Usai Libur Lebaran, KPAI Ingatkan Sekolah Jangan Langsung Bebani Siswa dengan Materi Berat
Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI menekankan pentingnya masa transisi psikologis bagi siswa setelah libur Lebaran sebelum kembali
Ringkasan Berita:
- Wakil Ketua KPAI Jasra Putra menegaskan siswa membutuhkan fase adaptasi sebelum menerima materi berat.
- Sekolah dianjurkan menggunakan metode reflektif seperti storytelling tentang pengalaman mudik untuk membangun koneksi emosional siswa.
- Pendekatan ini sejalan dengan arahan Abdul Mu'ti yang mendorong pembelajaran menyenangkan dan berbasis pengalaman kehidupan.
Â
SERAMBINEWS.COM - Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI menekankan pentingnya masa transisi psikologis bagi siswa setelah libur Lebaran sebelum kembali ke rutinitas belajar.Â
Sekolah diimbau menciptakan suasana yang menyenangkan dan adaptif agar siswa dapat kembali belajar tanpa tekanan, sekaligus memanfaatkan pengalaman liburan sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Intinya KPAI mengingatkan agar sekolah tidak langsung membebani siswa dengan materi yang berat setelah libur Idul Fitri 1447 Hijriah/2026.
Wakil Ketua KPAI Jasra Putra mengatakan, setelah liburan siswa akan mengalami masa transisi psikologis dari masa liburan ke belajar di sekolah.
"KPAI mengingatkan pentingnya masa transisi belajar secara psikologis, bahwa anak-anak membutuhkan fase transisi dari suasana liburan menuju kesiapan kognitif untuk belajar," kata Jasra dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (26/3/2026).
"Kesadaran ini harus menjadi motivasi para pengajar, sebelum mereka benar benar siap memasuki rutinitas sekolah.
Sekolah diharapkan tidak langsung membebani siswa dengan intensitas materi yang berat," lanjut dia.
Baca juga: Zahran, Mahasiswa asal Aceh Diundang PBB Bicara soal Pengentasan Konflik di Swiss, Ini yang Dibahas
Bangun Konektivitas EmosionalÂ
Menurut Jasra, setelah liburan diperlukan kondisi yang kondusif di sekolah dengan membangun konektivitas emosional seperti menggunakan metode belajar storytelling.
Materi yang dibahas bisa seputar pengalaman mudik di kampung halaman.
Hal ini dinilai Jasra akan efektif membantu siswa kembali ke sekolah tanpa tekanan.
"Seperti metode belajar reflektif dan metode bercerita (storytelling) mengenai pengalaman mudik di kampung halaman dapat menjadi instrumen transisi yang efektif, sehingga anak-anak bisa masuk kembali ke dunia belajarnya tanpa tekanan," ujarnya.
Jasra juga menilai, mudik bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi ritual penguatan kohesi sosial dan akar identitas budaya.
Baca juga: VIDEO SAKSI KATA - Remuknya Mobil Wartawan Serambi Misran, Ini Cerita Dibalik Kecelakaannya
Saat mudik, anak-anak baru saja menyerap nilai-nilai tradisi, kekerabatan, dan kearifan lokal langsung dari sumbernya.
"Kekayaan pengalaman empiris ini, sangat baik untuk digali menjadi potensi awal pembelajaran, idealnya diakomodasi oleh para guru sebagai bagian dari interaksi di kelas, sehingga anak merasa pengalaman sosialnya dihargai dan relevan dengan lingkungan sekolahnya," ungkapnya.
Pendekatan pembelajaran seperti ini, kata Jasra juga sangat sejalan dengan arahan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, yang memandang momentum libur Lebaran sebagai kelas kehidupan.
| HIMAKO Unimal Gelar Pelatihan Humas dan Media Sosial |
|
|---|
| Pemkab Bireuen Gelar Musrenbang RKPK Program Kerja 2027, Ini Harapan Wabup |
|
|---|
| Usai Resmikan Kemenhaj Aceh Jaya, Bupati Safwandi dan Istri Daftar Haji |
|
|---|
| TNI Sigap Bantu Warga Bongkar Rumah Terdampak Banjir dan Longsor di Galus |
|
|---|
| BI Lhokseumawe Ajak Mahasiswa PNL Cinta, Paham, dan Bangga Rupiah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/belajar-26032026.jpg)