Berita Aceh Utara
Dua Maestro Nasional Hadir di Unimal, Edukasi Mahasiswa Lewat Puisi, Lukisan dan Rapai Pase
Kehadiran keduanya tidak hanya menjadi momentum silaturahmi antar maestro seni, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan motivasi bagi generasi muda,
Penulis: Jafaruddin | Editor: Nurul Hayati
Ringkasan Berita:
- Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Unimal menghadirkan 2 maestro seni nasional, penyair LK Ara dan pelukis Sayed Dahlan Al Habsyie, di Kampus Bukit Indah, Lhokseumawe, Kamis (7/5/2026).
- Kehadiran mereka menjadi edukasi budaya bagi mahasiswa, sekaligus bagian dari program riset kebudayaan yang didanai Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI 2025.
- Dalam kegiatan, LK Ara membacakan puisi, berbagi pengalaman menulis, serta memberi teknik kreatif kepada mahasiswa.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Lhokseumawe
SERAMBINEWS.COM,LHOKSEUMAWE – Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh kembali dua maestro seni nasional, di Kampus Bukit Indah, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Kamis (7/5/2026).
Kehadiran penyair senior LK Ara dan pelukis nasional Sayed Dahlan Al Habsyie untuk edukasi budaya bagi mahasiswa.
Pertemuan dua tokoh seni tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh makna.
Kehadiran keduanya tidak hanya menjadi momentum silaturahmi antar maestro seni, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan motivasi bagi generasi muda, khususnya mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh, untuk lebih dekat dengan dunia seni, budaya, literasi dan kreativitas di tengah derasnya arus digitalisasi.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian program riset kebudayaan yang berhasil memperoleh pendanaan melalui Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia Tahun 2025.
Tiga dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Malikussaleh dinyatakan lolos dalam program tersebut, masing-masing Harinawati, MA dengan riset dan dokumentasi “Jejak Sang Maestro 55 Tahun Berkarya LK Ara Penyair Nasional”, Dr. Kamaruddin dengan riset tentang maestro pelukis nasional Sayed Dahlan Al Habsyie, serta Jafaruddin, M.Sos yang mengangkat pelestarian budaya Rapai Pase.
Dalam kegiatan itu, LK Ara tampil membacakan sejumlah puisi sekaligus berbagi pengalaman panjangnya selama puluhan tahun berkarya di dunia sastra Indonesia.
Penyair nasional asal Aceh Tengah tersebut juga memberikan berbagai trik dan teknik menulis puisi kepada mahasiswa, mulai dari membangun imajinasi, merangkai diksi hingga menjaga sensitivitas sosial dalam karya sastra.
Mahasiswa tampak antusias mengikuti sesi diskusi dan dialog bersama LK Ara. Berbagai pertanyaan diajukan terkait proses kreatif menulis puisi, perjalanan kesenian, hingga tantangan mempertahankan eksistensi sastra di era media sosial.
Baca juga: Maestro Sastra LK Ara Hadiahkan Buku Karyanya pada Walkot Sayuti, Dorong Pelestarian Sastra Aceh
Di sela kegiatan, mahasiswa juga tampil membacakan puisi karya sendiri, puisi berantai, hingga membacakan puisi karya LK Ara. Suasana semakin meriah dengan penampilan solo vokal mahasiswa sebagai penutup kegiatan.
Sementara itu, Sayed Al Habsyie berbagi pengalaman tentang perjalanan hidupnya sebagai pelukis nasional yang konsisten mengangkat nilai-nilai sejarah dan budaya Aceh dalam karya visualnya.
Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Dekan FISIP Universitas Malikussaleh, Teuku Zulkarnaen.
Dalam sambutannya, ia mengajak mahasiswa memanfaatkan kesempatan langka tersebut untuk belajar secara serius dari dua maestro nasional yang hadir di kampus.
“Kehadiran dua maestro ini merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi mahasiswa. Tidak semua kampus memiliki peluang menghadirkan tokoh seni nasional secara langsung untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman,” katanya.
Ia juga mengapresiasi dosen-dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Malikussaleh yang berhasil memperoleh hibah Dana Indonesiana untuk riset dan dokumentasi kebudayaan Aceh.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti bahwa kampus memiliki komitmen dalam pengembangan riset budaya dan pelestarian warisan lokal.
Dalam kesempatan itu, Teuku Zulkarnaen juga menyinggung capaian Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh yang baru saja memperoleh akreditasi unggul.
Meski demikian, ia mengingatkan sivitas akademika agar tidak berlebihan dalam euforia dan tetap fokus meningkatkan kualitas akademik dan kontribusi kepada masyarakat.
Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi, Awaluddin Arifin MIkom, turut meminta mahasiswa mengikuti kegiatan hingga selesai dan menggali sebanyak mungkin pengetahuan dari para maestro seni yang hadir.
Sementara itu, Harinawati menjelaskan bahwa kegiatan baca puisi bersama LK Ara merupakan bagian dari proses produksi film dokumenter yang sedang disusun timnya melalui Program Dana Indonesiana.
Sebelumnya, tim riset telah melakukan kunjungan ke kediaman LK Ara di Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah untuk mengumpulkan data dan dokumentasi perjalanan karya sastra sang penyair selama 55 tahun berkarya.
“Selain kegiatan hari ini, besok juga akan dilakukan pembacaan puisi dan proses perekaman tambahan di Makam Ratu Nahrisyah, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, untuk melengkapi film dokumenter,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Jafaruddin yang tengah melakukan riset pelestarian Rapai Pase.
Ia menyebutkan bahwa riset tersebut nantinya akan melahirkan buku dokumentasi budaya Rapai Pase serta promosi digital untuk memperkuat eksistensi seni tradisional Aceh di kalangan generasi muda.
“Saat ini proses pengumpulan data dan wawancara masih terus dilakukan bersama sejumlah syeh dan tokoh Rapai Pase, termasuk narasumber yang hadir dalam kegiatan ini,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Dr kamaruddin Hasan juga menyebutkan, Aceh merupakan tanah yang kaya sejarah, peradaban dan nilai luhur yang tidak hanya dapat diwariskan melalui buku dan sastra, tetapi juga melalui bahasa visual berupa lukisan.
“Karya seni memiliki nilai dokumentatif yang sangat kuat. Lukisan bisa menjadi ensiklopedia visual sejarah dan peradaban Aceh. Di tengah arus globalisasi, banyak karya budaya yang terancam hilang sehingga perlu ada upaya sistematis untuk menjaga dan mewariskannya kepada generasi muda,” ujar Kamaruddin.
Ia menambahkan bahwa karya seni budaya tidak sekadar menjadi media ekspresi, tetapi juga arsip visual perjalanan sebuah peradaban.
Seni, menurutnya, mampu menyatukan berbagai generasi tanpa memandang usia maupun latar belakang sosial.
Program Dana Indonesiana sendiri merupakan program fasilitasi dana hibah kebudayaan yang dikelola Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Abadi Kebudayaan LPDP.
Program tersebut diluncurkan untuk mendukung keberlanjutan pelestarian, pengembangan dan dokumentasi seni budaya nasional sebagai bagian dari amanat konstitusi dalam memajukan kebudayaan bangsa.(*)
Maestro Sastra LK Ara
Maestro Seni
Kisah Maestro Tari Aceh
Unimal
Serambinews.com
Serambinews
Aceh Utara
| Mahasiswa dan Pelajar Gelar Aksi Revegetasi dengan Tanam 600 Pohon Bernilai di Bantaran Sungai |
|
|---|
| Jadi Pengedar Sabu, Tiga Perempuan di Aceh Utara Ditangkap Polisi dalam Sebulan Terakhir |
|
|---|
| Personel Polres Aceh Utara Ikuti Tes Kesamaptaan Jasmani, Lari 12 Menit hingga Push Up Satu Menit |
|
|---|
| Menteri PU Resmikan Bendung Krueng Pase Aceh Utara |
|
|---|
| Gaji dan Pesangon 935 Karyawan KKA Belum Dibayar, Senator Azhari Cage: Segera Lunasi Hak Mereka |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dua-tokoh-seni-nasional-penyair-senior-LK-Ara-dan-pelukis-nasional-Sayed-Al-Habsyie.jpg)