Minggu, 7 Juni 2026

Berita Banda Aceh

Gas Andaman Harus Jadi Mesin Industrialisasi Aceh

“Kalau ada perbedaan pandangan mengenai desain proyek, jalur yang paling produktif adalah duduk bersama dan bernegosiasi langsung,”

Tayang:
Editor: mufti
SERAMBINEWS.COM
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

“Kalau ada perbedaan pandangan mengenai desain proyek, jalur yang paling produktif adalah duduk bersama dan bernegosiasi langsung,” AHMAD HUMAM HAMID, Sosiolog

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Polemik mengenai lokasi fasilitas pengolahan gas Andaman dinilai tidak boleh mengaburkan agenda yang lebih besar, yakni bagaimana Aceh memperoleh manfaat ekonomi maksimal dari penemuan cadangan gas terbesar di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.

Sosiolog sekaligus Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK), 

Prof Ahmad Humam Hamid, mengatakan perdebatan mengenai pembangunan fasilitas pengolahan gas di laut (offshore/floating) atau di darat (onshore) seharusnya ditempatkan dalam konteks yang lebih strategis.

“Jangan sampai perhatian publik tersita pada perdebatan lokasi fasilitas pengolahan. Yang lebih penting adalah bagaimana Aceh memperoleh nilai tambah terbesar dari proyek gas Andaman,” kata Humam kepada Serambi, Sabtu (6/6/2026).

Menurutnya, bagi investor, termasuk Mubadala Energy sebagai operator utama proyek tersebut, penentuan lokasi fasilitas pengolahan sangat dipengaruhi pertimbangan teknis dan bisnis, seperti efisiensi investasi, keekonomian proyek, keselamatan operasi, serta manajemen risiko.

Karena itu, yang perlu diperjuangkan Pemerintah Aceh bukan semata-mata lokasi pengolahan awal gas, melainkan memastikan sebagian gas Andaman dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembangunan industri hilir di Aceh.

“Pertanyaan strategisnya bukan di mana gas pertama kali diproses, tetapi apakah gas itu bisa menjadi fondasi pembangunan industri pupuk, amonia, metanol, dan petrokimia di Aceh,” ujarnya.

Humam mengingatkan, apabila gas Andaman hanya diekspor atau dialirkan ke luar daerah tanpa proses hilirisasi, Aceh berpotensi mengulangi pengalaman masa lalu sebagai daerah penghasil sumber daya alam tanpa menjadi pusat pertumbuhan industri.

“Nilai tambah terbesar, lapangan kerja terbesar, dan investasi manufaktur terbesar justru akan berkembang di tempat lain. Aceh hanya menerima sebagian manfaat fiskal, sementara aktivitas ekonomi utama berlangsung di luar daerah,” kata Humam.

Menurut dia, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun di Lhokseumawe memiliki modal yang sangat kuat untuk dikembangkan sebagai pusat industri berbasis gas. Kawasan tersebut telah didukung pelabuhan laut dalam, infrastruktur energi, kawasan industri, serta pengalaman panjang dalam pengelolaan industri gas.

Selain itu, posisi geografis Aceh dinilai sangat strategis karena berada di pintu masuk Selat Malaka dan dekat dengan pasar besar di kawasan Asia Selatan maupun Asia Tenggara. 

“India, Bangladesh, Pakistan, dan negara-negara ASEAN merupakan pasar yang sangat besar. Kebutuhan pupuk, amonia, metanol, dan produk petrokimia akan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut,” ucapnya.

Karena itu, Humam menilai visi besar yang perlu diperjuangkan Aceh adalah menjadikan KEK Arun sebagai pusat petrokimia nasional di Indonesia bagian barat sekaligus hub industri berbasis gas untuk pasar Indo-Pasifik.

“Kalau yang dibangun hanya fasilitas pengolahan awal, manfaat ekonominya terbatas. Tetapi jika yang tumbuh adalah industri petrokimia dan turunannya, dampaknya terhadap perekonomian Aceh akan jauh lebih besar,” ujarnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved