Opini

Refleksi HGN: Antara Idealisme dan Tekanan 

Setiap tanggal 25 November, Indonesia bersatu untuk merayakan Hari Guru Nasional (HGN).

Editor: Ansari Hasyim
IST
FERI IRAWAN, S.Si., M.Pd., Kepala SMKN 1 Jeunieb. 

Oleh: Feri Irawan, S.Si, M.Pd, kepala SMK Negeri 1 Jeunieb

SETIAP tanggal 25 November, Indonesia bersatu untuk merayakan Hari Guru Nasional (HGN). Pelaksanaan ini menjadi pengingat secara nasional akan peran krusial guru dalam pembangunan masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan di Republik Indonesia yang baru saja merayakan HUT-nya ke-81 tahun. 

Ketika teknologi menggantikan banyak peran manusia, guru tetap menjadi sosok yang tak tergantikan: penjaga nurani, penanam karakter, dan penyemai harapan. 

Sebuah pesan sederhana  dan mengingatkan bahwa di balik setiap kemajuan bangsa, selalu ada guru dengan hati emas yang menyalakan terang. 

Namun, beberapa akhir-akhir ini, dunia pendidikan Indonesia berkali-kali diguncang kasus guru yang harus berhadapan dengan aparat karena menjalankan tugas pembinaan.

Baca juga: 30 Ucapan Selamat Hari Guru, Lengkap Bahasa Inggris dan Indonesia, Ide Caption di Medsos

Di setiap kegaduhan dunia pendidikan, nama guru selalu berada di kursi terdakwa. Ketika murid nakal, guru disalahkan. Ketika murid gagal, semua mata tertuju pada guru. Ketika moral remaja runtuh, sekolah dituding gagal. Dan ketika kekerasan terjadi, publik menuntut kepala sekolah diadili. 

Padahal guru bukan satu-satunya yang membentuk anak, ada keluarga, lingkungan, dan sistem yang ikut menanam pengaruh. Ironisnya, yang paling jarang ditanya justru yang paling dekat dengan anak itu sendiri, yakni orang tua. 

Sementara, sekolah bukan biro jasa, dan guru bukan sekadar pelaksana kurikulum. Ada nilai-nilai yang sedang diperjuangkan: disiplin, kesabaran, dan tanggung jawab hal-hal yang hanya bisa tumbuh bila kita saling menghormati ruang peran masing-masing.

Guru bukan penyihir yang bisa mengubah segalanya, tapi mereka adalah pelita yang terus menyala meski sering ditiup angin ketidakadilan. 

Jangan hanya menyalahkan guru atas hasil yang tak sempurna,
karena pendidikan bukan panggung tunggal. Ia adalah kerja bersama antara hati, rumah, dan sekolah.

Banyak guru yang kini berjalan di atas tali tipis antara idealisme dan tekanan. Dalam menghadapi tantangan zaman, terutama kemunculan "strawberry generation" yakni generasi muda yang tampak mengesankan di luar, tetapi rapuh dalam menghadapi tekanan. Laporan kecil dari orang tua bisa berujung pada teguran, bahkan ancaman hukum.

Di sebuah sekolah, teguran kepada siswa yang merokok justru berujung pelaporan ke polisi (ISIF, 2024).

Dalam kasus lain, guru honorer harus mendekam di penjara setelah memberikan hukuman yang bersifat edukatif kepada anak seorang polisi (RMOL, 2024).

Kasus di SMAN 1 Cimarga menggambarkan bahwa ketika guru menjalankan fungsinya untuk mendisiplinkan siswa sebagai bagian dari proses pendidikan karakter, justru mendapat respons negatif. 

Ada pula dua guru di Luwu Utara yang diseret dalam proses hukum sebelum akhirnya dipulihkan namanya melalui keputusan Presiden (DetikNews, 2025).

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved