Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Banda Aceh

38 Ribu Keluarga di Aceh Berisiko Stunting, Program Genting Jadi Andalan BKKBN

Fokus utama program ini adalah mendampingi keluarga berisiko stunting di seluruh kabupaten/kota di Aceh.

Tayang:
Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Nur Nihayati
SERAMBINEWS.COM/RIANZA ALFANDI
MEMBERI PENJELASAN – Kepala BKKBN Aceh, Safrina Salim, menyampaikan perkembangan program Genting di Aceh dalam FGD bersama mitra pentahelix/media, di Bara Kopi, Pango Raya, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, Selasa (11/11/2025). 

Fokus utama program ini adalah mendampingi keluarga berisiko stunting di seluruh kabupaten/kota di Aceh.

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH — Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Aceh menjadikan Program Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) sebagai strategi utama atau andalan untuk menekan angka stunting di daerah tersebut.

Hal itu disampaikan Kepala BKKBN Aceh, Safrina Salim dalam FGD Genting Provinsi Aceh
bersama mitra pentahelix/media, di Bara Kopi, Pango Raya, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, Selasa (11/11/2025).

Safrina menjelaskan bahwa program Genting merupakan bagian dari kebijakan nasional yang kini dijalankan oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemenduk Bangga). 

Fokus utama program ini adalah mendampingi keluarga berisiko stunting di seluruh kabupaten/kota di Aceh.

Baca juga: BKKBN Aceh Kunjungi Puskesmas Cot Ijue Peusangan, Ini Kegiatannya

“Untuk Aceh ada 38.004 keluarga berisiko stunting harus terdampingi di tahun 2025 ini. Dan 38.004 itu sudah kita bagi ke kabupaten/kota,” katanya.

Menurut Safrina, sasaran utama pendampingan adalah periode seribu hari pertama kehidupan (HPK), mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, hingga anak usia di bawah dua tahun (baduta). Periode ini disebut sebagai masa emas karena sangat menentukan tumbuh kembang anak.

“Apabila masa itu sudah terlewatkan, artinya anak itu sudah terjaga,” ujarnya.

Pendampingan dilakukan oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang tersebar di setiap desa. 

Tim ini terdiri dari bidan desa, kader KB, dan perwakilan PKK. Mereka bertugas memantau kesehatan ibu dan anak, memberikan edukasi gizi, serta memastikan akses terhadap air bersih dan sanitasi layak.

“sasaran Genting itu adalah semua masyarakat lintas program, siapapun bentuk kegiatannya itu adalah sebagai berdonasi,” tegasnya.

Safrina menekankan bahwa Program Genting yang dijalankan pihaknya bersifat gotong royong. Pendanaannya tidak bersumber dari anggaran pemerintah, tetapi melalui dukungan CSR dan partisipasi masyarakat untuk menyediakan makanan bergizi serta memperbaiki sarana sanitasi bagi keluarga berisiko stunting.

“Rumah-rumah keluarga berisiko stunting itu yang menjadi sasaran yang akan kita dampingi,” tuturnya.

Berdasarkan data, prevalensi stunting di Aceh masih mencapai 28,06 persen. 

Meski angka ini mengalami sedikit penurunan, namun masih ditemukan kasus kelahiran anak stunting baru. 

Karena itu, strategi pendampingan keluarga berisiko dinilai sebagai langkah paling efektif untuk mencegah kasus baru.

Ia menambahkan, bahwa data keluarga berisiko stunting sudah terintegrasi secara by name by address melalui sistem Kemenduk Bangga, sehingga pendampingan dapat dilakukan secara tepat sasaran hingga ke tingkat desa.

“Makanya strategi keluarga berisiko stunting ini adalah strategi yang paling tajir, yang paling jitu ya. 

Karena sasaran kita itu bisa mem-backup dari desa, anak-anak yang ada di kecamatan sampai di kabupaten/kota. 

Itu terdampingi sehingga kita bisa mem-backup tidak lahir lagi stunting-stunting yang baru,” pungkasnya.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved