Minggu, 10 Mei 2026

Konflik Amerika vs Iran

Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru, Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam

Harga minyak dunia dilaporkan melonjak tajam setelah Iran menunjuk pemimpin tertinggi yang baru di tengah konflik

Tayang:
Editor: Amirullah
Kompas.com
Ayatollah Mojtaba Khamenei, anak Ali Khamenei, resmi terpilih menjadi pemimpin tertinggi baru Iran, Senin (9/3/2026 

Investor dan pedagang minyak pun mulai memperhitungkan kemungkinan gangguan terhadap produksi maupun distribusi minyak global.

Ketidakpastian politik di kawasan tersebut akhirnya menjadi salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan harga minyak dunia dalam waktu singkat.

Baca juga: Alhamdulillah! THR PNS 2026 Sudah Dicairkan Secara Bertahap, Cek Besaran dan Komponennya

Ketegangan di Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasokan

Selain perubahan kepemimpinan Iran, lonjakan harga minyak juga dipicu oleh situasi di Strait of Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi salah satu titik terpenting dalam perdagangan energi dunia.

Konflik bermula pada 28 Februari 2026 ketika Israel, dengan dukungan militer Amerika Serikat, melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah fasilitas strategis di Iran.

Operasi militer tersebut menargetkan berbagai kota penting seperti Teheran, Isfahan, dan Qom dengan ratusan pesawat tempur dan rudal jelajah.

Israel berasalasan serangan dilancarkan karena Iran tidak menunjukkan itikad cukup untuk memenuhi tuntutan utama Washington, terutama terkait penghentian total pengayaan uranium.

Sebaliknya, Iran tetap bersikukuh bahwa program nuklirnya bertujuan untuk kebutuhan energi sipil dan menolak tuntutan penghentian total sebagai syarat yang berlebihan.

Sebagai balasan, Iran segera melancarkan serangan balik menggunakan rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Di tengah meningkatnya konfrontasi militer, Iran mengambil langkah strategis dengan menekan jalur perdagangan energi global.

Pasukan elit Iran, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal komersial agar tidak melintas di Selat Hormuz.

Selat Hormuz dilaporkan dilalui sekitar 20 juta barel minyak setiap hari, atau hampir seperlima dari total perdagangan minyak global. Ketika jalur ini terganggu, pasar energi dunia biasanya langsung bereaksi.

Penutupan ini membuat pelaku pasar khawatir terhadap potensi gangguan pasokan minyak dalam jangka panjang.

Tanpa kepastian kapan jalur tersebut akan kembali normal, para pedagang minyak memperkirakan harga energi dapat terus mengalami tekanan naik.

Dengan situasi politik yang belum stabil dan kepemimpinan baru di Iran, pasar energi diperkirakan tetap volatile.

Analis teknikal Reuters memperkirakan lonjakan harga bahkan dapat melesat naik, tembus ke kisaran 120 dolar AS hingga 128 dolar AS atau sekitar Rp2.16 juta per barel dalam waktu dekat.

Baca juga: Keutamaan Shalat Tarawih Pada Malam ke-20 Ramadhan: Mendapat Pahala Seperti Pahala Orang Mati Syahid

Dampak Langsung ke Ekonomi Global

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved