Kamis, 14 Mei 2026

Opini

Keteguhan Iran di Tengah Badai Perpecahan dan Embargo

Kekuatan Islam sering dihancurkan dari dalam. Musuh menggunakan provokasi dan

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
hand over dokumen pribadi
Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si.l, Guru Besar Universitas Syiah Kuala dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh 

Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si.l, Guru Besar Universitas Syiah Kuala dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh

IRAN telah bertahan lebih dari 40 tahun di bawah embargo berat. Tekanan itu datang dari Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sanksi tersebut menargetkan sektor minyak, perbankan, dan militer Iran. Tujuannya jelas: melumpuhkan ekonomi dan memaksa perubahan kebijakan.

Namun Iran tidak runtuh. Bahkan, negara ini terus bangkit dan menunjukkan kekuatan yang mengejutkan dunia.

Strategi Pecah Belah Umat Islam

Kekuatan Islam sering dihancurkan dari dalam. Musuh menggunakan provokasi dan perpecahan sebagai senjata utama.

Iran diprovokasi sebagai negara Syiah yang dianggap lebih berbahaya dari Zionis. 

Narasi ini sengaja disebarkan untuk memecah belah persatuan umat Islam.

Seorang ulama Sunni Iran, Mamosta Malarshid Sana'i, memperingatkan bahwa musuh menciptakan istilah Syiah Inggris dan Sunnah Amerika sebagai alat perpecahan.

Menurutnya, Syiah Inggris merusak citra saudara Sunni, sementara Sunnah Amerika merusak nilai-nilai Syiah. Strategi ini bertujuan menghalangi persatuan Islam sejati yang dapat mengubah keseimbangan global.

Iran justru tampil sebagai pembawa persatuan di dunia Islam. Seperti ditegaskan Sana'i, Iran telah mengatasi berbagai konspirasi musuh. Pesannya kepada umat Islam lain adalah bergabung dengan Iran dalam memperjuangkan persatuan, karena solidaritas Islam dapat mengubah persamaan global.

Ketahanan Ekonomi yang Membantah Ramalan Kegagalan

Embargo tidak membuat Iran lumpuh. Sebaliknya, tekanan itu memaksa Iran membangun kemandirian. Sektor kimia menjadi bukti nyata. Iran mencapai swasembada penuh dalam produksi bahan kimia dan polimer utama.

Ekspor produk ini tidak terputus meskipun terkena sanksi internasional. Bahram Mavasat, wakil ketua Asosiasi Poliuretana Iran, menyatakan bahwa sektor kimia Iran menunjukkan fleksibilitas luar biasa dan terus memperluas pasar ekspor.

Iran mengekspor 1.250 kiriman bahan kimia ke berbagai tujuan dunia antara Maret 2023 dan Februari 2024. Ekspor kimia Iran tumbuh 147 persen dibandingkan tahun 2022. Mavasat menegaskan bahwa mekanisme sanksi snapback tidak menghalangi ekspor.

Produsen Iran telah lama berpengalaman menghadapi pembatasan dan tahu cara mempertahankan produksi dan perdagangan di bawah sanksi.

Baca juga: Membangun Industri Untuk Kesejahteraan Rakyat Aceh

Bidang bioteknologi juga menunjukkan kemajuan signifikan. Pada tahun 2025, Iran mencapai peringkat kedelapan global dalam penelitian dan pengobatan sel induk.

Negara ini membangun kapasitas produksi insulin dan plasma secara mandiri. Sebelumnya, kedua produk ini sepenuhnya diimpor dengan biaya lebih dari 300 juta dolar AS per tahun. Iran sekarang mengekspor produk bioteknologi ke setidaknya 17 negara, sebagian besar di kawasan regional.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved