Berita Aceh Utara
Dari Geunta Alam ke Sibrok Blang Pha, Kisah Grup Rapai Pase Bertahan Saat Konflik, Tsunami & Banjir
Dentuman Rapai Pase dari Desa Blang Pha, Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, barangkali tidak lagi seramai masa kejayaannya puluhan tahun lalu
Penulis: Jafaruddin | Editor: Muhammad Hadi
Ringkasan Berita:Grup Rapai Sibrok Blang Pha, yang dahulu bernama Geunta Alam, terus mempertahankan tradisi Rapai Pase meski pernah terhenti akibat konflik Aceh, pandemi Covid-19, tsunami, dan banjir besar.Kelompok yang kini beranggotakan sekitar 25 orang itu tetap aktif berlatih dan mengikuti berbagai kompetisi budaya, sekaligus menyiapkan generasi muda sebagai penerus seni rapai.menjaga Rapai Pase bukan sekadar kesenian, melainkan amanah leluhur yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Dentuman Rapai Pase dari Desa Blang Pha, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, barangkali tidak lagi seramai masa kejayaannya puluhan tahun lalu.
Namun, di balik suara yang masih menggema itu, tersimpan kisah panjang tentang keteguhan menjaga warisan budaya di tengah berbagai ujian zaman.
Dari mulai Konflik Aceh berkepanjangan dari 1999-2005, kemudian tsunami Aceh-Nias 2004, pandemi Covid-19 dari 2021-2023, hingga banjir besar yang melanda Aceh Utara pada akhir 2025 pernah menghentikan aktivitas mereka.
Namun satu hal yang tidak pernah hilang adalah tekad para pemain untuk mempertahankan Rapai Pase sebagai warisan indatu atau leluhur.
Grup yang kini dikenal dengan nama Rapai Sibrok Blang Pha itu awalnya bernama Geunta Alam.
Nama tersebut kemudian diganti menjadi Rapai Sibrok Blang Pha atas usulan Tgk Imum Sufi, tokoh masyarakat asal Desa Blang Pha.
Perjalanan grup ini tidak terlepas dari sosok Hasbi Abdullah, seorang maestro Rapai Pase yang memimpin kelompok tersebut hingga wafat pada 1994 dalam usia lebih dari 70 tahun.
Baca juga: Tak Dianggap di Masa Lalu, Rapai Sibrok dari Tualang Peninggalan Syekh Abad ke-19, Kini Primadona
Setelah itu kepemimpinan diteruskan oleh anak keempatnya, Zamanhuri alias Moris.
"Sebagian besar keluarga kami memang pemain rapai. Dari dulu sampai sekarang, rapai sudah menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami," kata Moris kepada Serambinews.com, Jumat (5/6/2026), di sebuah warung kopi di kawasan Pantonlabu.
Moris merupakan satu dari tujuh bersaudara. Jejak kesenian rapai telah mengalir dalam keluarganya selama beberapa generasi.
Bahkan kakek dan para leluhurnya juga dikenal sebagai pemain Rapai Pase di kawasan Seunuddon.
Meski aktif sejak lama, kelompok tersebut baru memiliki legalitas resmi pada 2019.
Saat itu Moris yang juga aktif di Dewan Kesenian Kecamatan (DKK) Seunuddon mendaftarkan grupnya melalui akta notaris.
“Karena ketika itu pemerintah mensyaratkan kelengkapan administrasi untuk mengakses bantuan dan pendanaan kegiatan kebudayaan,” ujar Moris.
| Kisah Rapai Sibrok yang Telah Sejak Abad ke-19, Sempat tak Dianggap Kini Malah Jadi Primadona |
|
|---|
| Tak Dianggap di Masa Lalu, Rapai Sibrok dari Tualang Peninggalan Syekh Abad ke-19, Kini Primadona |
|
|---|
| Hujan Badai Landa Sejumlah Kecamatan di Aceh Utara, Belasan Rumah Rusak & Pengendara Wanita Terluka |
|
|---|
| Kerusakan Huntara Akibat Angin Kencang di Langkahan Aceh Utara Bertambah, Kini Jadi 69 Unit |
|
|---|
| Karyawan Kebun Cot Girek Kecewa Audiensi dengan Bupati Gagal Gegara Ayahwa Dinas Luar Daerah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/rapai-pase_aceh-utara_2026.jpg)