Kupi Beungoh
Muara Krueng Cangkoy: Urat Nadi Nelayan yang Kian Tersumbat
Namun, fakta bahwa peralatan yang digunakan dianggap kurang memadai menunjukkan adanya persoalan yang lebih dalam. Tindakan
Oleh: Ir. M. Nasir, S.Hut, M.Si*)
MUARA Krueng Cangkoy di Meulaboh, Aceh Barat, kini menjadi sorotan dan menghadapi persoalan serius. Pendangkalan yang terjadi di jalur vital ini telah menghambat mobilitas nelayan. Perahu sering tersangkut, risiko kecelakaan meningkat, dan hasil tangkapan menurun.
Kondisi ini menimbulkan keresahan yang semakin besar di kalangan masyarakat pesisir dan menjadi perhatian serius DPRK Aceh Barat.
Langkah awal berupa penyedotan sedimen oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh Barat memang patut diapresiasi.
Namun, fakta bahwa peralatan yang digunakan dianggap kurang memadai menunjukkan adanya persoalan yang lebih dalam. Tindakan darurat tentu penting, tetapi tidak akan cukup bila tidak diikuti dengan strategi jangka panjang yang terencana.
Pendangkalan muara bukan sekadar persoalan teknis, melainkan tantangan ekologis, sosial, dan ekonomi yang saling terkait.
Karena itu, solusi parsial tidak akan menyelesaikan masalah. Semua pihak—pemerintah daerah (DKP, PUPR, Bappeda), tokoh nelayan dan lembaga adat, akademisi, serta sektor swasta seperti PT Mifa yang menyatakan kesiapannya membantu pengerukan—perlu duduk bersama dalam satu kerangka kolaboratif. Sinergi ini penting agar setiap langkah penanganan berjalan efektif dan berkelanjutan.
Aspek teknis, pengerukan harus menggunakan alat yang sesuai, berbasis kajian hidrologi, pola sedimentasi, serta monitoring kualitas habitat perairan. Selain pengerukan darurat, perlu disusun rencana pemeliharaan berkala agar muara tidak kembali dangkal dalam waktu singkat.
Dari sisi kelembagaan, peran setiap pihak mulai dari pelaksana hingga pengawas harus jelas. Pemerintah daerah juga harus mampu mempercepat proses perizinan pengerukan, termasuk kerja sama dengan swasta, agar langkah nyata bisa segera dilaksanakan tanpa hambatan birokrasi.
Nelayan tidak boleh hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat. Nelayan dan tokoh adat harus dilibatkan sejak perencanaan hingga evaluasi. Kapasitas masyarakat pesisir perlu diperkuat agar mampu melakukan pemantauan dan pelaporan dini terkait perubahan kondisi muara.
Komunikasi rutin antara DKP, DPRK, akademisi, dan masyarakat akan menjadi kunci keberhasilan kolaborasi.
Muara bukan hanya jalur keluar masuk perahu, melainkan “urat nadi” kehidupan nelayan. Membiarkan pendangkalan berlarut-larut sama dengan membiarkan hilangnya pendapatan, meningkatnya risiko keselamatan, dan terkikisnya ketahanan sosial-ekonomi pesisir.
Oleh karena itu, penanganan kedangkalan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar proyek darurat.
Keberhasilan menjaga Krueng Cangkoy akan menjadi bukti bahwa Aceh mampu melindungi sumber daya pesisirnya dengan cara yang berkelanjutan. Lebih jauh, hal ini juga mencerminkan keberpihakan nyata kepada nelayan sebagai penjaga laut dan penopang ekonomi daerah.
Krueng Cangkoy adalah jalur kehidupan bagi nelayan Meulaboh. Menangani kedangkalan muara ini bukan hanya soal teknis, tetapi panggilan moral bagi semua pihak untuk bersinergi. Saat ego sektoral ditanggalkan dan kolaborasi dijalankan secara komprehensif, maka jalur kehidupan nelayan akan kembali terjaga, dan kesejahteraan dapat benar-benar menjadi prioritas.
Mengutip pepatah Aceh "Seuramoe laôt gata ibarat udep, saboh jih bek lôn teuka haba. Lam muara nyan, laôt that peujaga, rezeki nyang timbul, kehidupan nyang ta jaga." (Laut ibarat kehidupan, tidak ada yang lebih utama. Di muara itulah laut menjadi penjaga, tempat rezeki muncul dan kehidupan kita dipelihara).
*) PENULIS merupakan seorang praktisi lingkungan hidup
| Perang dan Damai - Bagian 12, Perpanjangan Gencatan Senjata, Persiapan Perdamaian |
|
|---|
| Saatnya Wakaf Harus Naik Kelas, Dari Aset Diam Menjadi Kekuatan Umat |
|
|---|
| PR untuk Rektor di Aceh: Alumni Universitas Menganggur Makin Tinggi |
|
|---|
| Earth Day: Saatnya Pendidikan Menjawab Krisis Lingkungan |
|
|---|
| Menjawab Tuduhan “Logical Fallacy” dalam Polemik JKA |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ir-M-Nasir-SHut-MSi.jpg)