Kamis, 21 Mei 2026

Berita Lhokseumaawe

Akademisi Aceh Dr Hilmi Beri Pandangan Penyebab Rupiah Terus Merosot

Akademisi Aceh, Dr Hilmi, SE, MM, CBA menyebutkan pada Rabu (20/5/2026) pagi, layar Bloomberg kembali memerah. 

Tayang:
Penulis: Saiful Bahri | Editor: Mursal Ismail
Serambinews.com/HO
PENYEBAB RUPIAH MELEMAH - Dosen pada Program Studi Magister Keuangan Islam Terapan Politeknik Negeri Lhokseumawe, Dr Hilmi, SE, MM, CBA, menyampaikan pandangan penyebab rupiah melemah. 

Ringkasan Berita:
  • Akademisi Aceh Dr Hilmi menyebut pelemahan rupiah hingga Rp17.743 per dolar AS dipicu kombinasi faktor global dan domestik, seperti kuatnya dolar AS dan konflik geopolitik. 
  • Pelemahan rupiah berdampak pada kenaikan harga barang impor, beban utang luar negeri, tekanan terhadap APBN dan meningkatnya inflasi impor. 
  • Dr Hilmi menilai intervensi Bank Indonesia saja tidak cukup tanpa penguatan fundamental ekonomi melalui transparansi, kepastian kebijakan fiskal, dan peningkatan produktivitas nasional.

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Saiful Bahri I Lhokseumawe

SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE - Akademisi Aceh, Dr Hilmi, SE, MM, CBA menyebutkan pada Rabu (20/5/2026) pagi, layar Bloomberg kembali memerah. 

Rupiah tercatat Rp17.743 per dolar AS, melemah 37 poin dalam satu hari.

"Bagi pelaku pasar, ini sekadar angka.

Bagi ibu rumah tangga di Pasar Inpres Lhokseumawe, bagi mahasiswa yang membayar SPP, bagi pengusaha kecil yang impor bahan baku, ini adalah tamparan langsung ke dompet," kata Dr Hilmi yang merupakan Dosen pada Program Studi Magister Keuangan Islam Terapan Politeknik Negeri Lhokseumawe.

Diuraikan, rupiah memang sedang tidak baik-baik saja. Sejak Januari 2026, mata uang rupiah kehilangan 6,54 persen nilainya. 

Puncaknya terjadi pada 19 Mei 2026 ketika rupiah menyentuh Rp17.765 per dolar AS, level terlemah sepanjang sejarah. 

Baca juga: Mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan Dipercaya Jadi Penasihat Kota Riyadh Arab Saudi

"Bank Indonesia menyebutnya tidak business as usua dan mengaku sudah meningkatkan dosis intervensi. Tapi pasar belum juga tenang," katanya.

Lantas mengapa rupiah terus rerpukul? menurut Dr Hilmi, penyebabnya tidak tunggal. Ini adalah kombinasi badai dari luar dan pekerjaan rumah di dalam negeri.

Pertama, dolar AS masih perkasa. The Fed belum menurunkan suku bunga.

Imbal hasil US Treasury tinggi, membuat dana global lebih memilih parkir di Amerika daripada di pasar negara berkembang.

Akibatnya, indeks dolar menguat dan mata uang negara lain, termasuk rupiah, ikut terseret.

Kedua, terjadi capital outflow. Investor asing menjual saham dan obligasi Indonesia.

Baca juga: Sisa Penyintas Banjir di Aceh Utara Masih Diverifikasi untuk Pengusulan Bantuan Capai 35.757 Rumah

"Pemicunya beragam, mulai dari kekhawatiran transparansi pasar modal hingga keputusan MSCI yang mengeluarkan lebih dari 12 emiten Indonesia dari indeks global.

Saat asing keluar, mereka menukar rupiah ke dolar. Tekanan jual pun tak terhindarkan," urainya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved