Senin, 4 Mei 2026

Berita Internasional

Mojtaba Khamenei Terpilih Jadi Pemimpin Iran, Ini Makna di Balik Nama Mojtaba, Simbolis Kekuasaan

Media Iran  melaporkan bahwa Mojtaba Khamenei disebut telah dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru oleh Majelis Ahli,

Tayang:
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Nurul Hayati
Tangkapan layar/WIKIMEDIA COMMONS via WION
Mojtaba Khamenei (kanan), putra dari mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (kiri).(WIKIMEDIA COMMONS via WION) 

Mojtaba Khamenei Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Ini Makna di Balik Nama Mojtaba dan Simbolisme Kekuasaan di Iran

SERAMBINEWS.COM- Media Iran  melaporkan bahwa Mojtaba Khamenei disebut telah dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru oleh Majelis Ahli, menggantikan ayahnya, Ali Khamenei.

Laporan yang dikutip The New York Times dari tiga pejabat yang mengetahui diskusi penyusunan keputusan menyebutkan bahwa pertemuan Majelis Ahli berlangsung secara tertutup dan intens, dengan tekanan kuat dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) turut memengaruhi proses pemilihan Mojtaba sebagai pemimpin baru.

Komite tersebut diyakini berupaya menjaga stabilitas rezim di tengah ketiadaan figur tertinggi setelah kematian Ali Khamenei

Mojtaba, yang kini berusia 56 tahun, sejak lama dipandang sebagai salah satu figur berpengaruh di balik layar dalam politik Iran, meskipun ia tidak pernah memegang jabatan publik tinggi sebelum ini.

Baca juga: Gelombang Serangan ke-16 Iran Hancurkan Kota Besar Israel, Pasukan Darat IRGC Turun ke Medan Perang

Hubungannya yang erat dengan IRGC lembaga militer kuat yang memainkan peran besar dalam keputusan politik dan keamanan negara diperkirakan menjadi salah satu faktor kuat yang mendukung pencalonannya dalam proses pemilihan.

Kabar mengenai terpilihnya Mojtaba juga memunculkan reaksi beragam di dalam negeri maupun dari komunitas internasional, di tengah ketidakpastian politik dan ketegangan militer yang terus meningkat di wilayah tersebut.

Para analis menilai seleksi ini dapat berdampak pada arah kebijakan luar negeri Iran, terutama hubungan dengan AS, Israel, dan aliansi regional lainnya di tengah konflik yang masih berlangsung.

Di tengah dinamika politik dan konflik kawasan yang memanas, perhatian publik tak hanya tertuju pada proses politiknya, tetapi juga pada makna nama “Mojtaba” yang sarat simbolisme religius.

Baca juga: Mojtaba Khamenei Dilaporkan Terpilih Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran Gnatikan Sang Ayah

Makna di Balik Nama Mojtaba

Melansir berbagai sumber yang didapat Serambinews, secara etimologis, Mojtaba berasal dari bahasa Arab al-Mujtaba (المجتبى), yang berarti “yang terpilih”, “yang dipilih”, atau “yang diutamakan”.

Kata ini berakar dari huruf J-B-Y, yang merujuk pada makna seleksi atau pemilihan secara khusus.

 Dalam tradisi Islam, istilah tersebut memiliki konotasi spiritual mendalam karena sering dimaknai sebagai “yang dipilih oleh Tuhan” atau sosok yang diseleksi untuk kehormatan tertentu.

Nama ini bukan sekadar identitas personal, melainkan juga mengandung bobot sejarah dan teologis.

“Al-Mujtaba” merupakan gelar dari Hasan ibn Ali, cucu Nabi Muhammad SAW yang dikenal dalam tradisi Syiah dan Sunni sebagai figur mulia yang mengedepankan perdamaian.

Baca juga: Jenazah Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei Akan Dimakamkan di Kota Suci Mashhad dengan Upacara Besar

 Dalam sejarah Islam, Imam Hasan dikenang karena langkahnya menjaga stabilitas umat melalui perjanjian damai, yang kemudian memperkuat citranya sebagai sosok yang bijak dan terhormat.

Di kalangan masyarakat Muslim, nama Mojtaba cukup populer karena nuansa spiritualnya.

Nama ini sejalan dengan sejumlah nama lain yang memiliki arti serupa, seperti Mustafa gelar yang juga dilekatkan kepada Muhammad yang sama-sama bermakna “yang terpilih”.

Dalam konteks politik Iran, simbolisme nama ini menjadi menarik.

 Sistem Republik Islam Iran dibangun di atas fondasi teokrasi Syiah, di mana legitimasi kepemimpinan kerap dikaitkan dengan otoritas religius dan simbol keagamaan.

 Makna “yang terpilih” dapat dimaknai secara spiritual, tetapi juga memiliki dimensi politik ketika dikaitkan dengan proses pemilihan pemimpin tertinggi negara.

Transisi kepemimpinan dari ayah ke anak, jika benar terjadi, juga memunculkan perbincangan tersendiri karena Iran selama ini dikenal sebagai negara yang mengkritik sistem monarki turun-temurun.

Baca juga: Sosok Mojtaba Khamenei, Putra Ali Khamenei yang Disebut Jadi Penerus Pimpinan Tertinggi Iran

(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)
 
 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved