Opini
Membangun Ekonomi Aceh Berkelanjutan Melalui Sektor Unggulan
Aceh, dengan segala pesona dan lukanya, adalah kanvas raksasa yang sedang dilukis ulang. Ia tidak
Oleh : Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh
Di lereng penggunungan Takengon, kabut pagi menyapa hamparan kebun kopi Gayo. Di bawahnya, di perairan Selat Malaka, nelayan Aceh Utara melabuhkan jala penuh harapan. Sementara di bekas kejayaan industri Arun, denyut nadi ekonomi baru mulai berdetak dari panas bumi dan sisa-sisa kemegahan gas.
Aceh, dengan segala pesona dan lukanya, adalah kanvas raksasa yang sedang dilukis ulang. Ia tidak hanya kaya, tetapi juga penuh dengan cerita tentang manusia, tanah, dan laut yang saling terikat. Pembangunan ekonomi berkelanjutan bagi Aceh bukanlah sekadar grafik pertumbuhan, melainkan sebuah upaya manusiawi untuk mengalirkan berkah alam ini hingga ke dapur setiap keluarga Aceh.
Kopi Gayo: Bukan Sekadar Aroma, Tapi Napas Hidup
Bayangkan seorang petani kopi di Dataran Tinggi Gayo. Setiap pagi, ia merawat pohon-pohon yang menghasilkan salah satu biji kopi terbaik dunia. Rata-rata 60-69 ribu ton Arabika Aceh dihasilkan setiap tahunnya, sebuah angka yang membanggakan. Namun, seringkali, harganya tak sebanding dengan peluh yang dikucurkan.
Masalah klasiknya adalah nilai tambah yang rendah. Biji hijau yang diekspor mentah, lalu di-roasting dan dikemas elegan di luar negeri, kembali ke kita dengan harga berlipat.
Di sinilah pembangunan yang humanis berbicara. Ia tidak hanya melihat komoditas, tetapi melihat sang petani. Penguatan rantai nilai melalui fasilitas roasting dan pengemasan bermerek lokal, seperti yang bisa dikelola koperasi petani, bukan hanya menambah pendapatan. Itu adalah bentuk pelestarian martabat. Sertifikasi organik, fair-trade, dan halal bukan sekadar label; ia adalah jaminan bahwa keringat mereka dihargai secara adil, dan praktik pertaniannya menghormati warisan tanah leluhur.
Akses pasar digital dapat menyambungkan petani Gayo langsung dengan penikmat kopi di Jakarta atau Berlin, memutus mata rantai tengkulak yang memanjang. Ini adalah langkah untuk memastikan bahwa aroma harum kopi Gayo juga tercium dalam bentuk kesejahteraan yang lebih baik di rumah-rumah petani.
Laut yang Memberi, Tantangan yang Menghimpit
Melangkah ke pesisir, kita bertemu dengan Sdr. Fadli, seorang nelayan tradisional di Aceh Barat. Tangkapannya melimpah, data BPS pun membenarkannya. Tapi hidupnya kerap tak menentu.
Hasil tangkapan yang mudah busuk, infrastruktur rantai dingin yang terbatas, dan akses pembiayaan yang sempit membuatnya rentan. Penangkapan berlebih juga mengancam masa depan sumber daya yang menjadi mata pencahariannya.
Pembangunan yang berkelanjutan dan manusiawi harus menjawab kegelisahan Fadli. Investasi pada pelabuhan perikanan dan fasilitas pendingin skala komunitas bukan sekadar proyek infrastruktur. Itu adalah upaya untuk mengurangi kesedihan melihat hasil tangkapan membusuk di pinggir pantai.
Pelatihan rantai nilai dan pengembangan budidaya pesisir (mariculture) adalah cara untuk memberikan pilihan, untuk memberdayakan, agar nelayan tidak hanya menjadi penambang di lautnya sendiri, tetapi juga petambak yang bijak. Dengan demikian, laut Aceh tidak lagi sekadar memberi, tetapi menjamin kehidupan yang stabil dan berkelanjutan bagi anak cucu Fadli.
Energi: Dari Puing Kejayaan Menuju Masa Depan Bersih
Lhokseumawe menyimpan kenangan akan gemerlap industri gas alam. Tapi kejayaan itu kerap terasa seperti hantu, yang meninggalkan fasilitas megah tanpa multiplier effect yang signifatif bagi ekonomi lokal.
Kini, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun dihidupkan kembali dengan semangat baru: hilirisasi. Gas tidak lagi hanya diekspor mentah, tetapi menjadi bahan baku industri petrokimia di dalam negeri.
Namun, masa depan energi Aceh tidak hanya terpaku pada masa lalu. Potensi panas bumi yang mencapai ratusan megawatt, seperti di Seulawah Agam, adalah anugerah kedua. Pengembangannya menawarkan dua kisah kemanusiaan: pertama, sebagai penyedia energi bersih yang turut menjaga bumi dari krisis iklim; kedua, sebagai pemasok tenaga yang andal dan murah untuk menggerakkan industri dan rumah tangga.
Kemitraan publik-swasta (PPP) dalam pengembangan panas bumi haruslah dirancang dengan hati. Eksplorasi dan pembangunan pembangkit harus berjalan beriringan dengan program pemberdayaan masyarakat setempat, memastikan bahwa gemuruh mesin pengeboran juga diiringi oleh gemerincing manfaat ekonomi bagi warga sekitar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/uniki-080624-b.jpg)