Minggu, 31 Mei 2026

Aceh Utara

Mengungkap Kisah Rapai Raja Buwah, Harta Budaya Tersembunyi dari Pedalaman Aceh

Dari sanalah bermula kisah sebuah rapai legendaris yang suaranya pernah menggetarkan panggung-panggung

Tayang:
Penulis: Jafaruddin | Editor: Nur Nihayati
Serambinews.com/Jafaruddin
Grup Rapai Raja Buwah dari Kemukiman Buwah, Kecamatan Baktiya Barat, Kabupaten Aceh Utara saat tampil dalam sebuah event di Aceh Utara. SERAMBI/JAFARUDDIN 

Kisah pembuatannya bermula dari perjalanan panjang ke tengah hutan untuk mencari kayu yang dianggap layak dijadikan rapai. 

Namun pencarian itu tidak dilakukan sembarangan. Sebelum menebang pohon, Utoh Baha dan rombongannya terlebih dahulu menjalani serangkaian ritual adat.

Mereka meminta izin kepada pohon yang akan ditebang dan menunggu petunjuk melalui mimpi. 

Jika dalam mimpi pohon tersebut dianggap layak dijadikan rapai, barulah dilakukan prosesi peusijuek sebagai tanda dimulainya pekerjaan.

“Kalau dalam mimpi dianggap layak dijadikan rapai, baru dilakukan peusijuek. Itu bisa dilakukan berkali-kali, bahkan sampai tujuh hari,” kata Muhammad Yusuf.

Setelah mendapatkan pohon yang dianggap tepat, mereka memilih kayu tualang berukuran besar. 

Dari satu batang kayu tersebut berhasil dibuat 12 baloh atau badan rapai. Beberapa di antaranya kemudian diberi nama seperti Raja Muda Buwah dan Sidara Buwah.

Namun proses pembuatan tidak berjalan sepenuhnya mulus. Saat mengerjakan rapai ke-12, serpihan kayu hasil pahatan mengenai mata kiri Utoh Baha hingga menyebabkan cedera serius.

Peristiwa itu membuat pengerjaan rapai terakhir dihentikan. Utoh Baha dan rombongannya kemudian membawa pulang 11 rapai yang telah dibentuk dari tengah hutan menuju Raja Buwah dengan berjalan kaki menembus rimba.

“Kadang mereka harus menginap di hutan. Bisa sampai sebulan untuk menghasilkan rapai,” ungkap Muhammad Yusuf.

Sesampainya di kampung, rapai-rapai tersebut kembali dipeusijuek sebelum memasuki tahap penyempurnaan. 

Baloh kemudian dihiasi dengan ukiran garis melingkar yang hingga kini masih menjadi ciri khas Rapai Raja Buawah.

Keistimewaan rapai tersebut tidak hanya terletak pada bahan kayunya, tetapi juga pada proses pemilihan kulit lembu yang digunakan sebagai membran penutup.

Menurut Muhammad Yusuf, pemilihan kulit dilakukan secara khusus agar menghasilkan suara yang kuat dan bergemuruh.

“Kalau tidak salah, syaratnya saat itu harus lembu berwarna hitam dan matanya buta sebelah,” ujarnya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved