Kamis, 21 Mei 2026

Berita Lhokseumaawe

Akademisi Aceh Dr Hilmi Beri Pandangan Penyebab Rupiah Terus Merosot

Akademisi Aceh, Dr Hilmi, SE, MM, CBA menyebutkan pada Rabu (20/5/2026) pagi, layar Bloomberg kembali memerah. 

Tayang:
Penulis: Saiful Bahri | Editor: Mursal Ismail
Serambinews.com/HO
PENYEBAB RUPIAH MELEMAH - Dosen pada Program Studi Magister Keuangan Islam Terapan Politeknik Negeri Lhokseumawe, Dr Hilmi, SE, MM, CBA, menyampaikan pandangan penyebab rupiah melemah. 

Ketiga, faktor geopolitik. Konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak naik. Indonesia masih importir minyak bersih.

Harga minyak naik berarti kebutuhan dolar untuk impor energi juga naik, memperlebar defisit neraca perdagangan.

Keempat, pasar mulai gelisah melihat kondisi fiskal. Defisit APBN kuartal I-2026 mencapai Rp240,1 triliun, lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu. 

"Angka ini membuat investor bertanya: mampukah pemerintah menjaga defisit di bawah 3 persen PDB seperti amanat UU," ujarnya.

Dampaknya Tidak Abstrak

Dr Hilmi juga menjelaskan, pelemahan rupiah sering dibahas di ruang rapat dan seminar. Tapi dampaknya sangat konkret.

Harga barang impor naik. Mesin, bahan baku, obat-obatan, bahkan gandum untuk roti, semuanya dibeli pakai dolar.

Ketika rupiah melemah, biaya produksi naik. Produsen meneruskan kenaikan itu ke konsumen. Inflasi impor jadi keniscayaan.

Lanjutnya, utang luar negeri membengkak. Perusahaan dan pemerintah yang meminjam dalam dolar kini harus menyediakan lebih banyak rupiah untuk membayar cicilan.

Bagi perusahaan yang pendapatannya rupiah, ini bisa menjadi ancaman kelangsungan usaha.

Lalu, kata Dr Hilmi, APBN ikut terpukul. Subsidi energi dan pembayaran utang luar negeri menjadi lebih mahal.

Cadangan devisa BI sudah turun sekitar $10 miliar tahun ini untuk menahan kejatuhan rupiah. Ruang gerak kebijakan fiskal jadi makin sempit.

Hanya eksportir yang tersenyum. Bagi mereka, setiap dolar yang masuk bernilai lebih banyak rupiah. Sayangnya, jumlah eksportir di Indonesia jauh lebih kecil dibanding importir dan konsumen.

Pemerintah dan BI Tidak Diam

Menurut Dr Hilmi, Bank Indonesia tidak tinggal diam. Gubernur Perry Warjiyo menyatakan intervensi di pasar spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder terus ditingkatkan.

BI memprediksi tekanan akan mereda pada Juli-Agustus, ketika permintaan dolar untuk repatriasi dividen dan haji menurun.

Tapi intervensi punya batas. Cadangan devisa terkuras, dan jika kepercayaan pasar tidak pulih, upaya stabilisasi hanya menunda yang tak terhindarkan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved