Berita Aceh Singkil
Refleksi 27 Tahun Aceh Singkil, Sosok Makmursyah Putra di Mata Sahabatnya
Pada hari yang bersejarah bagi masyarakat Aceh Singkil ini, rasanya sudah menjadi keharusan untuk mengenang sosok seorang Makmursyah Putra.
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Nurul Hayati
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Dede Rosadi I Aceh Singkil
SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Senin 27 April 2026, merupakan hari jadi Kabupaten Aceh Singkil yang ke-27.
Pada hari yang bersejarah bagi masyarakat Aceh Singkil ini, rasanya sudah menjadi keharusan untuk mengenang sosok seorang Makmursyah Putra.
Dia adalah sosok pelopor berdirinya Kabupaten Aceh Singkil, sekaligus bupati pertama daerah ini.
Sosok Makmursyah Putra, memiliki kenangan serta kisah tersendiri di mata sahabatnya Razaliardi Manik.
Orator ulung ini menceritakan panjang lebar sosok almarhum Makmursyah Putra, semasa hidupnya.
Makmursyah Putra lahir 12 Oktober 1956 di Desa Penanggalan, Kecamatan Simpang Kiri, Subulussalam.
Meninggal dunia pada usi 55 tahun ketika Razaliardi sudah hijrah yang kedua ke Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
"Kabar duka itu saya terima dari seorang teman di Gunung Meriah. Hari itu, seusai sholat Zuhur, saya menerima sebuah SMS yang menyebutkan telah berpulang ke rahmatullah seorang sahabat, seorang guru, dan sekaligus lawan politik yang pernah berseberangan," kata Razaliardi memulai kisahnya.
Berita duka itu terasa menghentak. Makmursyah Putra berpulang, Sabtu 15 Oktober 2011 persis waktu salat zuhur.
Kepergiannya tentu membuat semau kehilangan seorang tokoh yang begitu berjasa bagi Aceh Singkil dan Kota Subulussalam.
Kepergiannya juga merupakan duka yang cukup dalam bagi semua yang ada di negeri tempat kelahiran para ulama ini.
Razaliardi mengatakan, tokoh proklamator Bung Karno dalam bukunya Di Bawah Bendera Revolusi, mengajarkan agar jangan sekali kali melupakan sejarah (jas merah).
Jika bicara mengenai sejarah kemerdekaan bangsa ini, tentu tak bisa melupakan dua orang sosok yang bernama Bung Karno dan Bung Hatta.
Begitu pun, ketika bicara tentang berdirinya Kabupaten Aceh Singkil, sudah pasti pula tidak bisa meninggalkan, apalagi mengabaikan sosok seorang bernama H Makmursyah Putra.
Baca juga: Bupati Aceh Singkil Dorong NGO Salurkan Bantuan Langsung ke Warga
Menurut Razaliardi Manik, Makmursyah Putra adalah pelopor dan tokoh sentral dalam mengantarkan Aceh Singkil menjadi sebuah daerah yang otonom pada tahun 1999, sekaligus sebagai bupati pertama selama dua periode.
Makmursyah Putra yang ia kenal pada akhir tahun 1999 lalu merupakan sosok seorang pemimpin yang ulet dan tangguh. Alur pikirannya tidak terjangkau oleh nalar sebagian besar rakyatnya.
Ia bukan saja unggul dari segi ilmu politik dan menguasai ilmu pemerintahan.
Tapi ia juga pintar dan cerdas.
Hal ini tentunya tidak terlepas dari pengalamannya sebagai seorang tokoh intelektual yang telah menduduki berbagai posisi jabatan penting baik di lingkungan pemerintahan maupun di berbagai organisasi politik dan kemasyarakatan lainnya.
Di mata Razaliardi, Makmur begitu simpati, begitu ramah dan begitu religius.
Makmursyah Putra adalah seorang tokoh yang belum ada duanya di Aceh Singkil.
Ia adalah seorang pelopor otonomi Aceh Singkil yang layak mendapat gelar tokoh pembangunan.
"Untuk mengenang jasa-jasanya, saya mengusulkan kepada Pemerintah Aceh Singkil dibawah pimpinan H Safriadi Oyon agar beliau dianugerahi gelar sebagai tokoh pembangunan Aceh Singkil," tegas aktivis senior Aceh Singkil tersebut.
Makmursyah Putra juga merupakan sosok pemimpin kharismatik, berwibawa, berwawasan luas dan orator ulung yang sulit dimiliki Aceh Singkil saat ini.
Kemampuannya sebagai seorang managerial bidang pemerintahan kiranya siapapun tidak dapat meragukan.
Hal itu dapat dilihat dalam masa kepemimpinannya selama sepuluh tahun sukses dalam menata dan meletakkan dasar pembangunan daerah ini.
Semua orang dapat melihat bagaimana ia membangun kembali kepercayaan dirinya ketika menghadapi persolan hukum yang menyeretnya ke pengadilan.
Makmur begitu percaya diri bahwa dirinya tidak bersalah, dan ternyata pengadilan melepaskannya dari segala tuntutan hukum.
Begitu halnya ketika menghadapi Pilkada Aceh Singkil tahun 2007 yang lampau. Ia begitu percaya dirinya bahwa rakyat masih mengharapkannya untuk memimpin kembali negeri ini.
Terbukti, Makmursyah Putra terpilih kembali untuk memimpin Aceh Singkil, periode kedua sampai akhir hayatnya.
"Padahal ketika itu popularitasnya hampir mulai redup akibat tersandung kasus yang dikenal dengan nama Kasbon Aceh Singkil itu," ujar Razaliardi Manik.
Periode pertama lima tahun kepemimpinan Makmursyah Putra, bisa dikatakan penuh dengan berbagai tantangan dan persoalan yang cukup pelik.
Sebagai seorang bupati, saat itu tugas yang dipikulnya cukup berat. Berbagai hambatan dalam membangun Aceh Singkil, muncul dari berbagai arah.
Maklum, saat itu wilayah Aceh secara keseluruhan dilanda konflik yang berkepanjangan sehingga mengantarkan Aceh, dalam status Darurat Militer.
Meski demikian, tugas pemerintahan dan kemasyarakatan yang dipimpinnya tetap berjalan dengan baik dan kondusif, dan berhasil membangun daerah ini sejajar dengan daerah kabupaten lainnya yang telah terlebih dahulu berdiri.
Aceh Singkil sesuai kondisi ketika itu, bukan lagi sebuah peradaban yang penuh dengan kekumuhan, terbelakang dan terisolir.
Aceh Singkil kala itu telah berubah dari kekumuhannya.
Makmur ketika itu berharap para pemimpin selanjutnya kelak akan dapat mewujudkan Aceh Singkil, menjadi sebuah daerah yang mandiri, sejahtera, makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran.
Harapan itu bukan tidak mustahil, sebab dasar-dasar pembangunan kearah itu telah diletakkan oleh seorang bernama Makmur Syahputra.
Ia telah menata daerah ini sedemikian rupa, bahkan hampir di segala sektor tonggak-tonggak pembangunan menuju perubahan telah dipancangkan.
Keberhasilan Makmur dapat pula dilihat dari kesuksesannya memekarkan Kota Subulussalam, yang sebelumnya merupakan salah satu wilayah kecamatan terpencil.
Saat ini Subulussalam telah menjadi sebuah Pemerintahan Kota yang lebih maju dari Kabupaten Aceh Singkil.
Mengenai pembentukan Kota Subulussalam, awalnya banyak orang menganggap hal ini hanya sebuah imajinasi belaka.
"Termasuk teman saya Almarhum H Syafril Harahap yang biasa dipanggil Haji Apin yang ketika itu memiliki gagasan membentuk Kabupaten Cinendang Raya," kata Razaliardi.
"Alasannya, pemko tidak mungkin bisa lahir di Kecamatan Simpang Kiri. Menurutnya, pemerintahan kota biasanya lahir di ibu kota kabupaten, bukan di sebuah kecamatan," tutur Razaliardi.
Tapi ternyata Pemko Subulussalam, lahir di sebuah wilayah Kecamatan Simpang Kiri yang jaraknya 85 kilometer dari ibu kota Kabupaten Aceh Singkil.
Razaliardi mengisahkan ketika dirinya datang ke Banda Aceh, di sana juga banyak teman-temannya menanyakan, kenapa pemko lahir bukan di Singkil selaku ibu kota kabupaten.
"Saya hanya bisa menjawab, Subulussalam memang pantas dan layak menjadi sebuah kota yang otonom," kisahnya.
Sungguh menakjubkan. Kabupaten Aceh Singkil yang ketika itu baru saja dimekarkan dari Kabupaten Aceh Selatan, dalam tempo waktu lima tahun mampu melahirkan sebuah pemerintahan kota.
"Kita patut ancungkan jempol kepada Makmur. Acungan jempol patut pula kita berikan kepada TNI/Polri yang ketika itu telah mengamankan setiap jengkal pembangunan yang ada didaerah ini," tukasnya.
Enggan berkata tidak, Razaliardi mengakui di lubuk hati terdalamnya mengagumi sosok almarhum Makmursyah Putra.
Dirinya sudah jauh berjalan dan berlayar dari satu kota ke kota lain.
Dari satu pulau ke pulau lain di negeri ini.
Tapi belum pernah melihat seorang bupati yang begitu dekat dengan rakyatnya.
"Satu ciri khas yang jarang dimiliki oleh seorang pemimpin adalah senyumnya. Siapapun yang berhadapan dengannya pasti disambut dengan senyum. Bisa dikatakan Makmur orangnya murah senyum," kata Razaliardi.
Di samping murah menabur senyum, Makmur juga enggan berkata tidak untuk tidak tega bagi orang yang meminta, meskipun permintaan itu kadang tidak semestinya.
Keengganan berkata tidak bagi Makmur mungkin sudah menjadi sifat yang melekat dalam dirinya.
Tapi sesungguhnya kata Razaliardi ini merupakan kelemahannya.
Sebab sikap ini menjadi pondasi banyak sikap penting lainnya dalam mengambil sebuah keputusan pemerintah selama kepemimpinannya.
Menurutnya enggan untuk berkata tidak terhadap sebuah permintaan di luar wewenang dan ketentuan yang dimiliki seorang pemimpin dapat melahirkan sebuah kebijakan di luar sistem.
Pada akhirnya akan menetapkan keputusan hanya berdasarkan naluri dan perasaan semata, bukan berdasarkan kebutuhan.
"Tapi itulah sosok seorang bernama Makmursyah Putra yang alur pikirannya sulit untuk dicerna. Manusia memang tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT," ujarnya.
Dialog singkat
Tercatat dalam perjalanan hidup seorang yang bernama Makmursyah Putra.
Pernah dituduh melakukan korupsi yang dikenal dengan nama kasus kasbon Aceh Singkil tahun 2005.
Namun semua tuduhan itu tidak mengandung kebenaran, sehingga pengadilan Negeri Singkil memutuskan bahwa tidak bersalah.
Mengenai kisah ini Razaliardi Manik mempunyai kenangan tersendiri.
Kala itu dirinya menjadi satu-satunya orang di luar pemerintahan yang dipercaya mendampingi Makmursyah Putra dalam kasus ini sebagai penasehat spiritualnya, sekaligus sebagai penasehat politik secara pribadi.
Salah satunya dalam dialog singkat. Ketika itu, Makmursyah Putra sedang diperiksa oleh Kejaksaan Tinggi Banda Aceh.
Pemeriksaan berlangsung secara maraton selama tiga hari.
Pada hari ketiga atau pada hari terakhir, seusai pemeriksaan, pengacaranya menggelar pertemuan dengan penyidik di ruang kerja Kajati Aceh.
"Di luar ruangan kajati hanya ada saya, Hasan Basri selaku ajudan beliau, Radaan Bancin supir beliau dan pak Makmur sendiri."
"Kami berempat berdiri agak berjauhan. Dari tempatnya berdiri, tiba-tiba beliau memanggil saya dengan lambaian tangan. Kemudian sayapun menghampirinya," ujar Razaliardi.
”Silih, tolong tengenke kalak turangmu bak bere-beremu da. Mungkin aku ditahan kejaksaan waren. Sohken salamku mi dengan-dengan i Singkil. Artinya kira-kira seperti ini. (Adinda. Tolong perhatikan kakakmu dan anak-anak. Sampaikan juga salamku kepada kawan-kawan di Singkil. Mungkin saya ditahan kejaksaan hari ini)," kata Razaliardi.
Mendengar kalimat yang tercetus dari bibir seorang pemimpin yang selama ini begitu tegar dan berwibawa, perasaan Razaliardi terenyuh.
"Hati saya bertanya. Dimana sudah kepercayaan dirimu? Dimana Makmur yang saya kenal selama ini? Tapi akhirnya saya sadar. Wajar, selaku manusia pasti mempunyai rasa was-was, cemas dan takut. Maklum meski kita percaya bahwa kita tidak bersalah, namun kadang hukum berkata lain," ujar Razaliardi.
"Saya langsung menjawab dengan nada tanya. Bapak bicara apa? Meski sebenarnya saya tau arah kalimat yang diucapkannya. Saat itu juga saya langsung mensugesti beliau. Tolong katakan bahwa bapak tidak bersalah. Ucapkan sekarang juga, agar Allah mengabulkan ucapan bapak, seru saya kepada beliau."
"Tanpa banyak bicara lagi beliau langsung menuruti dan mengucapkan kalimat, saya tidak bersalah. Sesungguhnya Engkau maha tahu ya Allah, katanya dengan suara bergetar," kisah Razaliardi.
"Kalau begitu, ya sudah, tidak ada masalah lagi. Besok kita sama-sama pulang ke Aceh Singkil. Kalau saya pulang besok, itu berarti saya pulang bersama bapak. Artinya kita harus pulang bersama. Percayalah, Allah telah mengetuk hati nurani para jaksa dan mengingatkan kepada mereka bahwa bapak tidak bersalah. Saya mencoba meyakinkannya," kata Razaliardi mengenang dialog singkat dengan Makmursyah Putra.
Mendengar kalimat itu, menurut Razaliardi, Makmursyah Putra langsung menggosok-gosok telapak tangannya dan mengusap wajahnya.
"Terimakasih Adinda. Peristiwa ini sampai kapanpun tidak akan saya lupakan seumur hidup," itulah sepenggal dialog yang sampai saat ini masih membekas dalam hati Razaliardi.
Dialog itu kini hanyalah kenangan.
Kenangan yang tersisa dari sekian ribu dialog yang pernah terucap dari bibir seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya.
Kini Makmursyah Putra sudah tiada.
Tugasnya sebagai abdi negara untuk mengurus rakyat dan membangun daerah ini telah berakhir sejak 15 tahun yang lalu.
Kita yang masih hidup ini, para pemimpin yang berkuasa hari ini hendaknya dapat teladani sikap dan meneruskan pembangunan yang belum terwujud seutuhnya.
"Terimakasih atas pengabdianmu sahabatku, semoga engkau berada disi Nya. Aamiin ya Allah," demikian Razaliardi Manik.
Mengenang sosok almarhum H Makmursyah Putra, Razaliardi Manik menulis sebuah puisi saat masih tinggal di Tanjungpinang, 20 Oktober 2011 lalu.
Limabelas tahun sudah berlalu
Hanya do’a yang dapat kukirimkan padamu
Lima tahun sebelum kepergianmu kita tak pernah bertemu
Lima tahun itu pula kita tak bertegur sapa
Namun jauh dilubuk hatiku yang paling dalam
Ku ingin kita saling memaafkan
Banyak hal yang pernah kita jalani bersama akan tetap menjadi kenangan terindah bagiku
Percayalah...........
Aku akan tetap menjadi sahabatmu sampai kelak aku menyusulmu
Terima kasih atas segala yang pernah kau berikan kepadaku.
Razaliardi Manik merupakan mantan Ketua Angkatan Muda Penegak Reformasi Kepulauan Riau 1998.
Saat ini berdomisili di Kampung Baru, Singkil Utara, Aceh Singkil.(*)
Aceh Singkil
Sejarah Pendirian Aceh Singkil
hari jadi
hari jadi Aceh Singkil
Serambinews.com
Serambinews
| Pemilihan BPKam Selok Aceh Minta Diulang, Ini Alasannya |
|
|---|
| Aspal Ditinggikan, Genangan Air di Jalan Dua Jalur Gunung Merih Berpindah |
|
|---|
| Malam Ini Ibukota Kabupaten Aceh Singkil Diguyur Hujan, Gelombang 1,2 Meter |
|
|---|
| Diberhentikan dari PAN, Anggota DPRK Aceh Singkil Ini Ajukan Gugatan Ke Mahkamah Partai |
|
|---|
| Harga Kepiting Bakau Aceh Singkil Naik 100 Persen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Razaliardi-Manik.jpg)