Banda Aceh
Sosok Rita Novita, Guru Besar UBBG sekaligus Salah Satu Profesor Termuda di Aceh
Itulah yang baru saja diraih oleh sosok perempuan bernama lengkap Prof Dr Rita Novita MPd, Guru Besar Universitas Bina Bangsa Getsempena...
Penulis: Sara Masroni | Editor: Eddy Fitriadi
Ringkasan Berita:
- Rita Novita menjadi profesor di usia 38 tahun, salah satu yang termuda di Aceh.
- Guru Besar Universitas Bina Bangsa Getsempena ini fokus pada Pendidikan Matematika.
- Ia menyoroti pembelajaran matematika yang masih terlalu prosedural, bukan pemahaman konsep.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Sara Masroni | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Meraih jabatan tertinggi dalam akademik di usia kepala tiga, bukanlah sebuah kemustahilan.
Itulah yang baru saja diraih oleh sosok perempuan bernama lengkap Prof Dr Rita Novita MPd, Guru Besar Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) yang baru saja dikukuhkan awal pekan ini, sekaligus menjadi salah satu profesor termuda di Aceh saat usianya baru menginjakkan 38 tahun.
“Syukur kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah dan perkenaan-Nya sehingga saya dapat berdiri di sini, dalam forum yang agung dan penuh kehormatan, prosesi pengukuhan yang khidmat ini,” ujar Prof Rita saat dikukuhkan sebagai profesor di Plenary Hall UBBG, Banda Aceh, Senin (4/5/2026).
Putri dari pasangan almarhum H. M Jamin SPd dan Dra Darwati kelahiran Aceh Utara, November 1987 itu dikukuhkan sebagai Guru Besar pada Bidang Ilmu Pendidikan Matematika (Pembelajaran Bilangan dan Aljabar).
Saat ini, ia menduduki jabatan sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Inovasi UBBG. Sebelum menjadi dosen tetap pada Prodi Pendidikan Matematika Universitas Bina Bangsa Getsempena sejak 2012, Rita pernah menjadi guru di MIN 6 Model Banda Aceh pada 2009 lalu, dan guru SMA Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) pada 2008 silam.
Prof Rita menyelesaikan S1 Pendidikan Matematika di Universitas Syiah Kuala (2005-2009), kemudian S2 di Universitas Sriwijaya (2010-2012) dan S3 bidang yang sama di Universitas Pendidikan Indonesia (2019-2023) yang seluruhnya mendapat predikat cumlaude.
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan seperti “Desain Didaktis Pembelajaran Pecahan Berdasarkan Teori Situasi Didaktis untuk Mahasiswa Calon Guru Sekolah Dasar” dengan jabatan ketua dan pendanaan bersumber dari LPDP tahun 2020.
Ia juga pernah meneliti bersama tim dengan judul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Rich Task untuk Meningkatkan Kemampuan Mengajar Matematika Guru Sekolah Menengah Pertama” dengan pendanaan bersumber dari DP2M Dikti (penelitian hibah bersaing) tahun 2016-2017.
Dalam pidato pengukuhannya, Guru Besar UBBG itu menjelaskan, sejumlah kajian dalam bidang pendidikan matematika menunjukkan rendahnya pemahaman konsep matematis siswa lebih banyak dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran yang berorientasi prosedural dibandingkan konseptual.
“Pembelajaran cenderung menempatkan matematika sebagai sekumpulan aturan dan
algoritma yang harus dihafal, bukan sebagai sistem pengetahuan yang harus dipahami dan dikonstruksi secara aktif oleh peserta didik,” ungkap Prof Rita.
Fenomena ini selaras dengan kerangka teoritik konstruktivisme yang dikemukakan oleh Jean Piaget, yang menegaskan pengetahuan dibangun melalui proses asimilasi dan akomodasi secara aktif oleh individu.
Demikian pula, perspektif sosiokultural dari Lev Vygotsky menekankan, pembelajaran yang bermakna terjadi melalui interaksi sosial dan mediasi yang tepat dalam zone of proximal development.
Namun demikian, dalam praktik pembelajaran di kelas, khususnya pada materi konsep bilangan, terutama bilangan rasional, pendekatan yang digunakan masih didominasi oleh pola pengajaran yang bersifat mekanistik, algoritmik, dan minimal refleksi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Rita-Novita-MPd-saat-orasi-ilmiah-2026.jpg)