Jumat, 12 Juni 2026

Berita Lhokseumawe

Farhan Zuhri Isi Orasi Ilmiah pada Yudisium FAH UIN Ar-Raniry, Ini Disampaikan

Menurutnya, bangsa yang merdeka harus mampu mendefinisikan dirinya sendiri tanpa selalu bergantung pada perspektif

Tayang:
Penulis: Saiful Bahri | Editor: Nur Nihayati
SERAMBI/HO/serambinews
Wakil Ketua Komisi A DPRK Lhokseumawe, Farhan Zuhri, S.Hum., M.Pd., menyampaikan Orasi Ilmiah pada Yudisium Gelombang I dan II Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry Banda Aceh Tahun Akademik 2025–2026. 
Ringkasan Berita:
  • Wakil Ketua Komisi A DPRK Lhokseumawe, Farhan Zuhri, S.Hum., M.Pd., menyampaikan Orasi Ilmiah pada Yudisium Gelombang I dan II Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry Banda Aceh
  • Orasi bertajuk “Sastra dan Politik dalam Bayang-Bayang Orientalisme: Refleksi atas Identitas, Kekuasaan, dan Masa Depan Indonesia melalui Pemikiran Edward W. Said”
  • Menurutnya, bangsa yang merdeka harus mampu mendefinisikan dirinya sendiri tanpa selalu bergantung pada perspektif

 


Laporan Wartawan Serambi Indonesia Saiful Bahri I Lhokseumawe

SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE - Wakil Ketua Komisi A DPRK Lhokseumawe, Farhan Zuhri, S.Hum., M.Pd., menyampaikan Orasi Ilmiah pada Yudisium Gelombang I dan II Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry Banda Aceh Tahun Akademik 2025–2026, Kamis (11/6/2026).

Dalam orasi bertajuk “Sastra dan Politik dalam Bayang-Bayang Orientalisme: Refleksi atas Identitas, Kekuasaan, dan Masa Depan Indonesia melalui Pemikiran Edward W. Said”, Farhan mengajak para yudisiawan untuk membangun kemerdekaan intelektual di tengah tantangan global yang terus berkembang.

Saat pemaparannya, Farhan menjelaskan bahwa pemikiran Edward W. Said tentang orientalisme mengingatkan bahwa penjajahan tidak hanya terjadi melalui penguasaan wilayah, tetapi juga melalui penguasaan pengetahuan, cara pandang, dan narasi.

Menurutnya, bangsa yang merdeka harus mampu mendefinisikan dirinya sendiri tanpa selalu bergantung pada perspektif yang dibangun pihak lain.

Ia mengingatkan agar generasi muda tidak terjebak dalam mentalitas pascakolonial yang memandang bangsa lain selalu lebih unggul, sementara mengabaikan potensi dan kekayaan intelektual yang dimiliki bangsanya sendiri.

Menurut alumni Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry tersebut, sastra, politik, dan kekuasaan memiliki hubungan yang erat.

Sastra membentuk cara masyarakat memahami realitas, sementara politik menentukan arah kebijakan dan kehidupan publik. 

Karena itu, pengetahuan dan narasi memiliki peran penting dalam membangun masa depan bangsa.

Farhan juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan transformasi digital yang semakin cepat. 

Di tengah perubahan tersebut, ia menegaskan bahwa ilmu humaniora tetap memiliki peran strategis dalam menjaga kemampuan berpikir kritis, kesadaran sejarah, identitas budaya, serta nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi peradaban.

Menutup orasinya, Farhan mengajak para yudisiawan untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga menjadi pencipta gagasan dan agen perubahan. 

Menurutnya, Indonesia membutuhkan generasi yang memiliki keberanian berpikir mandiri, integritas moral, serta komitmen untuk menghadirkan solusi bagi masyarakat dan masa depan bangsa.(*)

Baca juga: HIMA-ATE Gelar Mubes Ke-II di Aula Kantor Camat Dewantara 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved