Rabu, 3 Juni 2026

100 Tahun Hasan Tiro

100 Tahun Hasan Tiro: Mengenal Sosok Brilian, Sang Deklarator GAM dan Jejak Perjuangannya

Hasan Tiro adalah seorang intelektual, sastrawan, dan diplomat ulung yang mengorbankan segalanya demi perjuangan yang diyakininya.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Yeni Hardika | Editor: Nur Nihayati
Serambi Indonesia/Hari Teguh Patria
Tgk Hasan Muhammad Di Tiro atau Hasan Tiro saat menyapa massa yang memadati Alun-alun Kota Sigli, Pidie, Selasa (14/10/2008). 

SERAMBINEWS.COM - Tanggal 25 September 2025 menjadi sebuah momentum penting. 

Hari ini menandai 100 tahun kelahiran Teungku Hasan Muhammad di Tiro, sosok sentral dalam sejarah modern Aceh. 

Lebih dari sekadar deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Hasan Tiro adalah seorang intelektual, sastrawan, dan diplomat ulung yang mengorbankan segalanya demi perjuangan yang diyakininya.

Jejaknya mengalir dari gemerlap kota New York ke dinginnya hutan Aceh, meninggalkan warisan yang hingga kini masih diperbincangkan.

"Saya akan merasa gagal jika tidak mampu mewujudkan hal ini, harta dan kekuasaan bukanlah tujuan hidup saya dan bukan pula tujuan perjuangan ini. Saya hanya ingin rakyat Aceh makmur sejahtera dan bisa mengatur dirinya sendiri.”

Kutipan yang tertuang dalam buku hariannya, The Price of Freedom: The Unfinished Diary (1981), adalah cerminan dari idealismenya.

Hasan Tiro meninggalkan kesuksesan besar dalam dunia bisnis di Amerika Serikat, di mana ia memiliki relasi dengan 50 pengusaha ternama AS dan menjalin hubungan baik dengan para diplomat, termasuk Raja Faisal dari Arab Saudi.

Buku Tgk Hasan Ditiro yang sudah diterjemahkan
Buku Tgk Hasan Ditiro yang sudah diterjemahkan (SERAMBINEWS.COM/IST)

Ia memimpin delegasi bisnis dan berhasil menembus lingkaran pemerintahan di banyak negara.

Namun, ia tidak pernah mencampuradukkan urusan bisnis dengan ambisi politiknya.

Dibalik semua kesuksesan itu, Hasan Tiro adalah seorang Aceh yang tidak pernah melupakan akar dan cita-citanya.

Baca juga: Peringati 100 Tahun Teungku Hasan Tiro, Buku The Price of Freedom Terjemahan Haekal Afifa Dibedah

Intelektual dan sastrawan di tengah perang

Pengetahuan sejarahnya yang mumpuni menjadi pondasi bagi perjuangannya.

Ia meyakini bahwa Aceh tidak pernah menyerah kepada penjajah Belanda, dan perlawanannya adalah kelanjutan dari sejarah kedaulatan yang pernah dimiliki.

Ia menuangkan semua ide perjuangan gerilya dan diplomatik dalam beberapa buku, seperti Acheh in World History (1968) dan The Struggle for Free Acheh (1976), yang efektif membuka mata dunia tentang kedaulatan Aceh.

Namun, yang paling otentik adalah tulisannya dalam naskah drama "The Drama of Achehness History”.

Tulisan tersebut dituangkan Hasan Tiro di tengah medan gerilya yang penuh tantangan, membuktikan bahwa dirinya memang seorang sastrawan handal.

Tgk Hasan Tiro diangkat prajurit GAM di belantara Aceh. Sumber foto/Buku The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Teungku Hasan di Tiro
Tgk Hasan Tiro diangkat prajurit GAM di belantara Aceh. Sumber foto/Buku The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Teungku Hasan di Tiro ()
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved