Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Internasional

Iran Siap Hadapi Serangan Baru AS, Ancam Beri Balasan Keras dan Mematikan

Iran memperingatkan akan membalas keras jika AS melancarkan serangan baru, meski gencatan senjata masih berlaku sejak April.

Tayang:
Editor: Saifullah
Image created by ChatGPT
SIAGA PERANG - Ilustrasi ketegangan Iran dan Amerika Serikat. Militer Iran dalam kondisi siaga perang dan siap menghadapi ancaman serangan baru dari Amerika Serikat. 

Ringkasan Berita:
  • Iran memperingatkan akan membalas keras jika AS melancarkan serangan baru, meski gencatan senjata masih berlaku sejak April.
  • Teheran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas blokade laut AS, memicu lonjakan harga energi global.
  • Negara-negara Teluk bereaksi keras, sementara AS belum memastikan langkah selanjutnya, membuat stabilitas kawasan semakin rapuh.

 

Iran memperingatkan akan membalas keras jika AS melancarkan serangan baru, meski gencatan senjata masih berlaku sejak April.

SERAMBINEWS.COM, TEHERAN - Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Iran mengeluarkan ancaman balasan keras terhadap Amerika Serikat (AS).

Ancaman ini muncul di tengah kabar bahwa Washington menyiapkan skenario serangan baru, meski gencatan senjata antara kedua pihak masih berlaku sejak awal April.

Situasi semakin rumit karena Iran tetap menutup Selat Hormuz sebagai respons atas blokade laut AS, langkah yang berdampak besar pada pasokan energi global dan memicu lonjakan harga minyak.

Bagi Teheran, penutupan selat dianggap sah menurut hukum internasional. 

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei menegaskan, bahwa tindakan tersebut adalah bentuk pembelaan hak negara.

Ia juga menuding AS dan sekutunya di Teluk mengeksploitasi jalur air strategis itu.

Iran bahkan mengisyaratkan kemungkinan serangan terhadap aset militer AS di kawasan, memperingatkan bahwa balasan akan “panjang dan menyakitkan” jika serangan baru benar-benar terjadi.

Baca juga: Iran Kerahkan Sistem Pertahanan Udara Usai Deteksi Drone Pengintai di Teheran

Ancaman Iran memicu reaksi keras dari negara-negara Teluk. 

Uni Emirat Arab (UEA) melarang warganya bepergian ke Iran, Lebanon, dan Irak, serta meminta mereka segera kembali.

Bahrain melalui Raja Hamad bin Isa Al Khalifa mengecam Teheran karena dianggap mengancam keamanan negaranya.

Ia bahkan memperingatkan adanya hukuman berat bagi pihak internal yang dianggap berkolaborasi dengan Iran.

Sikap ini menunjukkan bahwa ketegangan tidak hanya terjadi antara AS dan Iran, tetapi juga melibatkan dinamika politik domestik di negara Teluk.

Di sisi lain, AS belum memastikan apakah akan melanjutkan serangan. 

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved