Opini
Membangun Industri Untuk Kesejahteraan Rakyat Aceh
Lebih ironis lagi, persentase penduduk miskin Aceh pada Maret 2025 masih 12,33 persen.
Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh
EKONOMI merupakan satu kesatuan dari kerangka etika-religius Islam yang holistik.
Dalam pandangan Al-Ghazali, industri dasar seperti pertanian, tekstil, konstruksi, dan pemerintahan adalah fondasi kehidupan.
Tanpa keempatnya, masyarakat tidak akan berjalan. Aceh memiliki semua itu. Namun mengapa kesejahteraan masih jauh dari harapan?
Data BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) Aceh pada Februari 2025 mencapai 5,50 persen. Sekitar 149.000 orang menganggur.
Mayoritas dari mereka adalah anak muda berpendidikan tinggi. Ironis. Di tengah sumber daya alam yang melimpah, lulusan perguruan tinggi justru berdesakan di barisan pengangguran.
Lebih ironis lagi, persentase penduduk miskin Aceh pada Maret 2025 masih 12,33 persen. Angka ini tertinggi di Pulau Sumatera.
Aceh menyumbang hanya 4,99 persen terhadap PDRB Sumatera. Jauh di bawah Sumatera Utara (23,55 persen) dan Riau (22,84 persen).
Ketergantungan pada Bahan Mentah
Struktur ekonomi Aceh masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi 31,52 persen terhadap total PDRB.
Diikuti perdagangan (15,11 persen) dan administrasi pemerintahan (9,18 persen). Sektor industri pengolahan nyaris tak terdengar.
Baca juga: Dugaan Korupsi di KEK Arun, Jaksa Periksa Mantan Dirut PT PIM Sebagai Saksi
Ini masalah klasik. Aceh kaya komoditas. Kopi Gayo, kakao, kelapa sawit, batu bara, dan gas alam cair melimpah. Tapi Aceh hanya pemasok bahan baku.
Nilai tambah dinikmati provinsi lain. Seorang pengamat mengungkapkan, "Aceh belum pernah menjadi rumah produsen, selama ini hanya menjadi pemasok bahan baku bagi industri turunan CPO yang sudah berkembang di provinsi lain".
Aceh memiliki 242.819 hektar perkebunan kelapa sawit dan 55 unit pabrik CPO. Namun hingga kini, belum satu pun industri pengolahan minyak goreng berdiri di daerah ini. Bayangkan nilai tambah yang hilang setiap tahun.
Hierarki industri Al-Ghazali mengajarkan bahwa industri dasar harus menjadi prioritas. Tapi Aceh masih terjebak di level terendah: sebagai pemasok. Bukan pengolah. Bukan produsen.
Jalan Keluar dari Jebakan Bahan Baku
Solusinya jelas: hilirisasi. Membangun industri pengolahan di dalam negeri sendiri. Pemerintah Aceh mulai bergerak. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe menjadi motor utama.
| UIN Ar-Raniry Perkuat Kompetensi 87 Pengelola Perpustakaan Sekolah di Aceh Utara |
|
|---|
| Di USK, Wamendiktisaintek Prof Stella Sebut Pemerintah Anggarkan Rp 15,3 Triliun untuk Program KIP K |
|
|---|
| Peringati Hari Buruh, Pekerja Medco E&P Malaka Sumbang 136 Kantong Darah |
|
|---|
| Menyoal Pembatasan JKA |
|
|---|
| Jagung & Kolam Ikan Mulai Digarap di Bukitrata, Kodim Aceh Tamiang Bidik Penuhi Pasokan Pangan Lokal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/apridarrr.jpg)