Berita Aceh Utara
Dari Geunta Alam ke Sibrok Blang Pha, Kisah Grup Rapai Pase Bertahan Saat Konflik, Tsunami & Banjir
Dentuman Rapai Pase dari Desa Blang Pha, Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, barangkali tidak lagi seramai masa kejayaannya puluhan tahun lalu
Penulis: Jafaruddin | Editor: Muhammad Hadi
Kini Grup Rapai Sibrok Blang Pha memiliki sekitar 25 anggota tetap yang berasal dari berbagai desa, seperti Blang Pha, Paya Dua Uram, Matang Anoe, Alue Caplie, Matang Jeulikat hingga Tanjong Pineung.
Mayoritas pemain berusia di atas 60 tahun, meski beberapa anggota berasal dari kalangan pelajar SMA yang sedang dipersiapkan sebagai generasi penerus.
Baca juga: Syekh Ahmad, Enam Dekade Menjaga Warisan Rapai Pase di Pirak Timu
Grup Rapai Sibrok Blang Pha memiliki rapai andalan Sibrok, dan rapai legendaris lain yang masing-masing menyimpan kisah tersendiri, seperti Raja Bujok, Bulukat Teubai, Taen Gulong, Boh Langai, Leumo Peu Ateung, Pinto Rimba dan Si Pirak.
Selama lebih dari dua dekade terakhir, kelompok ini dipimpin oleh Syekh Tarmizi yang kini berusia lebih dari 60 tahun. Ia didampingi Abdul Munir sebagai Apied atau asisten syekh.
Setiap kali berlatih, para pemain berkumpul mulai pukul 22.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB dini hari.
Jadwal tersebut disepakati bersama warga agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat sekitar.
"Tidak pernah berhenti latihan. Setelah banjir besar akhir tahun 2025 kami tetap latihan. Cuma sekarang sedang berhenti sementara karena sudah masuk musim haji," ujar Moris.
Menurutnya, latihan akan kembali dimulai setelah para calon jamaah haji asal daerah tersebut kembali ke daerah dari Tanah Suci.
Tradisi menghentikan latihan pada musim haji merupakan pesan yang diwariskan para pemain rapai generasi terdahulu.
"Ini pesan orang-orang tua dulu. Kalau musim haji, latihan rapai tidak diadakan," katanya.
Perjalanan kelompok tersebut tidak selalu berjalan mulus. Saat konflik Aceh berlangsung pada periode 1999 hingga 2005, aktivitas rapai nyaris terhenti total.
Situasi keamanan ketika itu membuat masyarakat membatasi berbagai aktivitas yang melibatkan keramaian.
"Kami tidak latihan selama masa konflik. Rapai mulai hidup lagi setelah perdamaian Aceh dan penandatanganan MoU Helsinki tahun 2005," ungkap Moris.
Cobaan berikutnya datang saat pandemi Covid-19. Selama periode 2021 hingga 2023, latihan kembali terhenti karena pembatasan aktivitas masyarakat dan aturan menjaga jarak.
Baca juga: DKA Gelar FGD ‘Aceh Menuju Darurat Kesenian’
Belum lama bangkit dari pandemi, banjir besar yang merendam sebagian wilayah Aceh Utara pada akhir 2025 kembali menjadi tantangan bagi para pemain rapai.
| Kisah Rapai Sibrok yang Telah Sejak Abad ke-19, Sempat tak Dianggap Kini Malah Jadi Primadona |
|
|---|
| Tak Dianggap di Masa Lalu, Rapai Sibrok dari Tualang Peninggalan Syekh Abad ke-19, Kini Primadona |
|
|---|
| Hujan Badai Landa Sejumlah Kecamatan di Aceh Utara, Belasan Rumah Rusak & Pengendara Wanita Terluka |
|
|---|
| Kerusakan Huntara Akibat Angin Kencang di Langkahan Aceh Utara Bertambah, Kini Jadi 69 Unit |
|
|---|
| Karyawan Kebun Cot Girek Kecewa Audiensi dengan Bupati Gagal Gegara Ayahwa Dinas Luar Daerah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/rapai-pase_aceh-utara_2026.jpg)