Senin, 1 Juni 2026

Berita Aceh Timur

Masyarakat Blang Geulumpang Aceh Timur Laksanakan Khanduri Laot

Semarak tradisi Khanduri Laot yang digelar masyarakat nelayan Gampong Blang Geulumpang Kuala Idi, Aceh Timur, Minggu (31/5/2026).

Tayang:
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky, saat membagikan santunan kepada anak-anak di acara Khanduri Laot, pada Minggu (31/5/2026) . 

Ringkasan Berita:Tradisi Khanduri Laot digelar masyarakat nelayan Gampong Blang Geulumpang Kuala Idi, Aceh Timur, sebagai wujud syukur, doa keselamatan, dan mempererat kebersamaan warga pesisir.
 
Bupati Iskandar Usman Al-Farlaky menegaskan peran Panglima Laot sangat strategis dalam mengatur tata kelola laut, menjaga harmoni masyarakat, dan melestarikan sumber daya perikanan.
 
Menurutnya, nilai gotong royong, adat, dan kebersamaan yang hidup dalam Khanduri Laot harus menjadi fondasi pembangunan Aceh Timur

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Maulidi Alfata | Aceh Timur

SERAMBINEWS.COM, IDI - Semarak tradisi Khanduri Laot yang digelar masyarakat nelayan Gampong Blang Geulumpang Kuala Idi, Aceh Timur, Minggu (31/5/2026).

Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky menyampaikan pesan yang melampaui ritual tahunan itu adat bukan warisan masa lalu, melainkan kekuatan nyata untuk membangun daerah.

Berbincang langsung dengan tokoh adat dan para nelayan di sela kegiatan yang juga dirangkai dengan santunan anak yatim tersebut, Al-Farlaky menegaskan bahwa lembaga adat  khususnya Panglima Laot memegang peran strategis yang kerap luput dari perhitungan pembangunan modern.

"Panglima Laot bukan sekadar simbol. Mereka mengatur tata kelola laut, menjaga harmoni masyarakat pesisir, dan ikut melestarikan sumber daya perikanan," ujarnya, pada Minggu (31/5/2026).

Baca juga: Eksis Sejak Abad ke-14, Panglima Laot Jadi Materi Kuliah Lapangan Mahasiswa Agribisnis USK

Pernyataan itu bukan tanpa konteks. Aceh Timur, dengan garis pantai panjang dan ribuan keluarga nelayan sebagai tulang punggung ekonominya, menghadapi tantangan ganda: tekanan eksploitasi sumber daya laut di satu sisi, dan erosi nilai-nilai lokal di sisi lain.

Al-Farlaky menyebut pembangunan daerah yang hanya mengejar angka infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi sebagai pembangunan yang timpang.

 "Kita butuh Aceh Timur yang maju, tapi juga kuat dalam adat, budaya, dan kebersamaan yang diwariskan leluhur," katanya.

Tradisi syukuran laut

Ia mendorong agar tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat tidak sekadar hadir dalam forum seremonial, melainkan dilibatkan aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan. 

Sinergi itu, menurutnya, menjadi syarat agar hasil pembangunan benar-benar merata.

Baca juga: Khanduri Laot di Aceh Barat, Nelayan Berdoa dan Berkomitmen Jaga Kelestarian Laut

Khanduri Laot sendiri merupakan tradisi syukuran laut yang telah mengakar di komunitas nelayan Aceh. 

Setiap tahun, warga berkumpul untuk berdoa bersama, mempererat silaturahmi, dan memohon keselamatan dalam mencari nafkah di laut. 

Bagi Al-Farlaky, tradisi ini adalah cermin dari modal sosial yang justru harus diperkuat, bukan dibiarkan terkikis.

"Nilai gotong royong dan kebersamaan yang hidup dalam Khanduri Laot adalah aset yang tidak ternilai. Itu yang akan kita jadikan fondasi pembangunan ke depan," pungkasnya.

Baca juga: Pencairan Gaji 13, Taspen Sebut Mulai 2 Juni 2026, Cek Daftar ASN yang Tidak Menerimanya Tahun Ini

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved