Banda Aceh
Perkuat Sektor Pendidikan dan Peternakan, BRA Jajaki Kerja Sama dengan Australia
"Kondisi Aceh saat ini sangat kondusif untuk berinvestasi. Aceh memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah, namun...
Penulis: Indra Wijaya | Editor: Eddy Fitriadi
Laporan Indra Wijaya | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, AUSTRALIA - Pemerintah Aceh melalui Badan Reintegrasi Aceh (BRA) kini mulai menjajaki kerjasama dengan Pemerintah Australia dengan fokus pada pendidikan, pelatihan, dan peternakan.
Ketua BRA, Jamaluddin, SH, MKn, yang didampingi oleh tim teknis T. Murdani, PhD telah melakukan pertemuan intensif dengan staf Kedutaan Besar Australia yang diwakili oleh Hannah Derwent - Counsellor Human Development, Renee Bryant - First Secretary Economic, Kate Fletcher - Second Secretary Politic, dan Syafrizal - Political Officer di Kedutaan Besar Australia.
Ia mengatakan, pertemuan tersebut membahas beberapa isu penting untuk pembangunan berkelanjutan di Aceh. Melalui ketua BRA, Mualem menitipkan tiga isu penting untuk dibahas, yakni pendidikan, pelatihan, dan peternakan.
"Kondisi Aceh saat ini sangat kondusif untuk berinvestasi. Aceh memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah, namun memiliki masalah pada sumber daya manusia sehingga tidak mampu mengonversi kekayaan alam untuk kesejahteraan rakyat," kata Jamal, Kamis (2/10/2025).
Ia berharap, pemerintah Australia bersedia berinvestasi dalam bidang pendidikan, khususnya memberikan kemudahan bagi putra-putri Aceh untuk melanjutkan sekolah ke Australia, baik strata satu, master, ataupun program doktor.
"Kalau tidak bisa di semua bidang, sekurang-kurangnya dalam beberapa bidang yang sangat dibutuhkan oleh Aceh saat ini seperti perindustrian, perminyakan, pertambangan, dan sebagainya," ujarnya.
Selain itu, kata Jamal, Aceh juga sangat membutuhkan Balai Latihan Kerja (BLK) yang memiliki standar tenaga kerja negara-negara berkembang seperti Australia. Menurutnya, kondisi tersebut dianggap penting agar nantinya putra/putri Aceh memiliki keterampilan untuk berpartisipasi dalam pembangunan Aceh dan memiliki kemampuan untuk bekerja di Australia.
"BLK ini juga nantinya mampu memberikan kesempatan bagi mantan kombatan dan para korban konflik untuk ikut berpartisipasi sebagai salah satu upaya untuk menyelesaikan konflik Aceh secara menyeluruh, bermartabat, dan berkelanjutan," jelasnya.
Baca juga: Bedah Buku “Jalan Reintegrasi Gerilyawan GAM”, Ketua BRA Tekankan Pentingnya Pendidikan
Penggemukan Sapi
Dalam pertemuan itu, Jamaluddin juga menyinggung potensi penggemukan sapi di Aceh.
Sebab, kata dia, Aceh memiliki kondisi alam yang sangat hijau sebagai modal utama dalam melakukan peternakan dan penggemukan sapi sepanjang tahun.
Di samping itu, Aceh berada di posisi yang sangat strategis sebagai pintu gerbang perdagangan internasional di jalur Samudera Hindia.
"Aceh merupakan provinsi di Indonesia yang sangat dekat dengan jalur pelayaran internasional dan adanya pelabuhan bebas Sabang membuka peluang besar untuk menjadikan Aceh sebagai hub penggemukan sapi," jelasnya.
Hannah Derwent selaku Counsellor Human Development menyambut baik inisiatif Gubernur Aceh dan menjelaskan bahwa saat ini pemerintah Australia sudah banyak terlibat dalam membantu pemerintah Aceh.
Saat ini, pemerintah Australia sedang menjalankan berbagai program bantuan di Aceh melalui SKALA dan berkomitmen untuk terus membantu Aceh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ketua-BRA-Jamaluddin-jajaki-kerja-sama-dengan-Pemerintah-Australia.jpg)