Kamis, 9 April 2026

AS dan Israel Serang Iran

Iran Hancurkan Radar Utama THAAD AS di Yordania

Citra satelit mengungkap bahwa sistem radar kunci yang digunakan dalam jaringan pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD)

Editor: Ansari Hasyim
Tangkapan layar/Lockheed Martin
RUDAL - Sistem pertahanan udara THAAD atau Terminal High Altitude Area Defense. 

SERAMBINEWS.COM - Citra satelit mengungkap bahwa sistem radar kunci yang digunakan dalam jaringan pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) milik Amerika Serikat dihancurkan dalam serangan Iran pada hari-hari awal perang. Hal ini dilaporkan NDTV dengan mengutip seorang pejabat Amerika Serikat.

Menurut laporan yang mengacu pada citra satelit komersial tersebut, sistem radar AN/TPY-2 yang diproduksi oleh RTX Corporation menjadi sasaran serangan di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania.

Radar tersebut memiliki peran penting dalam mengarahkan intersepsi rudal THAAD dan diperkirakan bernilai sekitar 300 juta dolar AS.

Baca juga: Israel Diduga Miliki 90 Rudal Nuklir, Pernah Lakukan Uji Coba Tahun 1979

Seorang pejabat Amerika Serikat kemudian mengonfirmasi penghancuran peralatan tersebut. Radar itu merupakan komponen penting dari infrastruktur pertahanan rudal Washington yang dikerahkan di berbagai wilayah Asia Barat.

Data yang dikumpulkan oleh kelompok pemantau yang berbasis di AS menunjukkan bahwa dua serangan Iran menargetkan lokasi di Yordania pada 28 Februari dan 3 Maret. Pada saat kejadian, laporan awal menyebutkan serangan tersebut berhasil dicegat.

Peran Strategis Radar AN/TPY-2

Sistem THAAD dirancang untuk mencegat rudal balistik di ketinggian tinggi, sering kali di dekat tepi atmosfer. Kemampuan ini memungkinkan sistem tersebut menghadapi ancaman yang berada di luar jangkauan sistem pertahanan jarak pendek, seperti baterai pertahanan udara Patriot.

Dengan radar AN/TPY-2 kini tidak lagi beroperasi, tanggung jawab intersepsi rudal di kawasan tersebut diperkirakan akan lebih banyak dibebankan kepada sistem Patriot. Namun, stok rudal pencegat PAC-3 dilaporkan sudah berada di bawah tekanan seiring meningkatnya intensitas perang.

Amerika Serikat saat ini mengoperasikan delapan baterai THAAD di berbagai wilayah dunia, termasuk di Korea Selatan dan Guam. Setiap baterai bernilai sekitar 1 miliar dolar AS, dengan radar menyumbang sekitar sepertiga dari total nilai sistem.

Satu baterai THAAD umumnya terdiri dari enam peluncur bergerak yang membawa hingga 48 rudal pencegat, satu unit radar TPY-2, serta sistem pengendalian tembakan dan komunikasi taktis. Sistem ini dioperasikan oleh sekitar 90 personel. Setiap rudal pencegat yang diproduksi oleh Lockheed Martin diperkirakan menelan biaya sekitar 13 juta dolar AS.

Beberapa Sistem Radar AS Dilaporkan Terdampak

Serangan di Yordania bukan kali pertama infrastruktur radar Amerika Serikat di kawasan tersebut dilaporkan menjadi sasaran.

Sebelumnya, radar peringatan dini AN/FPS-132 di Qatar juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan Iran. Berbeda dengan radar THAAD yang bersifat mobile, instalasi ini merupakan sistem deteksi jarak jauh permanen yang dirancang untuk mengidentifikasi ancaman dari jarak sangat jauh, namun tidak berfungsi untuk memandu rudal pencegat.

Penargetan berulang terhadap sistem-sistem tersebut menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap jaringan pertahanan udara dan rudal milik AS serta sekutunya di kawasan. Infrastruktur ini menghadapi gelombang serangan drone dan rudal balistik selama operasi balasan Iran.

Perang Memicu Gangguan Regional

Di tengah tekanan dan sanksi internasional, Iran dinilai tetap menunjukkan kemampuan signifikan dalam menyerang target musuh serta infrastruktur regional.

Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, serta operasi balasan dari Teheran, telah menimbulkan dampak luas di kawasan dan dunia.

Menurut laporan Fortune, lebih dari 23.000 penerbangan di seluruh dunia telah dibatalkan sejak serangan balasan pertama Iran. Selain itu, akses internet di Iran dilaporkan terganggu selama enam hari berturut-turut, sehingga menyulitkan komunikasi dan pemantauan internasional.

Iran Perluas Konflik ke Ranah Siber dan Ekonomi

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved