Berita Aceh Singkil
Refleksi 27 Tahun Aceh Singkil, Sosok Makmursyah Putra di Mata Sahabatnya
Pada hari yang bersejarah bagi masyarakat Aceh Singkil ini, rasanya sudah menjadi keharusan untuk mengenang sosok seorang Makmursyah Putra.
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Nurul Hayati
Razaliardi mengisahkan ketika dirinya datang ke Banda Aceh, di sana juga banyak teman-temannya menanyakan, kenapa pemko lahir bukan di Singkil selaku ibu kota kabupaten.
"Saya hanya bisa menjawab, Subulussalam memang pantas dan layak menjadi sebuah kota yang otonom," kisahnya.
Sungguh menakjubkan. Kabupaten Aceh Singkil yang ketika itu baru saja dimekarkan dari Kabupaten Aceh Selatan, dalam tempo waktu lima tahun mampu melahirkan sebuah pemerintahan kota.
"Kita patut ancungkan jempol kepada Makmur. Acungan jempol patut pula kita berikan kepada TNI/Polri yang ketika itu telah mengamankan setiap jengkal pembangunan yang ada didaerah ini," tukasnya.
Enggan berkata tidak, Razaliardi mengakui di lubuk hati terdalamnya mengagumi sosok almarhum Makmursyah Putra.
Dirinya sudah jauh berjalan dan berlayar dari satu kota ke kota lain.
Dari satu pulau ke pulau lain di negeri ini.
Tapi belum pernah melihat seorang bupati yang begitu dekat dengan rakyatnya.
"Satu ciri khas yang jarang dimiliki oleh seorang pemimpin adalah senyumnya. Siapapun yang berhadapan dengannya pasti disambut dengan senyum. Bisa dikatakan Makmur orangnya murah senyum," kata Razaliardi.
Di samping murah menabur senyum, Makmur juga enggan berkata tidak untuk tidak tega bagi orang yang meminta, meskipun permintaan itu kadang tidak semestinya.
Keengganan berkata tidak bagi Makmur mungkin sudah menjadi sifat yang melekat dalam dirinya.
Tapi sesungguhnya kata Razaliardi ini merupakan kelemahannya.
Sebab sikap ini menjadi pondasi banyak sikap penting lainnya dalam mengambil sebuah keputusan pemerintah selama kepemimpinannya.
Menurutnya enggan untuk berkata tidak terhadap sebuah permintaan di luar wewenang dan ketentuan yang dimiliki seorang pemimpin dapat melahirkan sebuah kebijakan di luar sistem.
Pada akhirnya akan menetapkan keputusan hanya berdasarkan naluri dan perasaan semata, bukan berdasarkan kebutuhan.
"Tapi itulah sosok seorang bernama Makmursyah Putra yang alur pikirannya sulit untuk dicerna. Manusia memang tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT," ujarnya.
Dialog singkat
Tercatat dalam perjalanan hidup seorang yang bernama Makmursyah Putra.
Pernah dituduh melakukan korupsi yang dikenal dengan nama kasus kasbon Aceh Singkil tahun 2005.
Namun semua tuduhan itu tidak mengandung kebenaran, sehingga pengadilan Negeri Singkil memutuskan bahwa tidak bersalah.
Mengenai kisah ini Razaliardi Manik mempunyai kenangan tersendiri.
Kala itu dirinya menjadi satu-satunya orang di luar pemerintahan yang dipercaya mendampingi Makmursyah Putra dalam kasus ini sebagai penasehat spiritualnya, sekaligus sebagai penasehat politik secara pribadi.
Salah satunya dalam dialog singkat. Ketika itu, Makmursyah Putra sedang diperiksa oleh Kejaksaan Tinggi Banda Aceh.
Pemeriksaan berlangsung secara maraton selama tiga hari.
Pada hari ketiga atau pada hari terakhir, seusai pemeriksaan, pengacaranya menggelar pertemuan dengan penyidik di ruang kerja Kajati Aceh.
"Di luar ruangan kajati hanya ada saya, Hasan Basri selaku ajudan beliau, Radaan Bancin supir beliau dan pak Makmur sendiri."
"Kami berempat berdiri agak berjauhan. Dari tempatnya berdiri, tiba-tiba beliau memanggil saya dengan lambaian tangan. Kemudian sayapun menghampirinya," ujar Razaliardi.
”Silih, tolong tengenke kalak turangmu bak bere-beremu da. Mungkin aku ditahan kejaksaan waren. Sohken salamku mi dengan-dengan i Singkil. Artinya kira-kira seperti ini. (Adinda. Tolong perhatikan kakakmu dan anak-anak. Sampaikan juga salamku kepada kawan-kawan di Singkil. Mungkin saya ditahan kejaksaan hari ini)," kata Razaliardi.
Mendengar kalimat yang tercetus dari bibir seorang pemimpin yang selama ini begitu tegar dan berwibawa, perasaan Razaliardi terenyuh.
"Hati saya bertanya. Dimana sudah kepercayaan dirimu? Dimana Makmur yang saya kenal selama ini? Tapi akhirnya saya sadar. Wajar, selaku manusia pasti mempunyai rasa was-was, cemas dan takut. Maklum meski kita percaya bahwa kita tidak bersalah, namun kadang hukum berkata lain," ujar Razaliardi.
"Saya langsung menjawab dengan nada tanya. Bapak bicara apa? Meski sebenarnya saya tau arah kalimat yang diucapkannya. Saat itu juga saya langsung mensugesti beliau. Tolong katakan bahwa bapak tidak bersalah. Ucapkan sekarang juga, agar Allah mengabulkan ucapan bapak, seru saya kepada beliau."
"Tanpa banyak bicara lagi beliau langsung menuruti dan mengucapkan kalimat, saya tidak bersalah. Sesungguhnya Engkau maha tahu ya Allah, katanya dengan suara bergetar," kisah Razaliardi.
"Kalau begitu, ya sudah, tidak ada masalah lagi. Besok kita sama-sama pulang ke Aceh Singkil. Kalau saya pulang besok, itu berarti saya pulang bersama bapak. Artinya kita harus pulang bersama. Percayalah, Allah telah mengetuk hati nurani para jaksa dan mengingatkan kepada mereka bahwa bapak tidak bersalah. Saya mencoba meyakinkannya," kata Razaliardi mengenang dialog singkat dengan Makmursyah Putra.
Mendengar kalimat itu, menurut Razaliardi, Makmursyah Putra langsung menggosok-gosok telapak tangannya dan mengusap wajahnya.
"Terimakasih Adinda. Peristiwa ini sampai kapanpun tidak akan saya lupakan seumur hidup," itulah sepenggal dialog yang sampai saat ini masih membekas dalam hati Razaliardi.
Dialog itu kini hanyalah kenangan.
Kenangan yang tersisa dari sekian ribu dialog yang pernah terucap dari bibir seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya.
Kini Makmursyah Putra sudah tiada.
Tugasnya sebagai abdi negara untuk mengurus rakyat dan membangun daerah ini telah berakhir sejak 15 tahun yang lalu.
Kita yang masih hidup ini, para pemimpin yang berkuasa hari ini hendaknya dapat teladani sikap dan meneruskan pembangunan yang belum terwujud seutuhnya.
"Terimakasih atas pengabdianmu sahabatku, semoga engkau berada disi Nya. Aamiin ya Allah," demikian Razaliardi Manik.
Mengenang sosok almarhum H Makmursyah Putra, Razaliardi Manik menulis sebuah puisi saat masih tinggal di Tanjungpinang, 20 Oktober 2011 lalu.
Limabelas tahun sudah berlalu
Hanya do’a yang dapat kukirimkan padamu
Lima tahun sebelum kepergianmu kita tak pernah bertemu
Lima tahun itu pula kita tak bertegur sapa
Namun jauh dilubuk hatiku yang paling dalam
Ku ingin kita saling memaafkan
Banyak hal yang pernah kita jalani bersama akan tetap menjadi kenangan terindah bagiku
Percayalah...........
Aku akan tetap menjadi sahabatmu sampai kelak aku menyusulmu
Terima kasih atas segala yang pernah kau berikan kepadaku.
Razaliardi Manik merupakan mantan Ketua Angkatan Muda Penegak Reformasi Kepulauan Riau 1998.
Saat ini berdomisili di Kampung Baru, Singkil Utara, Aceh Singkil.(*)
Aceh Singkil
Sejarah Pendirian Aceh Singkil
hari jadi
hari jadi Aceh Singkil
Serambinews.com
Serambinews
| 17 Anak Aceh Singkil Berhasil Dioperasi Bibir Sumbing Gratis |
|
|---|
| Bupati Aceh Singkil Akui Sawit Tulang Punggung Ekonomi Masyarakatnya |
|
|---|
| Bupati Aceh Singkil Minta NGO Berikan Bantuan Nyata kepada Masyarakat |
|
|---|
| Banyak Perusahaan Perkebunan di Aceh Singkil Belum Laporkan Penggunaan Dana CSR |
|
|---|
| Karya Suhardin Djalal Ditetapkan Jadi Logo Resmi HUT ke-27 Aceh Singkil, Ini Maknanya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Razaliardi-Manik.jpg)