Opini
Memaknai Esensi Idul Adha di Era Digital
Al-Qur’an menegaskan bahwa makna kurban tidak terletak pada darah yang menetes atau daging yang dibagikan. Firman Allah dalam QS. Al-Hajj: 37
Oleh: Prof. Dr. Azharsyah Ibrahim, S.E.Ak., M.S.O.M
SETIAP 10 Zulhijjah, gema takbir berkumandang di seluruh penjuru dunia, menandai tibanya Idul Adha. Bagi banyak orang, perayaan ini identik dengan penyembelihan hewan kurban dan pembagian daging kepada sesama.
Namun, di balik ritual yang tampak sederhana itu, tersimpan pesan filosofis yang mendalam tentang cinta, ketaatan, dan pelepasan.
Al-Qur’an menegaskan bahwa makna kurban tidak terletak pada darah yang menetes atau daging yang dibagikan. Firman Allah dalam QS. Al-Hajj: 37 menyatakan: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” Ayat ini mengingatkan bahwa kurban sejatinya adalah latihan spiritual, bukan sekadar seremoni.
Dimensi Vertikal dan Horizontal
Kurban memiliki dua dimensi yang saling terkait. Pertama, dimensi vertikal, yaitu mendekatkan diri kepada Allah melalui ketakwaan. Kedua, dimensi horizontal, yaitu memperkuat solidaritas sosial dengan berbagi kepada sesama. Tanpa ketakwaan, kurban hanya menjadi formalitas filantropi, begitupun tanpa kepedulian sosial, kurban kehilangan daya ubahnya di tengah masyarakat.
Baca juga: Bukan Mafia Sitasi, Ini Jejaring Ilmu: Tanggapan untuk Teuku Muhammad Jamil
Ibadah kurban seharusnya dipahami lebih dari sekadar ritual tahunan. Ia adalah ikhtiar membersihkan ruang batin dari belenggu keterikatan duniawi—materi, status, kekuasaan, hingga pemujaan terhadap diri sendiri. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menjadi alegori paling jernih tentang hal ini.
Ibrahim diuji dengan perintah menyembelih putra tercintanya. Ismail pun dengan penuh kepasrahan berkata, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”
Kisah ini bukan romantisasi penderitaan, melainkan penegasan bahwa iman menuntut penertiban cinta. Ibrahim tidak diminta membenci anaknya, tetapi diuji apakah cintanya kepada anak lebih besar daripada cintanya kepada Tuhan. Dari sini, Idul Adha mengajarkan bahwa pengorbanan paling sukar sering kali bukan materi, melainkan kesediaan melepaskan apa yang paling memikat hati ketika hal itu menghalangi kebenaran.
“Ismail” di Era Digital
Pemikir Islam kontemporer, Ali Shariati, dalam bukunya Hajj, pernah melontarkan pertanyaan reflektif: “Siapakah Ismail-mu?” Pertanyaan ini relevan hingga kini. “Ismail” dalam konteks kekinian bukan hanya sosok manusia, melainkan segala sesuatu yang mengikat hati kita, membuat kita rela mengorbankan prinsip demi mempertahankannya.
Dalam konteks era digital, ada setidaknya tiga “Ismail” modern yang patut diwaspadai:
Pertama, candu validasi digital. Media sosial menjadikan likes, followers, dan views sebagai ukuran eksistensi. Banyak orang rela mengorbankan waktu, privasi, bahkan etika demi konten viral. Survei APJII dan BPS menunjukkan penetrasi internet di Indonesia lebih dari 70 persen, dengan ratusan juta pengguna media sosial.
UNESCO mencatat bahwa sebagian besar kreator digital menjadikan metrik media sosial sebagai penanda kredibilitas. Akibatnya, sorak sorai publik lebih dikejar daripada makna. Kurban di era ini berarti “menyembelih” ego narsistik dan kembali mencari ridha Sang Pencipta.
Kedua, kelekatan pada layar. Kita merasa sibuk, padahal tidak selalu produktif; selalu terhubung, padahal belum tentu hadir. Cal Newport, melalui gagasan digital minimalism, mengingatkan bahwa teknologi seharusnya menopang tujuan hidup, bukan menguasai fokus manusia. Kurban di era ini berarti keberanian “menyembelih” keterikatan pada layar, agar kita kembali hadir secara utuh dalam kehidupan nyata.
Ketiga, fanatisme dan hoaks. Ruang digital memunculkan “Ismail” dalam bentuk informasi palsu dan ujaran kebencian. UNESCO melaporkan lemahnya protokol pengecekan fakta di kalangan kreator digital, sehingga hoaks mudah menyebar.
Akibatnya, kohesi sosial terancam. Kurban di sini berarti menahan diri: tidak tergesa membagikan kabar, tidak mudah membenci, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan memutus persaudaraan.
Kurban sebagai Pembebas
Pada akhirnya, kurban bukanlah sekadar ritual menyembelih hewan yang selesai saat daging dibagikan. Jika berhenti pada seremoni tahunan, maknanya akan menguap begitu saja. Esensi kurban adalah latihan radikal untuk “merdeka” dari belenggu duniawi yang sering kali mengikat hati tanpa disadari.
Di zaman digital, ujian kita bukan lagi membawa putra ke altar persembahan, melainkan keberanian melepaskan ketergantungan pada layar, mematikan ambisi buta akan validasi media sosial, dan menyembelih ego yang haus pujian.
Idul Adha adalah momentum untuk menertibkan kembali cinta kita. Menjadi dekat dengan Sang Pencipta bukan berarti memiliki segalanya, melainkan sanggup merelakan apa yang berlebihan demi kemaslahatan sesama.
Dengan melepaskan keterikatan pada materi dan citra semu, kita justru menemukan kejernihan batin dan kemerdekaan hakiki.
Itulah bentuk ketakwaan paling nyata yang dibutuhkan saat ini. Kurban mengajarkan bahwa cinta sejati bukanlah kepemilikan, melainkan kesediaan melepaskan demi kebenaran.
Di era digital, pesan ini semakin relevan agar kita tidak terjebak dalam ilusi layar, sorak sorai maya, dan kabar palsu yang merusak persaudaraan. (*)
*) PENULIS adalah Profesor bidang Manajemen Syariah pada UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Azharsyah-Ibrahim.jpg)