Minggu, 31 Mei 2026

Aceh Utara

Mengungkap Kisah Rapai Raja Buwah, Harta Budaya Tersembunyi dari Pedalaman Aceh

Dari sanalah bermula kisah sebuah rapai legendaris yang suaranya pernah menggetarkan panggung-panggung

Tayang:
Penulis: Jafaruddin | Editor: Nur Nihayati
Serambinews.com/Jafaruddin
Grup Rapai Raja Buwah dari Kemukiman Buwah, Kecamatan Baktiya Barat, Kabupaten Aceh Utara saat tampil dalam sebuah event di Aceh Utara. SERAMBI/JAFARUDDIN 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON - Jauh sebelum tampil di panggung-panggung nasional dan internasional, Rapai Raja Buwah lahir dari sebuah perjalanan panjang menembus rimba pedalaman Pase.

Baloh rapai tersebut dibuat dari kayu tualang pilihan melalui ritual adat yang ketat, rapai tua itu bukan sekadar alat musik tradisional, melainkan warisan budaya yang menyimpan kisah sejarah, spiritualitas, dan identitas masyarakat Aceh Utara selama ratusan tahun.

Hingga kini, salah satu rapai tertua yang masih tersisa tetap dijaga oleh para pewarisnya di Kemukiman Buwah, Kecamatan Baktiya Barat.

Dari sanalah bermula kisah sebuah rapai legendaris yang suaranya pernah menggetarkan panggung-panggung budaya, bahkan melahirkan berbagai cerita yang masih hidup dalam ingatan masyarakat Pase.

Baca juga: Raja Siwah, Jejak Rapai Geurimpheng dari Tanah Pasir yang Bertahan di Tengah Krisis Regenerasi

Dentuman Rapai Raja Buwah konon pernah memecahkan kaca sebuah toko dan merobohkan hamparan pohon talas yang berjarak ratusan meter dari lokasi pertunjukan. 

Terlepas dari benar atau tidaknya kisah yang diwariskan turun-temurun itu, Rapai Raja Buwah memang bukan rapai biasa.

Suaranya pernah menggema dalam berbagai perhelatan budaya dan acara kenegaraan, mulai dari penyambutan Presiden Republik Indonesia, Wali Nanggroe Aceh, peringatan perdamaian Aceh pasca-MoU Helsinki, hingga tampil di panggung nasional dan internasional.

Pertunjukan di Jakarta

Pada 2023, Grup Rapai Raja Buwah dipercaya mengisi pertunjukan di Gedung Kesenian Jakarta. Setahun sebelumnya, grup tersebut tampil dalam International Ethnic Music Festival di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, bersama kelompok seni dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara.

Namun, di balik berbagai penampilan bergengsi tersebut, tersimpan kisah panjang tentang lahirnya sebuah rapai yang hingga kini masih dianggap sebagai kebanggaan masyarakat Pase.

Untuk menelusuri sejarahnya, Serambinews.com mendatangi langsung Kemukiman Buawah dan mewawancarai sejumlah tokoh yang masih menyimpan cerita tentang rapai legendaris tersebut.

Mereka antara lain Muhammad Yusuf (75), Abdul Hadi atau Apied Syekh yang merupakan asisten syekh grup, serta Syekh Tayuddin (56), pimpinan Grup Rapai Raja Buwah saat ini.

Di antara puluhan rapai yang dimiliki kelompok tersebut, terdapat satu rapai tua yang diyakini telah berusia ratusan tahun. Rapai itulah yang dikenal dengan nama Rapai Raja Buwah dan kemudian menjadi identitas kelompok seni tersebut.

Menurut Muhammad Yusuf, sejarah Rapai Raja Buwah diperoleh dari cerita para pendahulu, terutama Keuchik Te atau Muhammad Te, seorang syekh rapai yang pernah memimpin kelompok itu pada masa kejayaannya.

“Berdasarkan cerita Keuchik Te, Rapai Raja Buwah dibuat oleh Utoh Baha,” ujar Muhammad Yusuf.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved