Rabu, 20 Mei 2026

Kupi Beungoh

Wabah Ebola: Kesiapan Uganda lebih cepat dari Indonesia

Uganda mampu publikasikan genom Ebola hanya 4 hari. Sudahkah Indonesia siap hadapi wabah mematikan dengan UU baru dan teknologi genom?

Tayang:
Editor: Amirullah
For Serambinews.com
Prof. Dr. dr. Rajuddin, SpOG(K), Subsp.FER, Guru Besar Universitas Syiah Kuala; Ketua IKA UNDIP Aceh; Sekretaris ICMI Orwil Aceh 

Oleh: Prof. Dr. dr. Rajuddin, SpOG(K), Subsp.FER

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru saja mengumumkan status Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (PHEIC) untuk wabah virus Bundibugyo di Uganda pada Mei 2026.

Dunia kembali dibuat terkesima. Bukan karena angka kematiannya yang memang mengkhawatirkan, melainkan karena kecepatan respons ilmiah Uganda yang luar biasa.

Hanya dalam waktu 4 hari sejak wabah dinyatakan sebagai KLB, Uganda berhasil mempublikasikan sekuen genom lengkap virus tersebut.

Bahkan, jika dirunut lebih detail, dari sampel darah yang diambil pada 14 Mei 2026 hingga data genom dirilis ke publik di platform Pathoplexus pada 17 Mei 2026, waktu yang dibutuhkan hanya sekitar 72 jam. 

Sebuah rekor yang menunjukkan bahwa negara dengan keterbatasan sumber daya sekalipun bisa unggul dalam kecepatan deteksi dini, asalkan strateginya tepat. Lantas, bagaimana dengan Indonesia?

Dengan UU Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 yang baru dan pengalaman pahit pandemi COVID-19, apakah Tanah Air kita sudah benar-benar siap menghadapi virus mematikan seperti Ebola

Tulisan saya ini akan mengupas perbandingan kapasitas sekuensing genom dan kekuatan regulasi baru Indonesia dalam menghadapi ancaman wabah siluman dari Afrika. Apa rahasia Uganda? Bukan laboratorium mewah atau anggaran besar.

Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 19 Mei 2026 Kompak Naik, Cek Selisih Pegadaian dan Logam Mulia

Rahasianya terletak pada pengalaman bertahun-tahun menghadapi wabah Ebola (termasuk virus Sudan dan Bundibugyo) serta adopsi teknologi nanopore sequencing yang portabel. 

Dengan alat seukuran USB yang bisa dibawa ke lapangan, Uganda mampu mengonfirmasi wabah dalam hitungan jam, bukan hari. Proses mereka terbilang mulus: seorang pasien di Hoima, Uganda, menjalani phlebotomy (pengambilan darah) pada 14 Mei.

Sampel tiba di lab pusat di Kampala keesokan harinya. Pada 16 Mei, mesin Illumina NextSeq 2000 menyelesaikan pembacaan dengan kedalaman 4.471 kali lipat (depth of coverage). 

Dan pada 17 Mei, data sudah ditayangkan untuk dunia. Total waktu dari pasien hingga publikasi: kurang dari 4 hari. Yang lebih mencengangkan, pada wabah Ebola Sudan tahun 2025, Uganda bahkan memecahkan rekor dunia dengan waktu konfirmasi di bawah 24 jam.

Ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari latihan simulasi terus-menerus, alur rantai yang teruji, dan budaya publikasi data secara terbuka meskipun dalam masa restricted use.

Indonesia: Kemampuan Teknis Sudah Ada, Tapi Masih Ada Jeda

Pasca-COVID-19, Indonesia tidak tinggal diam. Jika pada awal pandemi kita hanya bisa mengirim sampel ke luar negeri dan menunggu berminggu-minggu, kini ceritanya sudah berbeda. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah membangun ekosistem whole-genome sequencing (WGS) yang terdistribusi.

Data menunjukkan, kapasitas sekuensing Indonesia melonjak dari hanya 140 sampel dalam sembilan bulan menjadi hingga 8.000 sampel per bulan di masa puncak. Jangkauannya pun tidak lagi terpusat di Jawa.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved