Senin, 8 Juni 2026

Bus Legendaris Aceh

Senjakala Bus Legendaris Aceh, Jalan Pulang yang Perlahan Berubah

Pada masa itu, bus antarkota bukan sekadar alat transportasi, tetapi menjadi denyut utama mobilitas masyarakat Aceh.

Tayang:
Editor: mufti
COVER KORAN SERAMBI INDONESIA/KORAN SERAMBI INDONESIA
HEADLINE KORAN SERAMBI INDONESIA EDISI SENIN 20260608 

Ketua DPD Organda Aceh, H Ramli, mengatakan perubahan tersebut cukup mempengaruhi dunia transportasi darat Aceh. “Sekarang masyarakat banyak memilih HiAce. Tarifnya hampir sama dengan bus, tapi dianggap lebih cepat,” ujarnya.

Selain travel, pesawat juga tetap menjadi pilihan masyarakat yang mengejar efisiensi waktu. General Manager Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh, Setiyo Pramono, mengatakan harga tiket penerbangan Banda Aceh-Medan saat ini berkisar Rp 1,1 juta hingga Rp 1,3 juta per penumpang.

Kenaikan tersebut dipicu lonjakan harga avtur yang menjadi komponen utama biaya penerbangan. “Sekarang imbasnya malah ke arah pengurangan frekuensi penerbangan,” ungkapnya.

Namun mahalnya tiket pesawat ternyata tidak otomatis membuat penumpang bus meningkat drastis. Menurut Setiyo, sebagian masyarakat justru memilih mengurangi perjalanan dibanding mengganti moda transportasi. “Kayaknya mereka lebih memilih tidak pergi dibanding memilih moda lain,” tambah dia.

Gaya Hidup

Fenomena itu menunjukkan bahwa perubahan dunia transportasi Aceh tidak lagi sekadar soal persaingan antar moda, tetapi juga berkaitan dengan perubahan gaya hidup dan kondisi ekonomi masyarakat. Menurut H Ramli, masyarakat kini jauh lebih selektif bepergian dibanding masa lalu. “Kalau tidak penting sekali, masyarakat memilih tidak pergi,” ucapnya.

Selain faktor ekonomi, pola mobilitas masyarakat Aceh juga ikut berubah. Dulu banyak warga rutin pergi ke Medan untuk membeli barang dagangan atau memenuhi kebutuhan tertentu. Kini sebagian kebutuhan dapat dipenuhi melalui belanja daring dan jasa pengiriman. Akibatnya, intensitas perjalanan antarkota ikut berkurang.

Di tengah perubahan itu, dunia bus Aceh perlahan dipaksa menyesuaikan diri dengan kebutuhan baru penumpang. Jika dahulu masyarakat cukup mencari kendaraan menuju tujuan, kini penumpang mulai mempertimbangkan kenyamanan, fasilitas, dan pengalaman perjalanan.

Perubahan tersebut terlihat dari meningkatnya minat masyarakat terhadap layanan sleeper bus. Muhammad Zikri, staf ticketing di Terminal Batoh, mengatakan masyarakat kini tidak lagi hanya mempertimbangkan harga tiket ketika memilih bus. “Sekarang masyarakat lihat fasilitas dan kenyamanan,” tuturnya.

Bus sleeper dengan fasilitas tempat tidur pribadi, pencahayaan modern, dan ruang perjalanan yang lebih nyaman kini menjadi salah satu layanan paling diminati penumpang perjalanan Aceh-Medan. 

Fenomena itu menunjukkan bahwa perjalanan darat sebenarnya belum kehilangan tempat sepenuhnya di tengah masyarakat Aceh. Yang berubah adalah bentuk layanan yang diinginkan penumpang. Perusahaan yang mampu mengikuti perubahan masih memiliki peluang bertahan. Sebaliknya, operator yang lambat melakukan pembaruan mulai kehilangan tempat di tengah persaingan transportasi yang semakin ketat.

Menurut Teuku Faisal, perusahaan transportasi saat ini dituntut terus melakukan inovasi pelayanan agar tetap mampu bersaing di tengah perubahan pasar. “Banyak perusahaan baru yang terus melakukan inovasi dalam memberikan pelayanan kepada pengguna transportasi umum,” ujarnya.

Di tengah perubahan tersebut, Terminal Batoh tetap menjadi salah satu simpul perjalanan penting masyarakat Aceh. Menjelang malam, penumpang masih berdatangan membawa koper dan tas besar sebelum naik ke bus menuju Medan. Sopir dan kernet tetap menjalani perjalanan panjang lintas Sumatra seperti yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Namun perjalanan darat Aceh hari ini tidak lagi ditentukan oleh nama besar perusahaan bus semata. Dunia transportasi telah berubah menjadi ruang persaingan yang menuntut kecepatan, kenyamanan, efisiensi, dan kemampuan beradaptasi.

Bus legendaris Aceh mungkin belum hilang dari jalan raya. Tetapi era ketika perjalanan darat menjadi pusat utama mobilitas masyarakat perlahan mulai bergeser mengikuti perubahan zaman.(*)

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved