Rabu, 13 Mei 2026

Liputan Eksklusif Aceh

Maulid Nabi di Aceh, Abiya Afifuddin: Sarana Merawat Jati Diri dan Silaturahmi

Maulid juga berfungsi sebagai media pendidikan generasi muda untuk meneladani akhlak Nabi sekaligus menjaga kelestarian tradisi Islami...

Tayang:
Penulis: Riski Bintang | Editor: Eddy Fitriadi
For Serambinews.com
Pimpinan Pondok Pesantren Budi Mesja Lamno, Abiya Tgk H Afifuddin. Maulid Nabi di Aceh, Abiya Afifuddin: Sarana Merawat Jati Diri dan Silaturahmi. 

Laporan Riski Bintang | Aceh Jaya

SERAMBINEWS.COM, CALANG - Bagi masyarakat Aceh, khususnya Aceh Jaya, Maulid Nabi Muhammad SAW memiliki arti yang mendalam. 

Dari sisi religius, perayaan ini menjadi momentum memperkuat iman dan kecintaan kepada Rasulullah melalui pembacaan shalawat dan sirah Nabi. 

Dari sisi sosial-budaya, tradisi khanduri Maulod yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat mempererat silaturahmi, menumbuhkan semangat gotong royong, serta menghadirkan suasana kebersamaan yang khas. 

Selain itu, Maulid juga berfungsi sebagai media pendidikan generasi muda untuk meneladani akhlak Nabi sekaligus menjaga kelestarian tradisi Islami Aceh. Dengan demikian, Maulid Nabi menjadi sarana menjaga identitas keislaman dan budaya Aceh, serta meneguhkan jati diri masyarakat Aceh Jaya di tengah arus modernisasi.

Hal itu disampaikan Pimpinan Pesantren Budi Mesja Tgk H Afiifuddin saat dikonfirmasi Serambinews.com, Selasa (2/9/2025).

Dalam kesempatan itu dirinya menyebutkan, perayaan Maulid juga memiliki nilai ekonomi dan identitas kolektif. Aktivitas kenduri yang membutuhkan berbagai persiapan turut menggerakkan roda perekonomian lokal melalui perdagangan bahan pangan dan kebutuhan acara. 

Pada saat yang sama, Maulid menjadi ajang kebanggaan masyarakat, memperlihatkan kepada dunia luar bahwa Aceh memiliki budaya yang khas, Islami, dan sarat dengan nilai kebersamaan. 

Dengan cara ini, Maulid Nabi bukan hanya ritual tahunan, tetapi juga pilar penting yang menjaga kesinambungan Islam dan budaya Aceh dari masa ke masa.

"Bagi masyarakat Aceh, termasuk di Aceh Jaya, Maulid Nabi Muhammad SWA, bukan hanya peringatan kelahiran Rasulullah, melainkan juga sarana merawat jati diri. Melalui kegiatan religius seperti pembacaan shalawat, tausiyah ulama, dan sirah Nabi, masyarakat terus menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini meneguhkan bahwa Islam adalah pondasi utama identitas Aceh," sebut Abiya Afifuddin.

Baca juga: 14 Tim dari Kabupaten/Kota akan Berlaga di Pra PORA Voli, Rebut Tiket ke Pora Aceh Jaya

Di sisi lain, tradisi khanduri maulid dengan kenduri besar, gotong royong, dan jamuan khas Aceh menjadi bukti bahwa budaya lokal berpadu harmonis dengan ajaran Islam. 

Generasi muda yang ikut serta dalam prosesi Maulid belajar tentang cinta Rasul sekaligus diwarisi nilai adat dan kebersamaan. 

Dengan demikian, Maulid berfungsi sebagai benteng budaya: ia menjaga agar identitas keislaman Aceh tidak terkikis modernisasi, sekaligus memastikan budaya Aceh tetap hidup dalam napas Islami.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved