Jumat, 29 Mei 2026

Seni Budaya

Raja Siwah, Jejak Rapai Geurimpheng dari Tanah Pasir yang Bertahan di Tengah Krisis Regenerasi

Berawal dari rapai berbaloh panjang yang dibeli secara gotong royong oleh warga seusai panen padi, kelompok Rapai Raja

Tayang:
Penulis: Jafaruddin | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Grup Rapai Raja Siwah dari Desa Alue, Kecamatan Tanah Pasir, Kabupaten Aceh Utara foto bersama seusai tampil beberapa waktu lalu sebagai upaya menjaga tradisi Rapai Geurimpheng. 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin | Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Berawal dari rapai berbaloh panjang yang dibeli secara gotong royong oleh warga seusai panen padi, kelompok Rapai Raja Siwah dari Desa Alue, Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara, terus bertahan hingga kini sebagai salah satu penjaga tradisi Rapai Geurimpheng di daerah tersebut.

Namun di tengah eksistensinya, kelompok Rapai Geurimpheng Raja Siwah kini menghadapi tantangan serius berupa minimnya regenerasi pemain muda.

Padahal, kesenian tradisional tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat sejak puluhan tahun silam.

Mayoritas penabuh rapai Raja Siwah saat ini merupakan pemain dewasa hingga lanjut usia yang tetap setia menjaga warisan budaya indatu atau nenek moyang mereka.

Kelompok seni tradisional ini dikenal sebagai salah satu tim rapai yang cukup disegani di kawasan Tanah Pasir.

Sejak dahulu, Raja Siwah kerap tampil dalam berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, pesta rakyat, hajatan warga hingga acara resmi pemerintahan di sejumlah wilayah seperti Cot Girek, Lhoksukon, dan beberapa kecamatan lainnya.

Jaga Warisan Indatu, Grup Rapai Raja Meudeuhak Bertahan dari Konflik hingga Banjir Bandang Besar

Burhanuddin (58), yang bertugas sebagai Apied atau asisten syekh dalam kelompok tersebut, mengatakan dirinya mulai mengenal rapai sejak duduk di bangku sekolah dasar pada era 1970-an. Sementara itu, ia mulai menjadi Apied Raja Siwah pada 1999.

Menurut Burhanuddin, pada masa lalu tim Raja Siwah menggunakan rapai dengan baloh atau badan rapai yang panjang, mencapai 50 hingga 60 sentimeter.

Rapai tersebut dibuat dari kayu pilihan seperti kayu tualang, juar atau cibrek dalam bahasa Aceh, serta kayu meureubo.

“Dulu balohnya panjang, sekitar 50 sampai 60 sentimeter. Rapai itu sering dimainkan dalam berbagai acara masyarakat maupun kegiatan pemerintah,” ujar Burhanuddin.

Sekitar tahun 1997 hingga 1998, kelompok Raja Siwah mulai menggunakan rapai dengan baloh yang lebih pendek.

Perubahan itu mengikuti perkembangan Rapai Geurimpheng yang sebelumnya diperkenalkan oleh Tgk Ilyasak dari Kecamatan Nisam sekitar tahun 1980-an.

Baloh pendek dipilih karena lebih praktis dan mudah dibawa saat tampil di berbagai lokasi.

“Bentuk balohnya dibuat pendek supaya lebih mudah dibawa. Sejak saat itu masyarakat lebih mengenal jenis rapai yang kami mainkan sebagai Rapai Geurimpheng. Namun, untuk suara lebih padu, tetap baloh panjang,” katanya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved