke tengkulak,” ucapnya sambil menarik nafas panjang.

Baca juga: Tinjau Jembatan Gantung dan Progres Huntara, Bupati Al-Farlaky Kunjung Simpang Jernih

Ia mengungkapkan saat harga di pasar lokal dipermainkan, keringat para petani petani seolah menguap sia-sia.

Belum lagi sifat minyaknya yang manja, nilam tak bisa didekap terlalu lama dalam penyimpanan karena zatnya akan menyusut perlahan. “Kadang terpaksa meskipun harga murah tetap harus kita lepas,” tuturnya.

“Harga saat pasar sehat itu bisa tembus 2 juta rupiah, tapi saat musim panen raya, harga diturunkan sama mereka sampai 800 ribu,” lirihnya.

Harapan kepada pemerintah

Usai pekerjaan selesai, Junaidi melabuhkan tubuhnya yang penat di gubuk darurat. Ia mengingat kembali bagaimana bentang alam Pante Kera yang kini tampak asing lahan yang dulu hijau. Kini menyisakan luka berupa endapan lumpur dan batang-batang kayu yang mati. 

Dalam heningnya istirahat itu, terselip sebuah harapan yang ia titipkan pada angin, sebuah doa agar suara kecilnya sampai ke meja-meja tinggi di pemerintahan.

Ia tidak meminta belas kasihan, namun ia mengetuk pintu keadilan bagi para petani yang 'patah pinggang' akibat bencana. 

Baginya, perhatian khusus pemerintah terhadap pemulihan lahan bukan sekadar soal bantuan bibit atau pupuk, melainkan tentang mengembalikan ekonomi warga yang terkubur bersama banjir. 

“Saya sangat ingin melihat pemerintah hadir untuk menata kembali tanah-tanah yang rusak, kami butuh kepastian, kami berharap petani ini tidak dibiarkan bertarung sendirian melawan semua ini,” tambahnya.

Namun, di balik sorot matanya yang lelah, terpancar harga diri yang keras seperti baja. Jika memang bantuan itu tak kunjung datang, Junaidi tidak akan menyerah pada nasib.

Ia bersumpah akan mencangkul kembali harapannya. Meski harus merayap dan menguras keringat, ia akan memperbaiki lahan itu.

“Jika memang tidak ada bantuan dan harapan, saya tetap akan membuka lagi kebun, perlahan-lahan saja, jika memang butuh waktu setahun untuk perbaikan aya ttap kerjakan,” seraya mengangguk kepala dengan tekad kuat.(*)

Liputan ini didukung Aliansi Jurnalis Independen

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved