Opini
Pendidikan dan Krisis Karakter, Refleksi Hardiknas 2026
Lebih mengkhawatirkan lagi, krisis pendidikan hari ini bukan semata-mata soal rendahnya kemampuan akademik.
Oleh: Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc*)
HARI ini, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas, 2 Mei). Sebuah momentum yang bukan sekadar mengenang jasa Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara, tetapi juga menjadi ruang refleksi tentang ke mana arah pendidikan Indonesia sedang berjalan.
Pendidikan bukan hanya urusan ruang kelas, kurikulum, atau angka statistik kelulusan. Pendidikan adalah wajah masa depan bangsa. Dari sekolah-sekolah hari ini, akan lahir pemimpin, ilmuwan, petani, birokrat, pengusaha, dan generasi yang menentukan nasib republik ini di masa depan.
Namun, di tengah gegap gempita digitalisasi dan kemajuan teknologi, pendidikan Indonesia menghadapi persoalan yang semakin kompleks. Kita menyaksikan paradoks besar dimana akses pendidikan semakin terbuka, tetapi kualitas pembelajaran masih tertatih-tatih.
Sekolah makin banyak, perangkat digital makin luas diperkenalkan, namun kemampuan literasi dan numerasi peserta didik masih menjadi pekerjaan rumah yang serius. Bahkan learning loss pascapandemi masih menyisakan dampak panjang terhadap kualitas pembelajaran di berbagai daerah.
Lebih mengkhawatirkan lagi, krisis pendidikan hari ini bukan semata-mata soal rendahnya kemampuan akademik. Yang jauh lebih serius adalah krisis karakter. Kita hidup di era ketika kecerdasan teknologi berkembang begitu cepat, tetapi kematangan moral justru tertinggal.
Anak-anak semakin akrab dengan layar gawai dibandingkan dengan nilai-nilai empati, disiplin, dan penghormatan kepada sesama. Pendidikan perlahan kehilangan ruhnya sebagai proses memanusiakan manusia.
Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Kasus perundungan di sekolah meningkat, intoleransi tumbuh di ruang digital, budaya instan semakin mengakar, sementara etika berkomunikasi generasi muda perlahan memudar.
Banyak peserta didik mampu mengoperasikan kecerdasan buatan, tetapi kesulitan membangun kejujuran dan tanggung jawab. Mereka cepat memperoleh informasi, tetapi lambat membangun kebijaksanaan.
Ironisnya, dunia pendidikan kita juga berkali-kali tercoreng oleh kasus-kasus yang sangat melukai nurani publik.
Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat disuguhi berbagai peristiwa memilukan seperti siswa menjadi korban perundungan brutal oleh teman sebaya, guru dipermalukan bahkan dianiaya oleh murid, hingga praktik kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan pendidikan.
Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman justru kadang berubah menjadi tempat yang menghadirkan trauma.
Kita tentu masih mengingat berbagai kasus perundungan yang viral di media sosial, di mana seorang siswa dipaksa menerima kekerasan fisik dan verbal sambil direkam teman-temannya.
Yang lebih menyedihkan, sebagian pelaku justru menganggap tindakan tersebut sebagai candaan. Fenomena ini menunjukkan betapa empati sosial generasi muda mengalami degradasi yang serius.
Kasus lain yang tak kalah memprihatinkan adalah maraknya praktik kecurangan akademik. Budaya mencontek, plagiarisme, hingga penyalahgunaan teknologi digital untuk menyelesaikan tugas secara instan semakin lazim ditemukan.
Kini, dengan hadirnya kecerdasan buatan, tantangan etika pendidikan menjadi semakin kompleks. Banyak pelajar tergoda menggunakan teknologi bukan sebagai alat belajar, melainkan jalan pintas memperoleh nilai tinggi tanpa proses berpikir yang sehat. Pendidikan akhirnya hanya mengejar hasil, bukan pembentukan karakter dan integritas.
Belum lagi persoalan tawuran pelajar yang masih terjadi di berbagai kota besar. Anak-anak usia sekolah yang seharusnya sibuk menimba ilmu justru terlibat kekerasan jalanan yang membahayakan nyawa.
Ini bukan sekadar kenakalan remaja biasa, tetapi alarm keras bahwa pendidikan kita belum sepenuhnya berhasil membangun kedewasaan emosional dan kemampuan menyelesaikan konflik secara bermartabat.
Kita tentu tidak anti teknologi. Dunia memang sedang bergerak menuju era kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Kehadiran AI membuka peluang besar untuk pemerataan akses belajar, efisiensi administrasi guru, hingga personalisasi pembelajaran.
Namun teknologi hanyalah alat, bukan tujuan utama pendidikan. Sebagus apa pun perangkat digital yang digunakan di sekolah, ia tidak akan mampu menggantikan keteladanan seorang guru.
Sebanyak apa pun informasi tersedia di internet, ia tidak otomatis melahirkan manusia berkarakter. Pendidikan tetap membutuhkan sentuhan kemanusiaan, yakni kasih sayang, keteladanan, dialog, dan pembiasaan nilai.
Di sinilah letak tantangan terbesar pendidikan Indonesia hari ini. Kita terlalu sibuk mengejar modernisasi, tetapi sering lupa membangun fondasi moral. Kita bangga pada digitalisasi sekolah, tetapi lalai memastikan peserta didik memiliki kecakapan etika digital. Kita mengejar angka kelulusan, tetapi kurang serius membentuk integritas.
Padahal, sejarah menunjukkan bahwa bangsa besar tidak hanya dibangun oleh manusia cerdas, tetapi oleh manusia berkarakter. Jepang bangkit pasca perang bukan semata karena teknologi, melainkan karena budaya disiplin dan etos kerja.
Korea Selatan maju bukan hanya karena inovasi, tetapi karena konsistensi membangun kualitas sumber daya manusia. Pendidikan mereka berhasil menanamkan nilai, bukan sekadar pengetahuan.
Indonesia seharusnya belajar dari pengalaman tersebut. Pendidikan nasional tidak boleh hanya berorientasi pada capaian administratif dan proyek jangka pendek. Pendidikan harus kembali pada tujuan utamanya yaitu membentuk manusia Indonesia yang berilmu, berakhlak, kreatif, dan bertanggung jawab terhadap bangsanya.
Karena itu, ada beberapa langkah konstruktif yang perlu menjadi perhatian bersama. Pertama, penguatan karakter harus menjadi arus utama pendidikan. Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan melalui slogan atau mata pelajaran formal.
Ia harus hadir dalam budaya sekolah. Guru harus menjadi teladan integritas, kepala sekolah harus menjadi simbol kepemimpinan moral, dan lingkungan pendidikan harus menghadirkan suasana yang menghargai kejujuran, kerja keras, dan empati.
Kedua, peningkatan kualitas guru harus menjadi prioritas nasional. Guru adalah jantung pendidikan. Namun hingga kini, masih banyak guru menghadapi keterbatasan pelatihan, beban administrasi berlebihan, dan ketimpangan fasilitas, terutama di daerah terpencil.
Transformasi pendidikan tidak akan berhasil tanpa transformasi kualitas guru. Negara harus lebih serius memperkuat kapasitas pedagogik, literasi digital, dan kesejahteraan tenaga pendidik.
Ketiga, pemerataan pendidikan harus menjadi agenda nyata, bukan sekadar retorika. Ketimpangan pendidikan antara kota dan daerah masih sangat terasa.
Banyak sekolah di wilayah terpencil belum memiliki akses internet memadai, kekurangan guru, bahkan mengalami keterbatasan sarana dasar.
Dalam situasi seperti itu, digitalisasi pendidikan tidak boleh hanya dinikmati sekolah-sekolah perkotaan. Pemerintah harus memastikan bahwa transformasi pendidikan berlangsung adil dan inklusif.
Keempat, literasi harus menjadi gerakan nasional. Krisis literasi adalah ancaman serius bagi masa depan bangsa. Ketika anak-anak kehilangan budaya membaca, maka kemampuan berpikir kritis pun ikut melemah.
Sekolah perlu kembali membangun budaya membaca, berdiskusi, dan berpikir reflektif, bukan sekadar mengejar hafalan dan nilai ujian.
Kelima, pendidikan harus lebih dekat dengan realitas kehidupan. Selama ini, pembelajaran sering terlalu teoritis dan kurang kontekstual. Peserta didik diajarkan menghafal rumus, tetapi kurang dilatih memecahkan masalah nyata.
Mereka belajar banyak konsep, tetapi minim pengalaman sosial. Akibatnya, pendidikan terasa jauh dari kehidupan masyarakat. Padahal, sekolah seharusnya menjadi ruang pembentukan kepedulian sosial, kreativitas, dan kemampuan kolaborasi.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya menyadarkan kita bahwa membangun pendidikan bukan pekerjaan satu kementerian semata.
Pendidikan adalah tanggung jawab kolektif (pentahelix), pemerintah, sekolah, keluarga, media, dan masyarakat. Orang tua tidak bisa sepenuhnya menyerahkan pendidikan karakter kepada sekolah. Sebaliknya, sekolah juga tidak mungkin berhasil tanpa dukungan lingkungan sosial yang sehat.
Kualitas pendidikan akan menentukan kualitas peradaban bangsa. Jika pendidikan gagal membangun karakter, maka bangsa ini mungkin menghasilkan manusia pintar, tetapi miskin moral. Kita bisa melahirkan generasi yang cakap teknologi, tetapi rapuh integritas. Dan ketika itu terjadi, kemajuan justru dapat berubah menjadi ancaman.
Karena itu, Hari Pendidikan Nasional harus menjadi momentum untuk mengembalikan ruh pendidikan Indonesia yang mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus memanusiakan manusia.
Sebab pendidikan sejati bukan hanya melahirkan generasi yang mampu bersaing, tetapi juga generasi yang tahu untuk apa ilmu digunakan dan kepada siapa tanggung jawab kemanusiaan harus diberikan.
*) PENULIS adalah Dosen Universitas Syiah Kuala, Ketua Pemuda ICMI Aceh, dan Pengurus PISPI Aceh. Email: yasar@usk.ac.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yasar-09okl.jpg)