Senin, 8 Juni 2026

Berita Banda Aceh

Panggung Seniman Aceh Dinilai Kian Menyempit, Budayawan Minta Kebudayaan Jadi Prioritas Pembangunan

Ruang ekspresi bagi seniman Aceh dinilai semakin menyempit di tengah derasnya pembangunan fisik dan arus modernisasi.

Tayang:
Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
KURANG RUANG BERKARYA – Pakar Analisis Budaya dan Geopolitik Timur Tengah, Reza Maulana, mengungkap banyak seniman di Tanah Rencong saat ini mulai merasakan berkurangnya ruang untuk berkarya, Jumat (5/6/2026). 

Ringkasan Berita:Pakar budaya Aceh, Reza Maulana, menilai ruang ekspresi bagi seniman di Aceh semakin menyempit akibat dominasi pembangunan fisik dan minimnya perhatian terhadap sektor kebudayaan.
 
Seni dan budaya merupakan fondasi penting peradaban, sementara seniman berperan sebagai penjaga memori kolektif, identitas, serta nilai-nilai masyarakat.
 
Ia mendorong pemerintah Aceh menjadikan kebudayaan sebagai prioritas pembangunan dan memberi ruang lebih luas bagi seniman agar warisan budaya Aceh tetap lestari

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Ruang ekspresi bagi seniman Aceh dinilai semakin menyempit di tengah derasnya pembangunan fisik dan arus modernisasi. 

Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengancam keberlangsungan warisan budaya Aceh jika tidak diimbangi dengan perhatian yang memadai terhadap sektor kebudayaan.

Pakar Analisis Budaya dan Geopolitik Timur Tengah, Reza Maulana, mengatakan banyak seniman di Tanah Rencong saat ini mulai merasakan berkurangnya ruang untuk berkarya dan berekspresi.

“Kegelisahan itu bukan sekadar soal minimnya anggaran atau berkurangnya jumlah pertunjukan, melainkan tentang semakin menyempitnya ruang hidup bagi para seniman Aceh,” kata Reza dalam keterangannya, Jumat (5/6/2026).

Menurutnya, panggung-panggung kebudayaan yang selama ini menjadi ruang ekspresi, pendidikan, dan pembentukan karakter masyarakat perlahan mulai terpinggirkan. 

Perhatian pemerintah dan publik hari ini lebih banyak tersedot pada pembangunan infrastruktur dan agenda-agenda seremonial.

Padahal, kata Reza, sejarah menunjukkan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik semata, tetapi juga oleh perkembangan seni dan kebudayaannya.

Baca juga: Seniman asal Aceh Agus Nuramal akan Tampil di Pameran Internasional Pinacoteca de São Paulo, Brasil

“Tidak ada bangsa besar yang lahir hanya dari beton, jalan raya, gedung megah, atau angka pertumbuhan ekonomi semata. 

Peradaban besar selalu dibangun oleh manusia-manusia kreatif yang melahirkan karya seni, sastra, musik, film, teater, dan berbagai bentuk ekspresi budaya lainnya,” ujarnya.

Kepala Bidang Riset dan Penelitian Budaya Komunitas Aceh Bergerak itu mencontohkan, sejumlah negara yang berhasil menjadikan kebudayaan sebagai bagian penting dari pembangunan nasional. 

Jepang, misalnya, terus melestarikan seni tradisional seperti Kabuki, Noh, dan Bunraku melalui dukungan negara. 

Kemudian, Korea Selatan berhasil mengembangkan industri kreatif yang melahirkan gelombang budaya global atau Korean Wave. 

Selain itu, Iran dan Prancis juga disebut tetap memberikan ruang luas bagi seniman dan budayawan sebagai bagian dari strategi memperkuat identitas bangsa.

Atas dasar itu, Reza menilai Aceh sebenarnya memiliki kekayaan budaya yang sangat besar, mulai dari hikayat, seni tutur, rapai, seudati, saman, didong, sastra hingga perfilman lokal. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved