Breaking News
Rabu, 3 Juni 2026

Banjir Landa Aceh

Update Banjir dan Longsor di Aceh: 35 Korban Meninggal Dunia, 25 Orang Hilang

"Pengungsi di seluruh Aceh per sore ini kami data ada 4.846 KK (kepala keluarga), itu tersebar di seluruh kabupaten/kota Aceh," ujarnya.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
Serambinews.com/HO
EVAKUASI KORBAN BANJIR - Polres Lhokseumawe kembali mengerahkan perahu karet untuk mengevakuasi warga yang terjebak genangan, Kamis (27/11/2025).     
Ringkasan Berita:
  • Korban meninggal dunia akibat banjir dan tanah longsor di Aceh mencapai 35 jiwa per Jumat (28/11/2025) sore.
  • Informasi tersebut disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto dalam konferensi pers, Jumat.
  • Sementara 25 orang masih hilang dan 8 orang luka-luka akibat bencana tersebut.

 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Korban meninggal dunia akibat banjir dan tanah longsor di Aceh mencapai 35 jiwa per Jumat (28/11/2025) sore.

Informasi tersebut disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto dalam konferensi pers, Jumat.

"Untuk korban jiwa per sore ini, sementara yang terdata ada 35 jiwa yang meninggal dunia," ungkapnya.

Sementara 25 orang masih hilang dan 8 orang luka-luka akibat bencana tersebut.

"Pengungsi di seluruh Aceh per sore ini kami data ada 4.846 KK (kepala keluarga), itu tersebar di seluruh kabupaten/kota Aceh," ujarnya.

Suharyanto mengatakan jumlah korban tersebut masih berpotensi bertambah, mengingat proses penanganan bencana masih terus dilakukan.

Baca juga: Update Banjir dan Longsor Sumatra Utara: 116 Orang Meninggal, Tapteng Terdampak Paling Parah

Data Korban Meninggal Dunia

Berdasarkan keterangan Kepala BNPB, 35 korban meninggal dunia akibat banjir di Aceh tersebar di tujuh kabupaten/kota.

Adapun rinciannya sebagai berikut:

1. Bener Meriah: 11 orang meninggal dunia dan 13 hilang.

2. Aceh Tenggara: enam orang meninggal dunia, tujuh hilang, dan lima luka-luka.

3. Aceh Tengah: 15 orang meninggal dunia.

4. Gayo Lues: satu orang meningal dunia dan dua hilang.

5. Aceh Tamiang: tiga orang luka-luka.

6. Subulussalam: satu orang meninggal dunia.

7. Lhokseumawe: satu orang meninggal dunia dan tiga hilang.

Suharyanto menambahkan, untuk kabupaten/kota lainnya hingga saat ini masih dilakukan proses pendataan. Mengingat masih ada daerah yang belum dapat diakses akibat bencana.

"Ada beberapa kabupaten/kota yang masih terputus, baik kita datang dari utara, Lhokseumawe maupun dari Banda Aceh ini masih belum bisa tembus sampai seluruh kabupaten kota di Aceh," jelasnya.

Baca juga: Gubernur Aceh Mualem Resmi Tetapkan Status Darurat Bencana

 

Gubernur Mualem Tinjau Dampak Banjir Aceh

Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) meninjau sejumlah lokasi terdampak banjir pada Kamis (27/11/2025) sore hingga Jumat (28/11/2025) dini hari.

Peninjauan dilakukan tak lama setelah Mualem menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi di Aceh.

Pengumuman status darurat disampaikan Mualem di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).

Pada Kamis sore, rombongan bergerak dari Banda Aceh menuju Kabupaten Pidie.

Setibanya di sana selepas Maghrib, Mualem meninjau lokasi pengungsian di Meunasah Paga, Gampong Jojo, Kecamatan Mutiara Timur.

 
Untuk mencapai titik pengungsian, ia menyeberangi genangan dengan boat karet.

Di lokasi, Mualem menyerahkan bantuan tanggap darurat kepada para pengungsi.

Mualem mengaku prihatin dengan kondisi banjir yang melanda hampir seluruh wilayah Aceh.

"Sungguh memprihatinkan, banjir bukan satu titik, hampir seluruh Aceh. Mudah-mudahan masyarakat dapat bersabar. Sementara ini bantuan sembako kami salurkan ke seluruh, ini kewajiban kami Pemerintah Aceh," kata Mualem dalam keterangannya, Jumat (28/11/2025).

Selain menyalurkan bantuan darurat, Mualem turut meminta pemerintah kabupaten/kota memperbarui data kondisi banjir secara berkala.

Pemerintah Aceh, kata dia, akan mengoordinasikan distribusi logistik ke titik-titik paling terdampak.

Wakil Bupati Pidie, Alzaizi, menyebut kondisi banjir di daerahnya mulai berangsur surut.

Namun, masih banyak warga yang memilih bertahan di tempat pengungsian, terutama di meunasah-meunasah desa.

"Pidie sudah direndam banjir sejak kemarin, hari ini kondisi banjir menurun dan curah hujan pun sudah sedikit menurun. Hampir 13 kecamatan di Kab Pidie terendam banjir. Titik pengungsi sangat banyak karena rata-rata masyarakat mengungsi di meunasah desa masing-masing," kata Alzaizi.

Alzaizi menyebutkan, persediaan bantuan yang dimiliki pemerintah kabupaten kini sangat terbatas.


“Pemkab Pidie sudah menyalurkan bantuan masa panik dan saat ini stok di kami sudah kosong,” ucapnya.

Baca juga: Tinjau Lokasi Banjir di 3 Gampong, Wali Kota Lhokseumawe Serahkan Bantuan Darurat

Usai meninjau titik pengungsian banjir di Kabupaten Pidie, Mualem melanjutkan perjalanan darat menuju Kabupaten Pidie Jaya pada malam harinya.

Setiba di Meureudu, rombongan disambut Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi.

Dari pusat kabupaten, mereka bergerak menuju Gampong Blang Awee, Kecamatan Meureudu.

Di tempat itu, banjir bandang menerjang permukiman warga hingga menyebabkan kerusakan parah.

Kampung yang berada tepat di tepi aliran sungai itu tampak porak-poranda.

Rumah warga, bangunan sekolah, hingga masjid rusak berat bahkan hanyut terbawa arus.

Mualem bersama rombongan juga meninjau ke titik pengungsian di Masjid Meunasah Manyang, Meureudu.

Ia menyerahkan bantuan tanggap darurat berupa kebutuhan pokok bagi para pengungsi.

Mualem menegaskan bahwa pemerintah tidak akan meninggalkan masyarakat dalam kondisi sulit seperti saat ini.

"Kami akan terus hadir membantu warga sampai kondisi pulih. Pemerintah Aceh memastikan bantuan tidak terputus,” kata Mualem.

Baca juga: VIDEO - Saat Banjir Menerjang Seunong Pidie Jaya, Rumah dan Sekolah Lenyap

Kondisi Darurat

Dari Pidie Jaya, Mualem dan rombongan bergerak ke arah timur utara Aceh.

Namun, begitu memasuki Kabupaten Bireuen, pada Jumat (28/11/2025) dini hari, sinyal telepon seluler langsung hilang dan komunikasi terputus total.

Perjalanan melalui jalur darat terhenti di Kuta Blang, Bireuen.

Jembatan rangka baja di jalur lintas nasional Banda Aceh–Medan di lokasi itu putus total akibat banjir besar yang melanda sejak Rabu (26/11/2025).


Mualem berupaya mencari jalur alternatif menuju Lhokseumawe, di antaranya melalui Gampong Blang Panjoe, Kecamatan Peusangan.

Namun, jembatan di kawasan itu juga putus.

Menurut warga, empat jembatan penghubung ke arah Lhokseumawe seluruhnya lumpuh.

"Kami melihat kondisi di lapangan memang sangat darurat. Akses transportasi tidak bisa dilalui. Pemerintah Aceh akan mengerahkan segala kemampuan untuk membuka akses ini secepat mungkin," kata Mualem.

Mualem menegaskan bahwa daerah-daerah yang terisolasi menjadi prioritas penanganan darurat.

"Yang paling penting sekarang adalah memastikan bantuan sampai ke warga. Semua instansi terkait saya minta bergerak cepat," tegasnya.

Rombongan kemudian terpaksa kembali ke pusat Kota Bireuen dan bermalam di sana.

Pada Jumat pagi, Mualem memutuskan kembali ke Banda Aceh karena akses menuju wilayah Lhokseumawe putus total dan tidak ada jaringan komunikasi yang dapat digunakan untuk koordinasi.

Keuchik Blang Panjoe, M Ruslan Abdul Gani, mengatakan banjir yang terjadi menyebabkan warga sangat terpukul.

"Akibat banjir kemarin kami mengalami banyak rumah yang tenggelam sampai mencapai tiga meter. Akses lorong-lorong antar­kecamatan juga tertutup lumpur setinggi 1 sampai 1,5 meter," ujar Ruslan.

Warga mengungsi di meunasah. Total terdapat 168 KK atau 658 jiwa yang bertahan di lokasi tersebut.

"Dua desa lain juga mengungsi ke sini, termasuk Desa Pante Lhong, 350 KK atau 1.400 jiwa," kata dia.

Menurut Ruslan, hingga Jumat dini hari warga belum sama sekali mendapat bantuan logistik.

"Kami kekurangan makanan dan air bersih. Belum ada bantuan yang tiba ke sini," ujarnya.

"Ini Kecamatan Peusangan, di seberang sana ada Kecamatan Peusangan Siblah Krueng. Dari pagi kejadian kemarin sampai hari ini tidak ada kontak dengan kecamatan di seberang. Kami sama sekali tidak tahu tetangga bagaimana," tambahnya.

Ruslan menyebut, kondisi di wilayah seberang justru lebih rendah permukaan tanahnya sehingga kemungkinan dampak banjir lebih parah.

"Semua akses terputus, termasuk komunikasi. Kami belum tahu kondisi di sana," ujarnya.

 

Baca juga: VIDEO Detik-detik Jembatan Kembar Padang Panjang Tersapu Banjir Bandang

Baca juga: Dinsos Abdya Salurkan 200 Paket Bahan Pokok untuk Abang Becak dan Nelayan

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved