Timur Tengah
Menunggu 17 Tahun, Ayah di Gaza Kehilangan Bayinya karena Alami Kedinginan
Seorang bayi Palestina berusia enam bulan meninggal dunia di Jalur Gaza di tengah krisis kemanusiaan yang kian memburuk akibat kehancuran
Ringkasan Berita:
- Youssef merupakan satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga itu, dengan enam kakak perempuan. Ayahnya, Omar Abu Hammad, menyebut kehadiran Youssef sebagai anugerah setelah 17 tahun menanti kelahiran seorang putra.
- Keluarga Abu Hammad merupakan pengungsi yang tinggal di dekat lokasi pembuangan limbah di Khan Younis. Omar mengatakan permohonan bantuan berupa susu bayi dan popok yang diajukan berulang kali selama beberapa bulan terakhir tidak pernah mendapat respons.
SERAMBINEWS.COM - Seorang bayi Palestina berusia enam bulan meninggal dunia di Jalur Gaza di tengah krisis kemanusiaan yang kian memburuk akibat kehancuran dan blokade Israel, yang mengubah musim dingin menjadi ancaman mematikan bagi anak-anak.
Bayi tersebut, Youssef Abu Hammad, meninggal pada Kamis di Khan Younis, Gaza selatan. Menurut keterangan medis, ia wafat akibat pendarahan disertai hipotermia dan dehidrasi setelah terpapar udara tercemar dari limbah di sekitar tempat pengungsian keluarganya.
Youssef merupakan satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga itu, dengan enam kakak perempuan. Ayahnya, Omar Abu Hammad, menyebut kehadiran Youssef sebagai anugerah setelah 17 tahun menanti kelahiran seorang putra.
Keluarga Abu Hammad merupakan pengungsi yang tinggal di dekat lokasi pembuangan limbah di Khan Younis. Omar mengatakan permohonan bantuan berupa susu bayi dan popok yang diajukan berulang kali selama beberapa bulan terakhir tidak pernah mendapat respons.
Pada hari yang sama, seorang bayi lain bernama Ali Abo al-Zour yang berusia tiga bulan juga meninggal dunia dalam kondisi serupa.
Baca juga: Agenda ‘Imperialis’ ala Trump: Ini Rencana Pembangunan Gaza yang Dipaparkan di Davos
Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan, dengan dua kematian tersebut, jumlah anak yang meninggal akibat hipotermia sejak awal musim dingin meningkat menjadi 10 orang.
Setelah hampir dua tahun pengeboman, pasukan Israel dilaporkan telah menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur Gaza sejak Oktober 2023. Kondisi ini memaksa sebagian besar penduduk mengungsi ke tenda-tenda darurat yang tidak layak dan tanpa pemanas memadai.
Israel juga memberlakukan pembatasan ketat terhadap masuknya bantuan kemanusiaan, termasuk makanan, obat-obatan, bahan bakar, tenda, serta perlengkapan penting lainnya.
Pada Oktober lalu, Israel dan Hamas menandatangani perjanjian gencatan senjata yang bertujuan mengakhiri perang dan melonggarkan kebijakan di Gaza. Namun, lebih dari tiga bulan setelah perjanjian tersebut berlaku, Israel disebut terus melanggar kesepakatan dengan tetap menutup perbatasan dan hanya mengizinkan bantuan dalam jumlah sangat terbatas.
Tenda, rumah mobil, dan perlengkapan pemanas hingga kini masih dilarang masuk ke wilayah tersebut.
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, Munir al-Bursh, menyebut kondisi Gaza sebagai krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Kematian di Gaza tidak lagi semata-mata akibat pemboman. Kini orang-orang meninggal karena kedinginan, kelaparan, ketiadaan tempat berlindung, dan kurangnya obat-obatan,” kata al-Bursh kepada Al Jazeera Mubasher.
Ia menegaskan bahwa situasi ini bukan bencana alam, melainkan bencana kemanusiaan buatan manusia akibat pendudukan, pengepungan, perang, serta kebungkaman komunitas internasional.
Sementara itu, media setempat melaporkan bahwa pada Sabtu, serangan pesawat tak berawak Israel menewaskan dua anak di Gaza utara.
Gencatan senjata yang disepakati pada Oktober lalu dimaksudkan untuk menghentikan genosida selama dua tahun di Gaza, yang menewaskan lebih dari 71.000 warga Palestina. Namun, sejak perjanjian tersebut berlaku, lebih dari 481 warga Palestina kembali dilaporkan tewas akibat tindakan pasukan Israel.(*)
| Dokter MSF Ungkap Pembantaian Israel di Lebanon: Anak-anak Terluka, Ibu Hilang, Ribuan Warga Diusir |
|
|---|
| Tak Ada Solusi Israel Stres Hadapi Drone Murah Hizbullah, Korban Tentara Terus Bertambah |
|
|---|
| Air Bersih Kian Langka, Warga Gaza Bertaruh Nyawa Demi Setetes Kehidupan |
|
|---|
| Drone Hizbullah Bunuh Otak Penghancur Rumah-rumah di Lebanon Selatan |
|
|---|
| Taktik Perang Baru, Drone Kabel Optik Hizbullah Sulit Dicegat, Korban Tentara IDF Terus Berjatuhan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Anak-anak-gaza-87.jpg)