Minggu, 19 April 2026

AS dan Israel Serang Iran

Iran Tantang AS Kerahkan Pasukan Darat: “Kami Menunggu”

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan negaranya siap menghadapi kemungkinan invasi darat oleh Amerika Serikat di tengah meningkatnya

Editor: Ansari Hasyim
IRNA
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi 

SERAMBINEWS.COM - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan negaranya siap menghadapi kemungkinan invasi darat oleh Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi AS NBC, Araghchi bahkan menantang Washington untuk mengirimkan pasukan darat.

“Saksikan saja. Kami menunggu pasukan darat Anda,” kata Araghchi dalam pernyataannya.

Pernyataan tersebut muncul saat konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus memanas.

Sejumlah analis memperkirakan Washington dapat meningkatkan operasi militernya terhadap Iran dalam beberapa hari mendatang. 

Baca juga: AS Klaim Hancurkan Kapal Induk Drone Iran IRIS Shahid Bagheri

Namun hingga kini masih belum jelas apakah langkah tersebut akan mencakup pengerahan pasukan darat.

Jika hal itu terjadi, tujuan operasi militer tersebut diperkirakan tidak hanya menekan kemampuan militer Iran, tetapi juga berpotensi menggulingkan kepemimpinan di Teheran.

Ketegangan antara kedua negara terus meningkat setelah serangkaian serangan dan ancaman balasan yang memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.

Pentagon mengonfirmasi jumlah korban jiwa tentara Amerika Serikat dalam operasi militer melawan Iran bertambah menjadi empat orang. 

Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam pengarahan resmi terbaru kepada wartawan, Senin (2/3/2026).

Hegseth menjelaskan bahwa sebagian besar ancaman yang masuk ke arah pasukan AS berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.

Namun, satu serangan dilaporkan mampu menembus lapisan pertahanan dan menghantam pusat operasi taktis yang disebutnya sebagai fasilitas “dibentengi”.

Menurutnya, senjata yang digunakan dalam serangan tersebut tergolong sangat kuat atau “powerful”, sehingga mampu menyebabkan kerusakan signifikan meski berada di bawah perlindungan sistem pertahanan berlapis.

“Sebagian besar proyektil berhasil kami netralisir. Namun ada satu yang berhasil menembus dan menghantam pusat operasi taktis,” ujar Hegseth.

Militer AS sebelumnya telah menyampaikan bahwa empat personel dinas tewas dalam rangkaian operasi yang sedang berlangsung.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved