Minggu, 7 Juni 2026

Berita Banda Aceh

Perdamaian Berkelanjutan Perlu Keadilan dan Partisipasi Masyarakat, Ini Pesan Michael Beer di USK

Kegiatan tersebut menghadirkan Michael Beer, aktivis perdamaian sekaligus Direktur Nonviolence International (NVI) yang selama ini dikenal aktif

Tayang:
Penulis: Sara Masroni | Editor: Mursal Ismail
Serambinews.com/HO
FOTO BERSAMA - Michael Beer, aktivis perdamaian sekaligus Direktur Nonviolence International (NVI) foto bersama usai menjadi pembicara dalam kuliah tamu di ruang seminar Prodi MDRK, Pascasarjana USK, Banda Aceh, Minggu (7/6/2026).  

Ringkasan Berita:
  • MDRK USK menggelar kuliah tamu bertema perdamaian, Palestina, dan politik luar negeri Amerika Serikat dengan menghadirkan aktivis perdamaian sekaligus Direktur NVI, Michael Beer.
  • Michael Beer menilai konflik Aceh tidak hanya berkaitan dengan aspek keamanan, tetapi juga dipengaruhi persoalan HAM, marginalisasi politik, ketidakadilan ekonomi, dan terbatasnya ruang dialog.
  • Ia menegaskan perdamaian berkelanjutan membutuhkan keadilan, kepercayaan, penghormatan HAM serta keterlibatan masyarakat sipil. 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Sara Masroni | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Program Studi Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK) Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar kuliah tamu (guest lecture) bertema “NVI, Palestine, and US Politics and Foreign Policy” di ruang seminar Prodi MDRK, Banda Aceh, Minggu (7/6/2026). 

Kegiatan tersebut menghadirkan Michael Beer, aktivis perdamaian sekaligus Direktur Nonviolence International (NVI) yang selama ini dikenal aktif menulis dan mengikuti perkembangan isu konflik serta perdamaian di Aceh.

Dalam pemaparannya, Michael Beer menjelaskan bahwa konflik Aceh tidak dapat dipahami semata sebagai persoalan keamanan atau konflik bersenjata antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Menurutnya, konflik juga berkaitan dengan berbagai faktor lain, seperti pelanggaran hak asasi manusia, marginalisasi politik, ketidakadilan ekonomi, dan terbatasnya ruang dialog antara masyarakat Aceh dengan pemerintah pusat.

“Konflik Aceh tidak hanya persoalan keamanan. Ada berbagai persoalan sosial, politik, dan kemanusiaan yang ikut membentuk dinamika konflik tersebut,” kata Michael Beer.

Ia juga mengajak peserta melihat berbagai perkembangan konflik di Palestina, Israel, Iran, dan Amerika Serikat sebagai bahan refleksi untuk memahami pentingnya membangun perdamaian yang berkelanjutan.

Baca juga: Akademisi Unimal Nilai Pancasila Relevan Jadi Model Komunikasi Perdamaian Dunia

Menurut Beer, berbagai kesepakatan politik dan diplomasi memang dapat menghentikan kekerasan dalam jangka pendek, tetapi belum tentu mampu menyelesaikan akar persoalan yang mendasari konflik.

“Perdamaian bukan hanya penandatanganan kesepakatan politik, tetapi proses panjang membangun keadilan, kepercayaan, dialog, dan partisipasi masyarakat,” ujarnya.

Beer menjelaskan bahwa dalam perspektif studi perdamaian, keberlanjutan perdamaian memerlukan pembangunan kepercayaan antarkelompok, penguatan institusi yang adil, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta keterlibatan masyarakat sipil dalam proses penyelesaian konflik.

Karena itu, upaya membangun perdamaian tidak cukup dilakukan melalui pendekatan dari atas, tetapi juga harus melibatkan masyarakat di tingkat akar rumput.

“Perdamaian harus tumbuh dari bawah dan melibatkan masyarakat. Ketika masyarakat menjadi bagian dari proses tersebut, peluang terciptanya perdamaian yang bertahan lama akan semakin besar,” tambahnya.

Diskusi tersebut turut dihadiri Prof Agussabti, Saifuddin Bantasyam, Munawarliza, Muslahudin Daud, pegiat sosial perdamaian, dosen, serta mahasiswa Prodi MDRK.

Baca juga: Perang dan Damai Bagian 20 - Perundingan Perdamaian, Mengakhiri Penderitaan Global

Pada akhir kegiatan, Michael Beer menyerahkan bukunya yang berjudul Civil Resistance Tactics in the 21st Century.

Sementara itu, Koordinator Prodi MDRK, Dr Masrizal MA, menyerahkan sejumlah buku karya dosen yang diterbitkan bersama Kesbangpol Aceh kepada Michael Beer sebagai bentuk pertukaran pengetahuan dan penguatan kerja sama akademik. (*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved