Stunting
Aceh Barat Percepat Penurunan Stunting Lewat Inovasi Sistem Peringatan Dini Gizi
Wakil Bupati Aceh Barat, Said Fadheil, membuka kegiatan Gerakan Aceh Barat Tanggap Risiko Stunting: Sosialisasi Sistem Early Warning Gizi 1.000
Penulis: Sadul Bahri | Editor: Ansari Hasyim
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Sa’dul Bahri | Aceh Barat
SERAMBINEWS.COM, MEULABOH – Wakil Bupati Aceh Barat, Said Fadheil, membuka kegiatan Gerakan Aceh Barat Tanggap Risiko Stunting: Sosialisasi Sistem Early Warning Gizi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) untuk pencegahan stunting dan wasting, Rabu (17/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Teuku Umar, Bapperida Aceh Barat, ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pencegahan stunting, wasting, dan Kekurangan Energi Kronik (KEK) melalui sistem deteksi dini yang lebih terintegrasi.
Dalam sambutannya, Said Fadheil menegaskan stunting masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan sumber daya manusia.
Dampaknya tidak hanya pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif, prestasi pendidikan, produktivitas ekonomi, kualitas kesehatan, hingga daya saing bangsa di masa depan.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Kabupaten Aceh Barat pada 2025 tercatat sekitar 33 persen.
Angka tersebut berhasil ditekan menjadi 25,8 persen pada 2026. Meski menunjukkan penurunan signifikan, capaian itu masih berada di atas rata-rata nasional yang saat ini sekitar 18 persen.
Baca juga: Bupati Haili Salurkan Daging Kurban Door to Door, Sasar 1.767 Ibu Hamil dan 684 Anak Stunting
Menurut Said, kondisi tersebut mengindikasikan masih adanya ibu hamil, bayi, dan anak yang belum memperoleh deteksi risiko serta intervensi secara optimal pada periode 1.000 hari pertama kehidupa, fase krusial dalam tumbuh kembang anak.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menyambut baik inovasi yang dikembangkan Universitas Teuku Umar melalui dashboard gizi yang terintegrasi dengan Sistem Early Warning Gizi pada 1.000 HPK.
“Melalui kegiatan ini diharapkan terbangun sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, pemerintah gampong, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk membangun sistem pencegahan stunting yang lebih responsif, berbasis teknologi, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Said juga mengingatkan seluruh peserta, khususnya tenaga kesehatan dari berbagai puskesmas di Aceh Barat, agar mengikuti kegiatan dengan serius dan memahami materi yang disampaikan narasumber serta tim peneliti. Pemahaman yang baik terhadap sistem deteksi dini dinilai menjadi kunci percepatan penanganan risiko stunting di daerah tersebut.
Melalui penguatan kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan teknologi dalam pemantauan status gizi masyarakat, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat berharap percepatan penurunan stunting dapat berjalan lebih efektif dan melahirkan generasi yang sehat, cerdas, serta berdaya saing di masa depan.(*)
| Kecamatan Jeunieb Gelar Pra Musrenbang Tematik Stunting |
|
|---|
| Pemko Sabang Data 28 Anak untuk Program Anak Asuh Stunting 2025 |
|
|---|
| Pijay Peringkat III Penanganan Stunting Tingkat Provinsi |
|
|---|
| Program Peningkatan Penanganan Gizi untuk Stunting Aceh Besar Dimulai |
|
|---|
| Pijay Masuk dalam Enam Kabupate/Kota yang Mampu Tangani Stunting hingga 100 persen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/stunting-i0okl.jpg)