Jumat, 24 April 2026

Opini

Kolaboratif Cara Efektif dalam Penanggulangan Narkoba di Aceh

Lebih dari sekadar penyakit sosial yang menggerogoti generasi bangsa, narkoba telah menjadi proxy war yang efektif untuk menghancurkan suatu

|
Editor: Ansari Hasyim
Dok Pribadi
Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, guru Besar Universitas Syiah Kuala dan Pengurus LEPADSI Aceh. 

Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, guru Besar Universitas Syiah Kuala dan Pengurus LEPADSI Aceh

ACEH, yang dikenal sebagai Serambi Mekkah, kini menghadapi ancaman eksistensial yang jauh lebih berbahaya daripada konflik masa lalu: narkoba.

Lebih dari sekadar penyakit sosial yang menggerogoti generasi bangsa, narkoba telah menjadi proxy war yang efektif untuk menghancurkan suatu negara tanpa tembakan peluru. Di Aceh, yang merupakan serambi depan jalur transportasi dan perdagangan serta dikelilingi garis pantai yang panjang, ancaman ini nyata dan mendesak.

Data membuktikan: Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh mencatat sekitar 80 ribu warga Aceh terpapar narkoba, dengan 80 persennya memulai dari ganja. Di tingkat nasional, prevalensi penyalahgunaan narkoba mencapai 2,11 persen atau sekitar 4,15 juta jiwa pada 2025. Jika dibiarkan, angka ini akan terus membengkak, dan nama baik Aceh sebagai bagian dari peredaran narkoba akan semakin tercemar.

Geografi yang Rentan

Letak geografis Aceh merupakan berkah sekaligus kutukan. Berbatasan langsung dengan Selat Malaka jalur perairan internasional yang sibuk, Aceh menjadi pintu masuk utama barang ilegal dari luar negeri.

Kepala BNN RI Komjen Suyudi Ario Seto bahkan menyebut Aceh sebagai salah satu pintu masuk narkoba utama ke Indonesia, karena garis pantai yang sangat panjang dan banyaknya pelabuhan tikus. Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah mengakui bahwa penyelundupan narkotika dari luar negeri banyak dilakukan di wilayah pantai utara Aceh, memanfaatkan nelayan lokal sebagai kurir.

Sindikat internasional memilih Aceh karena garis pantainya seperti "saringan bolong" mudah masuk, sulit dikejar. Puluhan celah minim pengawasan ini menghadap langsung ke Selat Malaka, berbatasan dengan Malaysia dan Thailand.

Pasokan utama narkoba berasal dari kawasan Segitiga Emas (Laos, Myanmar, Thailand) melalui perairan Malaysia. Ini bukan sekadar masalah lokal, melainkan kejahatan lintas negara yang membutuhkan respons lintas sektor.

Kapal Patroli dan Personel Cekatan: Kebutuhan yang Tak Terelakkan

Sindikat penyelundup terus mengembangkan modus operandi: barang haram dibawa dengan kapal cepat, kemudian dilangsir menggunakan kapal nelayan di sekitar perairan Aceh Tamiang sebelum dibawa ke darat. Untuk menghadapi taktik ini, penguatan infrastruktur pengawasan laut mutlak diperlukan.

Pemerintah telah merespons dengan membangun pangkalan patroli di Lhokseumawe yang diperkuat lima kapal patroli dan pergeseran 130 personel dari Batam. 

Namun, kebutuhan akan kapal patroli cepat yang dilengkapi radar laut dan drone pengawas masih sangat mendesak, mengingat panjangnya garis pantai yang harus diawasi. Tanpa sarana yang memadai, aparat akan terus bermain kucing-kucingan dengan sindikat yang lebih gesit dan berteknologi.

Mematikan Rantai Pasok: Kolaborasi yang Membuahkan Hasil

Berita baiknya, kolaborasi lintas sektor terbukti efektif. Sepanjang 2025, Bea Cukai Aceh bersama aparat penegak hukum berhasil menggagalkan 80 kasus tindak pidana narkotika dengan total barang bukti mencapai 5,89 ton, terdiri dari 1,67 ton sabu, 4 ton ganja, 168 kilogram ekstasi, dan 3,9 kilogram kokain. Sebelumnya, hingga Agustus 2025, total 10,6 ton narkoba berhasil digagalkan.

Salah satu operasi kolaboratif yang paling menonjol terjadi pada September 2025. Tim gabungan Bea Cukai, Direktorat Interdiksi Narkotika, dan NIC Bareskrim Polri menggagalkan penyelundupan 155.000 butir MDMA (ekstasi) dan 4,3 kilogram sabu di Aceh Timur. Sinergi ini menjadi kunci dalam menutup ruang gerak jaringan narkotika internasional.

Kinerja Polda Aceh juga patut diapresiasi. Dalam operasi selama September 2025 saja, Polda Aceh menyita 80,5 kilogram sabu, 1,3 ton ganja, dan 1 kilogram kokain, serta menangkap 22 tersangka. Sebagian besar sabu berasal dari jaringan internasional Segitiga Emas yang melibatkan mafia dari Thailand, Myanmar, dan Vietnam. Polda Aceh juga aktif memperkuat kerja sama dengan Bea Cukai, TNI, Bakamla, dan lembaga pemangku adat panglima laut, serta melakukan pengawasan ketat terhadap aktivitas nelayan.

Tantangan Internal: Musuh di Dalam Selimut

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved