Jumat, 17 April 2026

Berita Banda Aceh

Aceh Kejar Produksi Cabai Lokal, Tak Mau Kalah dari Sumut

Agus menambahkan, kondisi ini menjadi salah satu penyebab inflasi Aceh masih tergolong tinggi.

Penulis: Firdha Ustin | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/RAHMAD WIGUNA
CABAI KEMBALI MAHAL - Harga cabai merah di Aceh Tamiang kembali mahal menjadi Rp80 ribu per kilogram, Sabtu (11/10/2025). SERAMBINEWS.COM/RAHMAD WIGUNA 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Firdha Ustin I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh, Agus Chusaini, menegaskan bahwa Aceh terus berupaya memperkuat produksi cabai lokal agar tidak bergantung pada pasokan dari luar daerah, terutama dari Sumatera Utara (Sumut).

Hal itu disampaikan Agus dalam kegiatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) Aceh 2025 yang sekaligus meresmikan Rumah Produksi Capli di Banda Aceh, Kamis (13/11/2025).

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Perwakilan Gubernur Aceh, Kepala Biro Perekonomian Setda Aceh Sari Nurmalisa Sungkar, S.Sos., M.Si, Perwakilan Wali Kota, serta anggota Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Aceh dan Kota Banda Aceh.

Agus Chusaini - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, memberi sambutan dalam acara peresmian rumah produksi capli di Blang Oi, Banda Aceh, Kamis (13/11/2025).
Agus Chusaini - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, memberi sambutan dalam acara peresmian rumah produksi capli di Blang Oi, Banda Aceh, Kamis (13/11/2025). (SERAMBINEWS.COM/FIRDHA)

“Kita Rebutan Cabai Sama Sumut"

Dalam sambutannya, Agus Chusaini mengatakan, selama ini Aceh masih sering mengambil pasokan cabai dari provinsi tetangga, Sumatera Utara. Padahal, daerah tersebut juga membutuhkan stok cabai untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya.

“Jadi Bapak-Ibu, sebenarnya cabai itu kita rebutan sama Sumut. Kita kejar-kejaran, siapa yang duluan dapat cabai. Kadang malah kita ambil dari mereka, padahal Sumut juga sama-sama butuh,” ujar Agus.

Agus menambahkan, kondisi ini menjadi salah satu penyebab inflasi Aceh masih tergolong tinggi.

Baca juga: Lewat Dapur Cerdas Inflasi, Ibu-Ibu Banda Aceh Diajarkan Masak Cerdas di Tengah Harga Cabai Melonjak

Pada Oktober 2025, inflasi tercatat 4,66 persen year-on-year (yoy), berada di urutan ketiga tertinggi nasional.

Untuk mengurangi ketergantungan pasokan cabai dari luar daerah, BI Aceh meresmikan Rumah Produksi Capli, sebuah inisiatif yang berfokus pada pengolahan cabai lokal menjadi pasta dan cabai kering.

Menurut Agus, langkah ini merupakan bagian dari upaya nyata dalam mengendalikan inflasi pangan di Aceh, sekaligus membantu petani memiliki nilai tambah dari hasil panen mereka.

“Rumah Produksi Capli ini luar biasa. Mereka bisa bikin pasta cabai dan ke depan juga cabai kering. Kalau ini berjalan baik, kebutuhan cabai masyarakat Aceh bisa terpenuhi dari produksi sendiri,” ujarnya.

Selain pengolahan cabai, BI Aceh juga mengedukasi masyarakat lewat program Dapur Cerdas Inflasi, yaitu kegiatan memasak menggunakan cabai kering atau cabai bubuk sebagai alternatif cabai segar saat harga naik.

“Kita sudah mulai di Banda Aceh dan Aceh Besar, nanti akan keliling ke kabupaten lain. Harapannya masyarakat bisa tetap makan pedas tanpa harus bergantung pada cabai segar,” ujar Agus.

Baca juga: Menjaga Inflasi: Fondasi Stabilitas Sosial Politik dan Perlindungan Aset Rakyat

Agus juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota TPID, Bulog, dan pemerintah daerah atas kerja keras menjaga stabilitas harga pangan.

Ia berharap, melalui berbagai langkah strategis ini, Aceh dapat memperbaiki peringkat inflasi nasional dan menuju kemandirian pangan daerah.

“Insya Allah, dengan kerja bersama, kita bisa turunkan inflasi dan tidak kalah dari Sumut. Kita ingin Aceh punya cabai sendiri, dari petani kita sendiri,” pungkasnya. (Serambinews.com/Firdha)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved