Kupi Beungoh
Sepucuk Surat untukmu, Pancasila
Engkau lahir bukan sekadar sebagai pemenuh syarat formalitas sebuah negara berdiri, bukan pula sekadar hiasan konstitusi. Tujuan kelahiranmu begitu
Oleh: Maimun Panga*)
HARI ini hari lahirnya kamu. Delapan puluh satu tahun yang lalu, di bawah langit Nusantara yang sarat akan keringat dan darah perjuangan, nama-mu pertama kali dibisikkan oleh Bung Karno ke semesta Indonesia.
Engkau lahir bukan sekadar sebagai pemenuh syarat formalitas sebuah negara berdiri, bukan pula sekadar hiasan konstitusi.
Tujuan kelahiranmu begitu agung dan suci: menjadi sebuah fondasi filosofis yang kokoh, serta kompas moral yang merajut jutaan kepala, ribuan pulau, dan ratusan keyakinan agar kami tidak saling mencerai-beraikan diri.
Engkau lahir membawa janji, bahwa di tanah ini, keadilan sosial bukanlah mimpi yang mati bagi rakyat kecil, melainkan hak nyata yang bisa dipeluk oleh siapa saja tanpa terkecuali.
Namun, Pancasila… di hari ulang tahunmu ini, berdirilah kami di hadapanmu dengan wajah tertunduk dan hati yang remuk.
Izinkan kami bersimpuh, mengeja luka, dan meminta maaf yang sebesar-besarnya dari lubuk jiwa yang paling dalam.
Maafkan kami atas segala bentuk ketidaktaatan, pengkhianatan kasat mata, dan kelalaian tak berujung kami terhadap setiap butir nilai luhur yang engkau titipkan.
Sungguh menyedihkan melihat bagaimana engkau kini kerap kami reduksi sekadar menjadi tameng retorika politik di panggung kekuasaan.
Kami begitu bangga memajang fotomu di dinding-dinding gedung megah yang ber-AC, namun di saat yang sama, kami tega menginjak-injak silamu dalam lembar kebijakan publik sehari-hari.
Maafkan kami, Pancasila. Tangis rakyat kecil di pinggiran rel dan sudut-sudut desa terpencil menjadi bukti betapa kami masih gagal merawatmu.
Maaf karena kami masih sering mempolitisasi perbedaan demi syahwat kekuasaan yang fana, membiarkan jurang kesenjangan sosial kian menganga hingga yang kaya makin meraja dan yang miskin makin nelangsa.
Maaf karena hukum di rumah yang engkau jaga ini kian hari kian tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas, mempermainkan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab.
Kami teramat sering melupakanmu saat kami sedang tamak memangku jabatan, dan dengan egoisnya baru mengingat namamu saat kami butuh alat untuk menghakimi dan menuding sesama saudara sebangsa.
Harapan kami yang tersisa saat ini, semoga engkau berumur panjang, Pancasila.
| Regenerasi Kepemimpinan Fakultas: Smart Humanocracy Governance |
|
|---|
| Janji Helsinki Belum Lunas: Menimbang Suara Delapan Fraksi dalam Revisi UUPA |
|
|---|
| Surga Tersembunyi di Lembah Beutong, Irigasi Ulee Jalan Menjelma Jadi Objek Wisata Lokal |
|
|---|
| Tarik Ulur Gas Andaman: Akankah Pemerintah RI Korbankan Masa Depan Industri Aceh? |
|
|---|
| Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal Daerah di Tengah Dinamika Global |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Maimun-Panga-83ie.jpg)