Sabtu, 30 Mei 2026

Khutbah Jumat

Memaknai Pengorbanan dalam Ibadah Qurban

Persoalannya bukan apakah manusia berkorban atau tidak. Persoalannya adalah: untuk siapa dan untuk apa pengorbanan itu dilakukan?

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Mustafa Husen Woyla, khatib jumat di Mesjid Agung Baitul Makmur - Meulaboh, Aceh Barat, Jumat (29/5/2026) 

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

"Orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah." (QS. Al-Baqarah: 165)

Karena itu, tidak mengherankan apabila Nabi Ibrahim mampu melakukan berbagai pengorbanan yang secara manusiawi tampak melampaui batas nalar. Padahal beliau dikenal sebagai nabi yang berpikir rasional dan argumentatif dalam membela tauhid.

Rasulullah SAW bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا

"Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya." (HR. Bukhari)

Semakin besar cinta kepada Allah, semakin besar pula pengorbanan yang sanggup dilakukan seseorang.

Empat Ujian Menuju Khalilullah

Menjadi kekasih Allah bukanlah perjalanan tanpa ujian.

Pertama, Ibrahim harus berhadapan dengan kemusyrikan kaumnya. Ia memilih berdiri bersama kebenaran meskipun harus berbeda dengan masyarakat, keluarga, bahkan ayahnya sendiri.

Kedua, ia dilemparkan ke dalam kobaran api Namrud. Kekuasaan dan ancaman tidak mampu memaksanya meninggalkan tauhid. Ketika seluruh sebab dunia tampak tertutup, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya dengan menjadikan api itu dingin dan menyelamatkan hamba-Nya.

Baca juga: UIN Ar-Raniry Sembelih 64 Sapi, Bagikan 4.000 Paket Daging Kurban Hadiah UEA

Ketiga, Ibrahim diperintahkan meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah tandus yang kelak bernama Makkah. Secara lahiriah, keputusan itu tampak sangat berat. Namun ketika Hajar bertanya, "Apakah ini perintah Allah?" dan Ibrahim mengangguk, Hajar menjawab dengan penuh keyakinan:

إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا اللَّهُ

"Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami."

Kalimat singkat itu menjadi pelajaran besar tentang tawakal sepanjang zaman.

Keempat, datang ujian yang paling berat: perintah menyembelih Ismail, anak yang sangat dicintai dan telah lama dinantikan kehadirannya.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved