Kamis, 23 April 2026

AS dan Israel Serang Iran

WHO Siaga Tinggi Kemungkinan Ledakan Bom Nuklir di Iran

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui tengah bersiap menghadapi skenario paling mengerikan: kemungkinan penggunaan senjata nuklir

Editor: Ansari Hasyim
(Flickr)
Ilustrasi bom nuklir gravitasi AS B61 

SERAMBINEWS.COM – Ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah kini memicu kekhawatiran global. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui tengah bersiap menghadapi skenario paling mengerikan: kemungkinan penggunaan senjata nuklir dalam konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur, Hanan Balkhy, mengungkapkan bahwa pihaknya berada dalam status siaga tinggi menyusul keputusan Presiden AS, Donald Trump, yang melancarkan serangan terhadap Iran bersama Israel.

“Skenario terburuk adalah insiden nuklir, dan itu yang paling kami khawatirkan,” ujar Balkhy. 

Baca juga: Trump Beri Sinyal Akhiri Perang Iran, Tapi Serangan ke Fasilitas Nuklir Natanz Picu Ketegangan Baru

Ia menegaskan, dampak dari peristiwa semacam itu tidak hanya menghancurkan dalam jangka pendek, tetapi juga dapat berlangsung puluhan tahun dan memengaruhi kesehatan manusia secara global.

WHO bersama lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kini telah menyiapkan berbagai langkah darurat. 

Mulai dari pelatihan respons insiden nuklir, hingga panduan penanganan paparan radiasi bagi tenaga medis dan masyarakat.

“Semua skenario kami pertimbangkan, termasuk serangan terhadap fasilitas nuklir. Namun tentu saja, kami berharap itu tidak pernah terjadi,” tambah Balkhy.

Ia juga mengingatkan bahwa sejarah telah memberi pelajaran pahit tentang dampak nuklir baik dari kecelakaan maupun penggunaan dalam perang yang meninggalkan efek jangka panjang terhadap kesehatan dan lingkungan.

Di tengah kekhawatiran tersebut, operasi militer yang dinamai Operation Epic Fury terus berlangsung sejak 28 Februari. 

Operasi ini diklaim bertujuan melumpuhkan kemampuan Iran dalam mengembangkan senjata nuklir, sebagaimana ditegaskan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine.

Namun, tidak semua pejabat AS sejalan. Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional, Joe Kent, memilih mundur karena menolak mendukung perang tersebut. 

Ia menilai Iran tidak memberikan ancaman langsung bagi Amerika Serikat.

Sementara itu, Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, mengklaim serangan sebelumnya telah menghancurkan program pengayaan nuklir Iran. 

Ia bahkan menyebut fasilitas bawah tanah telah ditutup permanen.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved