Rabu, 22 April 2026

Berita Banda Aceh

Bahasa Aceh Kukuh Bertahan Saat Sejumlah Bahasa Daerah Alami Kepunahan, Begini Ulasan BPPB

Bahasa Aceh dinilai masih kukuh bertahan di tengah ancaman kepunahan sejumlah bahasa daerah di Indonesia.

Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Saifullah
Serambinews.com/Rianza Alfandi
PELESTARIAN BAHASA DAERAH – Kepala BPPB Kemendikdasmen RI, Hafidz Muksin, mengungkap pelestarian bahasa daerah di Aceh masih cukup baik, Senin (20/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Bahasa Aceh dinilai masih kukuh bertahan di tengah ancaman kepunahan sejumlah bahasa daerah di Indonesia.
  • Kepala BPPB RI, Hafidz Muksin, menyebut pelestarian bahasa Aceh cukup baik berkat kebijakan pendidikan dan program berbasis sekolah.
  • Meski begitu, ia mengingatkan tantangan dari generasi muda yang cenderung lebih sering menggunakan bahasa gaul dan asing.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB) Kemendikdasmen RI, Hafidz Muksin mengungkapkan, bahwa sejumlah bahasa daerah di Indonesia telah mengalami kepunahan berdasarkan kajian vitalitas bahasa.

“Kalau dari kajian vitalitas, tahun 2019 itu ada lima bahasa yang musnah. Terutama di daerah timur seperti Maluku, Papua, dan NTT,” ujar Hafidz saat diwawancarai Serambinews.com, Senin (20/4/2026).

Ia menyebutkan, secara keseluruhan jumlah bahasa daerah di Indonesia terus diperbarui.

Pada 2019, tercatat ada 719 bahasa daerah di Indonesia.

Pada tahun 2025, sebutnya, meningkat menjadi 728 bahasa, setelah ditemukan dialek baru di berbagai wilayah.

Namun, di tengah berbagai ancaman saat ini, Hafidz mengakui bahwa kondisi bahasa daerah di Aceh dinilai masih relatif aman, dan jauh dari ambang kepunahan.

“Kalau di Aceh sendiri sebenarnya kondisinya tidak seperti di daerah timur. Kondisinya masih cukup baik. Karena jumlah bahasanya juga tidak terlalu banyak,” ujarnya.

Baca juga: Disdikbud Bireuen Gelar Festival Bahasa Ibu, 285 Siswa Dites Bahasa Aceh

Menurut Hafidz, pelestarian bahasa daerah Aceh sejauh ini cukup baik karena didukung kebijakan pendidikan dan berbagai program berbasis sekolah.

Salah satunya ada kurikulum muatan lokal. 

“Jadi ada kebijakan setiap Kamis untuk menggunakan adat bahasa Aceh. Dan juga ada program lomba melalui Festival Tunas Bahasa Ibu,” urai dia.

“Di mana ada pengimbasan pengajaran bahasa daerah kepada anak-anaknya melalui berbaga jenis lomba,” tutur Hafidz.

“Ada lomba pidato, menyanyi, menulis cerpen, komedi tunggal, itu dengan bahasa daerah. Dan ini berjenjang dari sekolah, dari kabupaten sampai dengan provinsi,” jelasnya. 

Meski demikian, Hafidz mengingatkan adanya tantangan serius dalam pelestarian bahasa daerah, terutama dari generasi muda.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved