Minggu, 26 April 2026

Berita Aceh Tamiang

TMMD Kodim Aceh Tamiang Akhiri Jalur Maut di Sukamakmur dan Balingkarang

Program TMMD ke-128 Kodim Aceh Tamiang membuka akses jalan darat sepanjang 12 km dari Sukamakmur ke Balingkarang.

Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Saifullah
Serambinews.com/HO
JALAN TEMBUS – Prajurit TNI mengebut pengerjaan jalan tembus Kampung Sukamakmur ke Balingkarang melalui program TMMD ke-128 Kodim Aceh Tamiang. Program ini mengakhiri ketakutan warga yang terus dihantui jalur maut. 

Ringkasan Berita:
  • Program TMMD ke-128 Kodim Aceh Tamiang membuka akses jalan darat sepanjang 12 km dari Sukamakmur ke Balingkarang.
  • Jalur sungai berisiko tinggi yang dulu disebut “jalur maut” kini digantikan jalan darat yang aman.
  • Warga optimis jalan baru ini akan menghidupkan perekonomian desa dan berharap pemerintah melanjutkan pengaspalan.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Jalur maut di Sukamakmur dan Balingkarang, Aceh Tamiang tak lagi menghantui masyarakat. 

Rasa takut tersebut justru berubah menjadi keyakinan hidup lebih baik.

Optimisme ini disampaikan masyarakat kedua kampung setelah daerah mereka menjadi sasaran TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) ke-128 di Aceh Tamiang

Program yang secara resmi dilakukan 21 April ini memprioritaskan pembangunan jalan terobos dari Sukamakmur ke Balingkarang sepanjang 12 kilometer.

“Alhamdulillah, akhirnya ada akses jalan darat, dulu kami kalau mau ke Karangbaru (pusat pemerintahan) dan Kualasimpang (pusat perekonomian), harus dari sungai,” kata Datok Penghulu Kampung Balingkarang, Joni Sardi, Sabtu (25/4/2026).

Joni menggambarkan, jalur sungai ini sangat menakutkan karena memiliki risiko tinggi. 

Namun karena tidak ada pilihan lain, mau tak mau warga menggunakan getek ataupun perahu sebagai alat transportasi utama.

Meski menakutkan, selama puluhan tahun warga menjadikan getek dan perahu ini sebagai alat utama penyeberangan manusia, kendaraan dan hasil panen perkebunan.

Baca juga: Satgas TMMD Kodim Abdya Kunjungi Nurhabibah, Nenek Penerima Bantuan Rehab RTLH di Gunong Cut 

“Ya semuanya dari sini, kalau air naik ya tidak bisa kemana-mana, sangat berisiko,” ungkapnya.

Bila debit air sungai meningkat, tak jarang komoditas yang diangkut terbalik. 

Hal yang paling ditakutkan, getek dan perahu tidak beroperasi bila kenaikan air sangat signifikan.

“Bukan cuma terbalik, ada juga kasus orang sakit meninggal pas dalam penyeberangan, mau dibawa ke Kualasimpang,” ujarnya.

Sederetan kejadian menakutkan inilah yang kemudian muncul stigma jalur ini sebagai ‘jalur maut’. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved